Membaca Eskalasi AS-Israel vs Iran: Selat Hormuz dan Harga Minyak Dunia

- Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran, memicu balasan dari Teheran serta meningkatkan risiko konflik luas di kawasan Timur Tengah.
- Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dunia, membuat pengiriman energi global terganggu dan menimbulkan kepanikan di pasar minyak internasional.
- Analis memperkirakan harga minyak bisa melonjak 10–20 dolar AS per barel jika tidak ada tanda deeskalasi dalam 72 jam ke depan, menjadikan periode ini krusial bagi stabilitas energi global.
Jakarta, IDN Times — Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran sejak Sabtu (28/2/2026) dini hari dalam operasi yang disebut Presiden AS Donald Trump sebagai operasi besar-besaran. Menurut Trump, serangan itu bertujuan menghancurkan program nuklir Teheran dan berpotensi menggulingkan rezim yang berkuasa. Serangan itu dilancarkan setelah pembicaraan antara negosiator AS dan Iran pada Kamis (26/2/2026), tidak menghasilkan kesepakatan.
Serangan tersebut langsung memicu balasan dari Iran dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Tak hanya itu, Iran pun kemudian mengambil langkah menutup Selat Hormuz. Melalui Garda Revolusinya (IRGC), Iran memberi peringatan kepada kapal-kapal bahwa mereka tidak boleh melewati Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi titik penting bagi pengiriman minyak dunia.
Ketegangan ini memunculkan kekhawatiran serius di pasar energi global. Analis memperkirakan harga minyak bisa melonjak tajam ketika pasar kembali dibuka, terutama jika tidak ada tanda-tanda deeskalasi dalam beberapa hari ke depan.
1. Ancaman dari Selat Hormuz

Fokus utama pasar minyak kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan seperlima pasokan gas alam cair global setiap hari. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan selanjutnya ke Laut Arab tersebut merupakan salah satu rute terpenting bagi pasokan minyak dunia. Karena lebarnya relatif sempit—sekitar 33 km di titik tersempit—lalu lintas kapal sangat terkonsentrasi dan rentan terhadap gangguan.
Tahun lalu, Iran sempat berencana menutup Selat Hormuz. Meski sudah disetujui parlemen, pemerintah Iran belum secara resmi menutupnya hingga serangan AS-Israel terjadi dan konflik pecah. Korps Garda Revolusi Islam Iran pun menginstruksikan melalui radio bahwa “tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz.”
Beberapa perusahaan minyak besar dan rumah perdagangan utama dilaporkan menangguhkan pengiriman minyak dan bahan bakar melalui selat tersebut segera setelah serangan AS. León mengatakan konflik yang meluas hingga melibatkan infrastruktur minyak di kawasan Teluk “akan mendorong harga lebih tinggi lagi.”
2. Lonjakan harga minyak dunia

Sebelum eskalasi terbaru, kontrak berjangka Brent ditutup naik sekitar 2,9 persen di atas 72,80 dolar AS per barel pada Jumat (27/2/2026), sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 2,8 persen di atas 67 dolar AS per barel.
OPEC+, yang akan menggelar pertemuan bulanan pada Minggu (1/3/2026), dikabarkan mempertimbangkan peningkatan kuota produksi lebih besar dari perkiraan sebelumnya sebesar 137 ribu barel per hari. Jika kuota dinaikkan, León menilai langkah itu dapat “meredam sebagian tekanan kenaikan harga pada Senin pagi, tetapi hanya secara marginal di tengah meningkatnya risiko geopolitik.”
Iran memproduksi sekitar 3,4 juta barel per hari atau sekitar 4 persen pasokan minyak dunia, serta mengekspor sekitar 1–2 juta barel per hari, menurut Kpler.
3. Eskalasi serangan dalam 72 jam ke depan krusial bagi arah harga minyak

Serangan udara AS dan Israel ke Iran serta respons balasan dari Teheran meningkatkan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Dengan potensi gangguan pada infrastruktur energi dan jalur pelayaran strategis, pelaku pasar kini mencermati perkembangan dalam 24–72 jam ke depan yang dinilai krusial bagi arah harga minyak global.
Menurut Jorge León, kepala analisis geopolitik Rystad Energy, tanpa tanda-tanda deeskalasi, harga minyak bisa melonjak 10 hingga 20 dolar AS per barel saat pasar dibuka kembali Minggu (1/3/2026) malam.
“Mengingat skala pembalasan, sebagian besar inisiatif strategis kini berada di tangan Iran,” ujar León, dilansir Yahoo Finance. “Bagaimana Teheran memilih merespons dalam 24-72 jam ke depan — terutama terhadap infrastruktur energi atau pelayaran regional — akan menjadi pendorong utama dinamika pasar minyak jangka pendek,” tambah León.
Usai serangan awal pada Sabtu, Iran langsung meluncurkan rudal ke Israel dan ke aset militer AS dan infrastruktur di sejumlah negara Teluk seperti Bahrain dan Uni Emirat Arab, menurut laporan media regional. Serangan rudal Iran juga disebut menargetkan fasilitas militer AS di Timur Tengah, termasuk Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, serta lokasi di Kuwait, bahkan Arab Saudi. Kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, membuat mereka bertekad semakin menggencarkan serangan-serangan terhadap Israel dan negara-negara di kawasan Teluk.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi dalam pernyataannya menyebut Riyadh dan provinsi kaya minyak di timur negara itu menjadi sasaran. Bandara Internasional Kuwait, Bandara Internasional Zayed di Riyadh, serta Bandara Internasional Dubai juga dilaporkan menjadi target atau terdampak langsung.















