- Mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan, penyediaan air bersih, hingga penguatan sistem peringatan dini
- Hemat air dari sekarang
- Panen air hujan
- Stop pembakaran lahan
- Jaga kesehatan, di antaranya menggunakan masker jika polusi debu meningkat dan mencukupi kebutuhan air minum.
Musim Kemarau Sudah Datang dan Diprediksi Lebih Kering, Siapkan Hal Ini

- BMKG menyatakan musim kemarau 2026 sudah dimulai dan diprediksi lebih panjang serta kering akibat pengaruh fenomena El Nino.
- Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus, dengan imbauan agar masyarakat mulai menghemat air dan melakukan antisipasi sejak dini.
- Pemerintah bersama BMKG melakukan langkah pencegahan seperti rewetting lahan gambut melalui Operasi Modifikasi Cuaca untuk mengurangi risiko kebakaran.
Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, musim kemarau sudah mulai datang di sejumlah wilayah di Indonesia. Menurut BMKG, musim kemarau tahun 2026 berpotensi lebih kering dari biasanya dan lebih panjang karena dipengaruhi oleh fenomena El Nino.
Karena itu, BMKG mengingatkan semua pihak siap siaga untuk meminimalisir dampak kekeringan.
"Kesiapsiagaan menjadi kunci agar dampak kekeringan dapat diminimalkan," demikian peringatan dari BMKG dikutip dari akun Instagram @infobmkg, Minggu (7/6/2026).
1. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus

BMKG memprediksi, musim kemarau tahun ini datang lebih cepat di sebagian besar wilayah Indonesia, dengan puncak kemarau terjadi pada Agustus.
"Dengan durasi yang lebih panjang dan curah hujan yang lebih sedikit dibanding normalnya. Masyarakat diimbau untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini, terutama di daerah rawan kekeringan," tulis BMKG.
2. Siaga musim kering dengan lakukan hal ini

Guna meminimalisir dampak kemarau yang lebih kering, BMKG mengingatkan untuk bersiap siaga dengan melakukan beberapa hal berikut ini:
"Siapkan langkah antisipasi dari sekarang, hemat penggunaan air, dan terus pantau informasi cuaca serta iklim dari BMKG," tulis BMKG.
Disebutkan, Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan telah bekerja sama dengan BMKG melakukan berbagai langkah pencegahan, salah satunya pembasahan kembali (rewetting) lahan gambut menggunakan teknologi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini dilakukan untuk menjaga kelembapan lahan gambut sehingga potensi kebakaran bisa dikurangi.
3. Dampak El Nino di Indonesia

Adapun El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak pada perubahan pola iklim global.
Di Indonesia, El Nino umumnya menyebabkan berkurangnya curah hujan, sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering.
"Hingga pembaruan awal April, El Nino yang diprediksi akan terjadi pada semester kedua 2026, kemungkinan terjadi dengan intensitas lemah hingga moderate," tulis BMKG.


















