ilustrasi anak kecil jalan kaki sendirian (unsplash.com/PJH)
Selain teman, hubungan dengan guru punya dampak besar terhadap kenyamanan anak di sekolah. Dalam survei kementerian pendidikan Jepang tahun 2021, masalah dengan guru menjadi alasan paling umum pada siswa SD sebesar 29,7 persen, serta alasan ketiga terbesar pada siswa SMP sebesar 27,5 persen. Angka ini menunjukkan bahwa sosok guru yang seharusnya jadi tempat aman justru bisa menjadi sumber kecemasan.
Maki, siswi kelas tiga SD, mengalami rasa takut yang tumbuh dari suara keras wali kelasnya sejak kelas satu. Bahkan saat guru memarahi siswa lain, ia merasa kemarahan itu ditujukan kepadanya. Akibatnya, hari-harinya di kelas selalu diwarnai rasa tegang. Perasaan cemas yang terus menerus seperti ini lama-lama membuat anak kehilangan rasa aman.
Hal kecil pun bisa meninggalkan bekas besar. Saat pelajaran menggambar, Maki ingin mewarnai rumah dengan warna pink, tapi gurunya menyuruh memakai hijau tua. Ia menurut, meski sebenarnya gak suka. Dari situ rasa takutnya makin besar, sampai akhirnya ia lebih sering berada di ruang UKS lalu berhenti sekolah sepenuhnya dan pindah ke fasilitas belajar alternatif yang memberinya kebebasan berekspresi.
Fenomena anak Jepang yang makin banyak mogok sekolah ternyata berakar pada banyak hal, mulai dari bullying, kelelahan sosial, sistem belajar yang terlalu kaku, sampai hubungan yang gak sehat dengan guru. Dari kisah-kisah ini, kamu bisa melihat bahwa alasan anak berhenti sekolah sering kali jauh lebih kompleks daripada sekadar gak mau belajar.
Banyak dari mereka sebenarnya sedang berusaha melindungi diri dari tekanan mental yang tak terlihat orang dewasa. Karena itu, memahami perasaan anak dan memberi ruang belajar yang lebih fleksibel jadi langkah penting agar sekolah kembali terasa aman. Pada akhirnya, masalah ini bukan soal absensi, tapi soal bagaimana lingkungan pendidikan benar-benar mampu memahami kebutuhan emosional setiap anak.