Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menaiki pesawat Air Force One di pangkalan gabungan Andrews, Maryland, untuk melakukan perjalanan menuju Bandara Internasional Miami di Miami pada 10 Juli 2020. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
  • Partai Demokrat memenangkan 237 kursi parlemen dan 54 kursi senat, mengalahkan Republik yang meraih 139 kursi parlemen serta 44 kursi senat.
  • Penguasaan Demokrat berpotensi memperbesar penolakan terhadap kebijakan Trump, termasuk perang Iran, serta mendorong pemulihan subsidi kesehatan dan penghentian tarif dagang.
  • Meski dukungan politiknya menurun, Trump tetap memiliki kewenangan veto dan persetujuan atas legislasi, sehingga perselisihan dengan Demokrat diperkirakan makin sering terjadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Partai Republik dinyatakan kalah telak oleh Partai Demokrat dalam pemilihan umum (pemilu) sela Amerika Serikat (AS) yang digelar pada Selasa (3/11/2026) kemarin. Dalam pemilu tersebut, Partai Demokrat berhasil mendapatkan 237 kursi parlemen dan 54 kursi senat, sedangkan Partai Republik hanya mendapatkan 139 kursi parlemen dan 44 kursi senat.  

Kekalahan ini Partai Republik dalam pemilu sela kemarin tentu akan berdampak terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump. Sebab, kekalahan ini membuat Partai Republik gagal menguasai parlemen dan senat di Negeri Paman Sam. Lantas, apa saja dampak kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela AS kemarin? Simak ulasannya berikut ini.

1. Dukungan terhadap kebijakan Trump akan menurun

ilustrasi tarif dagang Amerika Serikat (pexels.com/Markus Winkler)

Kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela kemarin membuat Partai Demokrat kini berhasil menguasai kursi parlemen dan senat AS. Hal ini tentu menjadi bahaya tersendiri bagi Trump. Sebab, anggota parlemen dan senat AS akan semakin sering mengecam dan menolak kebijakan sembrono yang selama ini dibuat Trump, terutama soal perang dengan Iran. 

Selama ini, Partai Demokrat selalu vokal menentang keputusan Trump untuk memerangi Iran. Sebab, perang tersebut membuat Iran menutup Selat Hormuz sehingga pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global, termasuk ke AS, terhambat. Hal ini lantas membuat harga bahan bakar dan bahan pokok di AS naik sehingga ekonomi rakyat menjadi tercekik. Selain itu, perang ini juga sudah menghabiskan dana besar sehingga ekonomi AS mengalami kontraksi. 

Kekalahan Partai Republik juga akan memuluskan jalan Partai Demokrat untuk membatasi kekuasaan Trump di pemerintahan. Sebab, selama ini, kekuasaan Trump di pemerintahan terlalu besar karena didukung oleh mayoritas Partai Republik yang menguasai parlemen dan senat AS.

2. Partai Demokrat akan berupaya mengubah kebijakan Trump

potret logo Partai Demokrat Amerika Serikat (unsplash.com/Kelly Sikkema)

Partai Demokrat sendiri sudah mempunyai target untuk mengubah sejumlah kebijakan Trump jika berhasil memenangi pemilu sela AS. Dilansir CBS, partai oposisi tersebut akan berupaya memulihkan subsidi asuransi kesehatan yang sebelumnya dipotong Trump, menghentikan perang dengan Iran, dan menghentikan tarif dagang AS terhadap negara-negara mitra, termasuk Kanada.

Kanada sendiri menjadi salah satu pihak yang paling menunggu kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS kemarin. Sebab, Ottawa berharap partai tersebut bisa menggagalkan kebijakan peningkatan tarif impor yang diberikan Trump kepada mereka. Trump sebelumnya memberikan tarif sebesar 50 persen terhadap semua barang impor dari Kanada yang masuk ke AS. 

Lebih lanjut, Partai Demokrat juga akan mendorong para penegak hukum di AS untuk melakukan penyelidikan terhadap Trump dan keluarganya. Sebab, Trump dan keluarganya diduga telah memanfaatkan jabatan presiden untuk keuntungan pribadi semata. Jika hal tersebut terbukti, maka langkah pemakzulan terhadap Trump kemungkinan akan dilakukan.

3. Trump masih punya kekuatan besar di pemerintahan

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Sejumlah pengamat mengatakan, kekalahan Partai Republik di pemilu sela AS memang akan membuat dukungan terhadap Trump menurun. Kendati demikian, Trump tetap akan punya kekuatan besar di Pemerintahan AS. Sebab, Trump menganggap dirinya bisa memveto semua langkah yang dilakukan Partai Demokrat untuk menggagalkan kebijakannya. 

Oleh karena itu, meski kini Partai Demokrat berhasil menguasai parlemen dan senat AS, kewenangan mereka akan tetap terbatas. Terlebih, Partai Demokrat tidak bisa mengambil keputusan sendiri di pemerintahan. Mereka tetap membutuhkan persetujuan dan tanda tangan Trump untuk berbagai macam keperluan, terutama untuk mengesahkan rancangan undang-undang atau undang-undang. 

Menurut pengamat, kondisi ini akan membuat hubungan Trump dan Partai Demokrat semakin renggang. Sebab, keduanya pasti akan semakin sering berselisih pendapat soal kebijakan yang akan dijalankan untuk negara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article