Selat Hormuz Lumpuh, Korsel Klaim Cadangan Minyaknya Cukup

- Pemerintah Korea Selatan memastikan cadangan minyak nasional dan swasta mencapai lebih dari 150 juta barel, cukup untuk memenuhi kebutuhan energi selama sekitar 208 hari ke depan.
- Penutupan Selat Hormuz mengancam pasokan energi Korsel yang sangat bergantung pada impor minyak dan LNG dari Timur Tengah, terutama Arab Saudi, UEA, Irak, dan Kuwait.
- Krisis di Selat Hormuz berpotensi mengguncang perdagangan global serta menekan ekonomi Korsel melalui kenaikan biaya impor, risiko logistik, dan fluktuasi nilai tukar.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Korea Selatan (Korsel) mengatakan akan berupaya mengamankan pasokan minyak dari luar Timur Tengah. Ini sebagai tanggapan terhadap penutupan Selat Hormuz secara de facto di tengah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang sedang berlangsung terhadap Iran.
"Tidak ada masalah keselamatan yang dilaporkan dari kapal-kapal Korsel yang beroperasi di Timur Tengah, dan bahwa Korsel memiliki cadangan minyak yang cukup dalam skenario jika krisis tersebut terjadi berkepanjangan," kata Kementerian Ekonomi dan Keuangan pada Selasa (3/3/2026) dalam pertemuan tanggap darurat terkait konflik Iran, dikutip dari Yonhap.
Pertemuan tersebut untuk menilai dampak situasi di Timur Tengah terhadap Korsel dan membahas strategi penanggulangan.
1. Cadangan minyak Korsel saat ini dapat bertahan beberapa bulan ke depan

Meski menyatakan cadangan minyak cukup, tetapi sebagai persiapan menghadapi kemungkinan blokade total Selat Hormuz, Seoul berupaya mengamankan pasokan minyak tambahan dari wilayah selain Timur Tengah.
"Pemerintah saat ini memiliki cadangan minyak sebesar 76,4 juta barel. Sementara, sektor swasta memiliki 73,8 juta barel. Korsel dapat mengamankan 35 juta barel dalam waktu tiga bulan, dengan volume gabungan yang cukup untuk 208 hari," kata Wakil Menteri Perindustrian Moon Shin-hak.
Kementerian tersebut juga mengatakan pemerintah akan memantau pasar energi, serta keuangan domestik dan global sepanjang waktu. Korsel siap untuk menerapkan program stabilisasi pasar, yang mencakup setidaknya 100 triliun won (sekitar Rp1.151 triliun) dalam bentuk dukungan jika diperlukan.
2. Korsel yang sangat bergantung pada minyak mentah dan LNG dari Timur Tengah

Penutupan apapun akan secara langsung mengganggu pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari Teluk Persia.
Negeri Ginseng sangat bergantung pada energi yang dikirim melalui Selat Hormuz. Dilaporkan, Korsel mengimpor sekitar 70,7 persen minyak dan 20,4 persen LNG dari Timur Tengah. Arab Saudi menyumbang pangsa terbesar sebesar 33,6 persen diikuti oleh Uni Emirat Arab sebesar 11,4 persen, Irak sebesar 10,4 persen, dan Kuwait sebesar 8,5 persen.
Hingga 30 persen impor gas alam Korsel juga berasal dari kawasan tersebut, termasuk Oman dan Qatar. Ini menggarisbawahi tingginya kerentanan negara tersebut terhadap potensi gangguan pasokan di Teluk.
3. Blokade Selat Hormuz oleh Iran mengancam perdagangan dunia

Para ahli mengatakan dampak bagi Korsel akan jauh melampaui kenaikan tagihan impor minyak dan gas. Kang Sung-jin, profesor ekonomi di Korea University, mengatakan bukan hanya impor minyak mentah yang berisiko, tetapi logistik dan transportasi untuk ekspor dan impor juga terganggu (dalam jangka panjang). Ia juga mencatat bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah mengisyaratkan operasi militer terhadap Iran akan berlangsung setidaknya empat hingga lima minggu.
"Karena minyak biasanya diimpor berdasarkan kontrak di muka, biasanya ada jeda sekitar 3-5 bulan sebelum perubahan harga spot tercermin dalam biaya impor Korea. Sementara itu, bahkan sebelum dampak sektor riil dirasakan, ketidakpastian yang meningkat cenderung membebani investasi dan dengan cepat tercermin dalam harga saham dan terutama nilai tukar," kata Kang, dikutip dari The Korea Times.
Jang Sang-sik, kepala analisis tren perdagangan di Asosiasi Perdagangan Internasional Korea mengatakan jika situasi ini berlarut-larut, kenaikan biaya hampir tidak dapat dihindari. Sebab, biaya tambahan risiko perang, premi asuransi, dan biaya pengiriman kemungkinan besar akan meningkat.
Pada 2 Maret 2026, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan Selat Hormuz tertutup. Mereka mengancam akan membakar kapal-kapal yang mencoba melewati jalur air tersebut. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan terhadap salah satu jalur ekspor minyak terpenting di dunia. Di sisi lain, Komando Pusat militer AS membantah selat tersebut telah ditutup.


















