Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hasil Pemilu Sela AS: Partai Demokrat Rebut Kongres AS dari Republik!

6 min read
Hasil Pemilu Sela AS: Partai Demokrat Rebut Kongres AS dari Republik!
ilustrasi bendera Amerika Serikat. (unsplash.com/Brandon Mowinkel)
  • Partai Demokrat merebut kendali Senat dan DPR AS dalam pemilu sela 2026, menjadi pukulan bagi Donald Trump dan Partai Republik.
  • Trump mengaitkan kekalahan Republik dengan perang AS-Israel melawan Iran serta kenaikan harga bensin, meski menolak disalahkan atas hasil tersebut.
  • Respons internasional beragam: Eropa melihat sinyal perubahan, sekutu menegaskan hubungan stabil, sementara Rusia, China, Jepang, Taiwan, dan Afrika Selatan menyatakan sikap masing-masing.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Partai Demokrat meraih kemenangan besar dalam pemilihan umum (pemilu) sela Amerika Serikat (AS) pada Selasa (3/11/2026) dengan merebut kendali Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Hasil yang diumumkan pada Rabu (4/11/2026) ini menjadi pukulan telak bagi Presiden AS Donald Trump dan Partai Republik. Para pemimpin dunia kini mencermati dampak perubahan peta politik di Washington terhadap kebijakan luar negeri AS, mulai dari konflik Iran, perang Rusia-Ukraina, hingga hubungan dagang.

Trump mengakui perang AS-Israel melawan Iran kemungkinan memengaruhi buruknya perolehan suara partainya karena pemilih belum siap menghadapi lonjakan harga bensin dalam jangka pendek. Meski bersedia menerima hasil pemilu tersebut, Trump menolak disalahkan atas kekalahan Partai Republik. Ia mengklaim partainya akan menang telak apabila namanya ikut tercantum dalam surat suara.

  1. 1. Iran sebut warga AS menolak perang, oposisi Israel serang Netanyahu

    Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei
    Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei (Khamenei.ir, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

    Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama dalam perundingan dengan AS, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai hasil pemilu sela ini membuktikan penolakan publik terhadap konflik di Timur Tengah. Ia menyebut para pemilih telah menghukum pemerintahan Trump akibat perang dan dampak biaya hidup yang ditimbulkannya. Misi diplomatik Iran di India bahkan mengunggah video buatan akal imitasi (AI) di platform X yang menampilkan empat pria membuang Trump dari Gedung Putih ke tempat sampah bertuliskan limbah berbahaya.

    "Entah karena hati nurani atau biaya hidup, warga Amerika mengatakan tidak pada perang, dan kami mendukung pesan ini. Jika pemerintah AS mengkhianati kehendak rakyatnya demi melayani para penyandang dana dan pemeras internasional, mereka akan tahu bahwa penolakan kami datang bersama mimpi buruk," tulis Ghalibaf di X, dilansir The Independent.

    Berbeda dengan Ghalibaf, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menilai pergantian kekuasaan partai di Washington tidak akan mengubah sikap bermusuhan AS terhadap Teheran. Menurutnya, AS memandang akhir dari hegemoninya masih jauh, sedangkan Iran melihatnya sudah dekat.

    "Jika masih ada pihak yang menyimpan sedikit saja harapan bahwa perilaku sistem hegemonik dapat berubah melalui pergeseran partai atau faksi, atau yang percaya bahwa memberikan konsesi kepada AS dapat membujuknya menghentikan permusuhan terhadap rakyat Iran, mereka sangat keliru," kata Khamenei dalam pernyataan di media pemerintah Iran, dilansir Al Jazeera.

    Dari kubu sekutu AS, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum memberikan tanggapan resmi usai koalisinya sendiri kehilangan mayoritas di parlemen pada pemilu pekan lalu. Namun, tokoh oposisi Israel, Yair Golan, menyebut hasil pemilu AS menunjukkan betapa buruknya citra Netanyahu di mata Partai Demokrat maupun Republik. Ia memperingatkan bahwa Israel terancam sanksi internasional, isolasi global, dan konfrontasi dengan AS jika pemerintahan sayap kanan Netanyahu tetap berkuasa, sementara pemimpin oposisi Yair Lapid menilai hasil ini menutup peluang terbentuknya pemerintahan persatuan yang dipimpin Netanyahu.

  2. 2. Pemimpin Eropa soroti kemunduran sayap kanan dan arah kebijakan AS

    PM Spanyol. Pedro Sanchez
    PM Spanyol. Pedro Sanchez. (Ministry of the Presidency. Government of Spain /Attribution or Attribution/, via Wikimedia Commons)

    Sejumlah politisi Eropa menyambut kekalahan kubu Republik di AS sebagai tanda kemunduran gerakan sayap kanan global. Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, yang akan menghadapi pemilu dipercepat pada 29 November mendatang, menyebut pemilih AS telah menolak kebijakan yang hanya memiskinkan warga. Senada dengan Sanchez, anggota Parlemen Eropa asal Italia, Ilaria Salis, menyebut hasil ini sebagai kekalahan telak bagi Trump sekaligus peringatan bagi Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.

    "Kemarin, rakyat Amerika memberikan suara menentang kebijakan yang hanya membuat rakyat miskin. Menentang kebencian, seksisme, penyangkalan perubahan iklim, dan privilese kaum elit," tulis Sanchez di X, dilansir The Guardian.

    Wakil Presiden Parlemen Eropa, Christel Schaldemose, menyambut kemenangan Demokrat dengan optimisme hati-hati bagi benua Eropa. Sementara itu, Perdana Menteri Norwegia, Jonas Gahr Stoere, menilai hasil pemilu ini sebagai sinyal politik yang kuat tentang perubahan arah pemilih AS. Ia melihat mulai muncul suara-suara di politik AS yang lebih dekat dengan negaranya terkait isu iklim, lingkungan, kebijakan luar negeri, dan bantuan pembangunan.

    "Bukan karena semuanya kini berubah menjadi lebih baik, tetapi karena hasil ini dapat menguntungkan dukungan bagi Ukraina, transisi hijau, dan hubungan dengan seluruh dunia. Namun, Uni Eropa harus tetap melanjutkan langkah untuk berdiri lebih kuat dan mandiri di atas kaki sendiri. Hal itu tidak bisa diperdebatkan lagi," ujar Schaldemose di X, dilansir Al Jazeera.

    Dari Prancis, Menteri Keuangan Roland Lescure menyatakan pihaknya akan memantau apakah Trump, yang masih memegang kendali kebijakan luar negeri AS, akan mengubah pendekatannya dalam beberapa hari ke depan. Ia menyoroti apakah Trump akan mengakui perlunya perubahan terkait harga bensin yang berdampak langsung pada masyarakat dan mengurangi keterlibatan internasionalnya, atau justru bertahan dengan sikapnya saat ini.

  3. 3. Sekutu pastikan hubungan tetap kuat, Rusia dan Asia ambil sikap pragmatis

    Ilustrasi Bendera Rusia
    Ilustrasi Bendera Rusia. (pixabay.com/IGORN)

    Pemerintah Inggris memastikan tetap menjaga hubungan yang erat dan stabil dengan pemerintahan Trump meski terjadi pergeseran besar dalam politik domestik AS. Sikap serupa ditunjukkan oleh juru bicara pemerintah Yunani, Pavlos Marinakis, yang menegaskan bahwa seluruh proyek dan perjanjian strategis dengan Washington tidak akan terpengaruh oleh hasil pemilu tersebut. Ia menambahkan bahwa Yunani memiliki hubungan yang sangat baik dengan sejumlah tokoh yang akan menduduki komite-komite kunci di Kongres AS.

    "Pergeseran titik berat kekuasaan di AS sering terjadi, tetapi landasan hubungan dengan Pemerintah Inggris, sebagai sekutu terdekatnya, tidak goyah dan tidak berubah. Jadi saya memperkirakan hal ini sama sekali tidak mengubah sifat hubungan tersebut, itu tetap sangat kuat," tutur Menteri Kesehatan Inggris, James Frith, dilansir The Independent.

    Dari Moskow, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, menilai kepemimpinan Partai Demokrat memiliki pendekatan yang sangat negatif terhadap hubungan dengan negaranya. Sementara itu, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyampaikan harapan agar hasil pemilu sela AS tidak memengaruhi upaya penciptaan perdamaian yang sedang dilakukan Trump.

    "Garis kebijakan kami yang berprinsip dan konsisten terkait Ukraina serta kebijakan luar negeri secara umum tidak didasarkan pada pertimbangan jangka pendek dan tidak bergantung pada fluktuasi barometer politik di negara lain. Kami akan melanjutkan pekerjaan kami sesuai dengan arahan Presiden Federasi Rusia," kata Ryabkov kepada kantor berita pemerintah Rusia, RIA.

    Di kawasan Asia, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan pemilu tersebut merupakan urusan internal AS dan menyatakan kesiapan Beijing untuk terus mengimplementasikan konsensus kepala negara berdasarkan rasa hormat serta kesetaraan. Dari Tokyo, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, menyatakan aliansi Jepang-AS tetap menjadi landasan kebijakan luar negeri dan keamanan negaranya di tengah situasi internasional yang tidak menentu, sedangkan Kementerian Luar Negeri Taiwan berkomitmen memperdalam kerja sama keamanan, perdagangan, teknologi, dan pendidikan dengan Kongres AS.

    Sementara itu, Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, menyebut kemenangan Demokrat menandai era baru dalam hubungan dunia. Pernyataan ini disampaikan setelah Ramaphosa sempat berselisih dengan Trump akibat sang presiden AS mempromosikan klaim tak berdasar mengenai genosida kulit putih di Afrika Selatan.

    "Kita telah melihat bahwa Partai Demokrat mengambil alih kendali Senat dan DPR, dan rakyat Amerika telah bersuara," ujar Ramaphosa kepada wartawan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More