Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Selat Hormuz di Tengah Perang Iran?
Tampilan satelit Selat Hormuz. (commons.wikimedia.org/Envisat satellite/ESA)
  • Ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
  • Peringatan Iran soal ancaman terhadap kapal membuat operator tanker menghentikan pengiriman, menyebabkan ratusan kapal tertahan dan premi asuransi maritim melonjak tajam.
  • Selat Hormuz menyalurkan hingga 30 persen pasokan minyak dan gas global, sehingga setiap gangguan di kawasan ini berpotensi mengguncang stabilitas energi dan ekonomi dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat akibat saling serang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, dan meluas ke negara lain di kawasan. Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan energi dunia.

Selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia tersebut menjadi jalur utama bagi kapal-kapal tanker minyak dan gas alam cair (LNG). Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini berpotensi berdampak pada stabilitas pasokan energi global.

Krisis di kawasan ini semakin meningkat. Infografik dari World Times Institute menunjukkan sejumlah indikator menunjukkan aktivitas pelayaran mulai terganggu akibat meningkatnya risiko keamanan. Salah satu indikasi tersebut adalah peringatan dari Iran terkait potensi ancaman terhadap kapal yang melintas di kawasan tersebut.

“Peringatan Iran bahwa kapal-kapal dapat menjadi sasaran,” demikian disebutkan dalam infografik tersebut.

Di tengah situasi ini, operator kapal tanker besar juga mulai mengambil langkah antisipasi dengan menghentikan pengiriman. Kondisi tersebut membuat puluhan kapal tertahan di kawasan Teluk.

1. Geografi dan lokasi strategis

Infografis Selat Hormuz. (IDN Times/Sukma Shakti)

Selat Hormuz memiliki posisi geografis yang sangat strategis dalam jalur perdagangan global. Selat ini berada di antara Iran di sisi utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di sisi selatan. Posisi tersebut menjadikannya penghubung utama antara Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia. Jalur ini juga menjadi rute penting bagi kapal-kapal yang mengangkut energi dari kawasan Timur Tengah menuju berbagai negara di dunia.

Namun, ukuran selat yang relatif sempit membuat jalur pelayaran di kawasan ini cukup rentan terhadap gangguan. Bagian tersempit Selat Hormuz tercatat hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer. Selain itu, jalur pelayaran yang tersedia untuk kapal hanya sekitar tiga kilometer untuk masing-masing arah perjalanan. Kondisi ini membuat lalu lintas kapal menjadi sangat padat.

“Rute transit yang sangat sempit membuat kapal sangat rentan,” demikian keterangan infografik tersebut.

Di sisi lain, Iran memiliki posisi strategis karena menguasai garis pantai utara selat tersebut. Kondisi ini memberikan keuntungan geopolitik bagi negara tersebut dalam dinamika keamanan kawasan.

2. Eskalasi geopolitik 2026

Infografis Selat Hormuz. (IDN Times/Sukma Shakti)

Ketegangan di kawasan Selat Hormuz disebut meningkat di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi ini memicu berbagai indikator eskalasi yang berdampak langsung pada aktivitas pelayaran internasional. Salah satu indikator utama adalah peringatan Iran mengenai potensi ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.

Dampak dari meningkatnya ketegangan juga dirasakan oleh industri pelayaran. Operator kapal tanker utama dilaporkan menghentikan pengiriman sebagai langkah untuk menghindari risiko keamanan. Selain itu, sekitar 150 kapal tanker minyak dan LNG dilaporkan tertahan di kawasan Teluk. Situasi tersebut menunjukkan besarnya dampak yang ditimbulkan oleh krisis di jalur pelayaran strategis tersebut.

World Times Institute juga mencatat sedikitnya lima kapal tanker mengalami kerusakan. Di saat yang sama, biaya perlindungan pelayaran ikut melonjak. “Premi asuransi maritim mencapai titik tertinggi dalam enam tahun,” demikian disebutkan dalam infografik tersebut.

3. Krisis Selat Hormuz di tengah perang Iran

Infografis Selat Hormuz. (IDN Times/Sukma Shakti)

Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu chokepoint maritim paling penting bagi perekonomian global. Jalur ini menjadi titik krusial dalam distribusi minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara. Menurut World Times Institute, selat ini menangani volume transit minyak terbesar di dunia.

Sebagian besar ekspor energi dari negara-negara Teluk melewati jalur ini sebelum didistribusikan ke pasar internasional. Diperkirakan sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak dan gas global melewati Selat Hormuz. Besarnya ketergantungan dunia terhadap jalur ini membuat setiap gangguan berpotensi memicu dampak luas.

Selain energi, jalur ini juga menjadi koridor perdagangan penting bagi berbagai komoditas lainnya. Nilai perdagangan energi dan non-energi yang melewati kawasan ini diperkirakan mencapai 1 hingga 1,5 triliun dolar AS per tahun. Karena itu, stabilitas kawasan menjadi faktor penting bagi perekonomian global. Setiap gangguan pada jalur ini dapat memicu efek berantai pada berbagai sektor.

“Setiap gangguan dapat memicu guncangan energi, inflasi, dan gangguan rantai pasok global,” demikian penjelasan yang tercantum dalam infografik tersebut.

Editorial Team