TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Profil Otto von Bismarck, Lelaki Ateis yang Menyatukan Jerman 

Menganut gaya diplomasi yang kerap menyulut perang

Otto von Bismarck, Kanselir Jerman (Wikipedia.org/Evert Duykinck)

Jakarta, IDN Times - Otto von Bismarck adalah salah satu politikus Jerman yang juga dianggap sebagai sosok pahlawan nasional. Dia berhasil menyatukan Jerman pada tahun 1871, mengelola negara tersebut sebagai seorang Kanselir dan mempertahankan perdamaian selama belasan tahun.

Peta wilayah modern Jerman saat ini adalah hasil arsitektur dari Bismarck, yang berhasil menumbangkan lawan-lawannya guna menyatukan seluruh Jerman. Kekuatan utama yang diakui dari Bismarck adalah kemampuan cerdasnya dalam diplomasi.

Sebagai Kanselir, Bismarck dinilai jenius karena memiliki kemampuan mempertahankan ketegangan negara-negara saingan demi kepentingan Jerman. Nama Bismarck banyak diabadikan sebagai nama jalan, alun-alun, bahkan Laut Bismarck yang terletak di sebelah utara utara Papua Nugini.

Berikut ini adalah profil Otto von Bismarck, lelaki yang berhasil menyatukan dan memodernisasi Jerman.

1. Putra dari keluarga tuan tanah yang jadi diplomat

ilustrasi (Unsplash.com/Norbert Braun)

Nama lengkapnya Otto Eduard Leopold von Bismarck. Dia lahir pada 1 April 1815 di perkebunan keluarganya di Schonhausen, barat Berlin. 

Ayahnya adalah Karl Wilhelm Ferdinand von Bismarck dan ibunya bernama Wilhelmine Luise Mencken.

Menurut New World Encyclopedia, ayah Bismarck adalah tuan tanah dan mantan seorang perwira militer Prusia. Sedangkan ibunya berasal dari keluarga biasa yang kaya. Hidup di lingkungan seperti itu, Otto von Bismarck mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan terjamin.

Bismarck pernah mendaftar di Universitas Georg Agustus Gottingen. Tapi dia hanya bertahan selama satu tahun. Dia kemudian mendaftar di Universitas Friedrich Wilhelm Berlin dengan niat menjadi diplomat.

Dia akhirnya mendapatkan pekerjaan tapi dalam posisi administratif yang kecil di Aachen dan Postdam. Pada akhirnya, pekerjaan itu dinilai monoton dan tidak menarik. Dia kerap mengabaikan tugas resminya dan pergi meninggalkan pekerjaan pada usia 24 tahun.

Baca Juga: Profil Latvia, Negera Demokratis di Baltik yang Pernah Dikuasai Soviet

2. Krisis agama dan menjadi Kristen Lutheran

ilustrasi (Unsplash.com/Mareks Steins)

Meninggalkan pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil diplomat rendahan, Bismarck kembali ke keluarga dan membantu ayahnya mengelola perkebunan. Saat itu, dia dinilai mengalami krisis agama dan menjadi seorang ateis.

Menurut Thought Co, transformasi itu berubah ketika Bismarck akhirnya bertemu dengan Joanna von Puttkamer, menjalin asmara dan kemudian menikahinya. Bismarck mengikuti agama sang istri dan menjadi seorang Kristen Lutheran yang taat.

Dilansir BBC, Bismarck kemudian memiliki stabilitas dan terjadi perubahan yang signifikan dalam kehidupannya. Dia lantas memasuki karir politik di legislatif Prusia, mendukung monarki, dan mendapatkan reputasi sebagai seorang ultra-konservatif.

Pada 1851, karir Bismarck menanjak. Raja Frederick Wilhelm IV mengangkatnya sebagai wakil Prusia untuk Konfederasi Jerman dan menjadi duta besar untuk Rusia dan Prancis.

Posisi tersebut telah memberinya wawasan yang berharga tentang kerentanan kekuatan-kekuatan besar Eropa. Selain itu, Bismarck juga dinilai cakap berbahasa Prancis dan Rusia.

3. Menjadi Perdana Menteri dan memprovokasi perang

ilustrasi (Unsplash.com/Museums Victoria)

Otto von Bismarck mendapatkan jabatan sebagai Perdana Menteri pada 1862, ketika setahun sebelumnya Wilhelm I menjadi Raja Prusia. Meski secara teknis dia tunduk pada raja, tapi kecerdasannya telah membuatnya mampu melakukan manuver.

Meski Bismarck memiliki beberapa masalah dengan kelompok oposisi di parlemen, tapi kebijakannya yang keras telah membuatnya mendapatkan julukan Perdana Menteri Besi. Dia juga memiliki kebijakan luar negeri yang berusaha memprovokasi perang.

Menurut Byarcadia, penduduk penutur Jerman di Schleswig dan Holstein yang dikuasai Denmark telah diabaikan hak-haknya. Bismarck kemudian menegaskan bahwa Prusia dan Austria mewakili kepentingan Jerman untuk melawan Denmark pada tahun 1864. 

Jerman-Austria memenangkan perang itu saat melawan Denmark, membagi dua wilayah kekuasaan, yaitu Schleswig di bawah Jerman dan Holstein di bawah Austria.

Dilansir History, Bismarck kemudian kembali memprovokasi perang, kali ini melawan Austria yang sebelumnya diajak bersekutu. Perang berlangsung dengan kekalahan telak Austria.

Jerman kemudian mencaplok Schleswig-Holstein, Hanover, Hesse-Cassel, dan Frankfurt. Reputasi Bismarck semakin mentereng sebagai Perdana Menteri.

4. Memenangkan perang melawan Prancis

Prancis menyerang kepada Jerman (Wikipedia.org/Gez. & lith. von Breidenbach & Co. Dd)

Kemenangan Jerman atas Austria telah menimbulkan kekhawatiran bagi Prancis, yang menganggap bahwa negara tetangganya itu semakin kuat dan akan mengganggu keseimbangan Eropa.

Bismarck, di sisi lain, mencari cara untuk mempersatukan semua wilayah Jerman dan mencari cara agar Prancis dinilai sebagai agresor, kutip New World Encyclopedia.

Sang Perdana Menteri Besi itu kemudian disebut mengedit percakapan yang diterbitkan antara Raja William dan duta besar Prancis. Terbitan itu memiliki nada provokatif antara kedua belah pihak, agar membuat kedua negara merasa terhina oleh yang lain, kutip History.

Perang akhirnya terjadi dan itu menjadi malapetaka bagi Prancis. Jerman memenangkan pertempuran dan Prancis menyerah pada tahun 1871.

Perang itu membuat Prancis membayar ganti rugi yang mahal dan menyerahkan Alsace dan sebagian Lorraine kepada Jerman. Bismarck kemudian mengamankan penyatuan Jerman dan membuka negosiasi negara bagian selatan Jerman untuk menyetujui unifikasi.

Negosiasi itu berhasil dan Wilhelm I dimahkotai sebagai kaisar Jerman pada 18 Januari 1871. Kekaisaran Jerman baru menjadi federasi dengan 25 negara bagian yang mempertahankan otonominya. Penyatuan ini menjadi dasar bagi Jerman modern.

Baca Juga: Profil Estonia: Negara Paling Melek Teknologi yang Sering Dijajah

Verified Writer

Pri Saja

Petani Kata

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya