Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)
Sebelum Selat Hormuz ditutup, Saudi Aramco pada Februari mengekspor sekitar 7,2 juta barel minyak per hari. Sebagian besar volume tersebut diberangkatkan dari dua terminal utama di Teluk Persia sisi timur Arab Saudi, yaitu Ras Tanura dan Juaymah, dilansir dari Hindustan Times.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur paling praktis untuk pengiriman minyak. Kapal tanker cukup bersandar di terminal timur, memuat minyak, lalu berlayar langsung menuju pasar Asia dengan waktu perjalanan serta biaya yang relatif lebih ringan, sementara pengaturan kapal biasanya dilakukan oleh pihak pembeli.
Sebaliknya, pengiriman lewat Yanbu memerlukan proses yang jauh lebih panjang. Minyak harus dipompa melintasi daratan Arab Saudi melalui jaringan pipa sebelum dimuat ke kapal di Laut Merah, kemudian tanker keluar dari wilayah itu dengan memutari Semenanjung Arab dan melanjutkan perjalanan melalui Selat Bab el-Mandeb menuju Terusan Suez atau bahkan mengitari Tanjung Harapan di Afrika sehingga jaraknya menjadi lebih jauh dan biaya pengiriman meningkat.
Karena itulah jalur Yanbu hanya dapat berfungsi sebagai solusi darurat yang bersifat terbatas. Kapasitasnya belum mampu menggantikan sepenuhnya volume besar ekspor yang biasanya melewati Selat Hormuz.