Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS Mulai Blokade Semua Pelabuhan Milik Iran, Kenapa?
ilustrasi pelabuhan (pexels.com/Wolfgang Weiser)
  • Amerika Serikat resmi memblokade seluruh pelabuhan milik Iran mulai 13 April 2026 untuk menekan Teheran agar menyetujui kesepakatan damai setelah negosiasi di Islamabad gagal.
  • CENTCOM menegaskan blokade hanya berlaku di pelabuhan Iran, sementara kapal tetap boleh berlayar ke pelabuhan non-Iran dan melintasi Selat Hormuz demi menjaga kelancaran perdagangan global.
  • Presiden Donald Trump menyatakan kemungkinan akan memperluas blokade hingga Selat Hormuz jika Iran belum sepakat damai, berbeda dengan pernyataan CENTCOM yang menolak langkah tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat dikabarkan mulai memblokade semua pelabuhan milik Iran, termasuk yang ada di Teluk Arab dan Teluk Oman, pada Senin (13/4/2026). Upaya ini praktis membuat kapal-kapal dari seluruh dunia tidak bisa masuk dan keluar dari pelabuhan yang ada di negara mayoritas Islam Syiah tersebut. 

"Pasukan Komando Pusat AS (CENTCOM) akan mulai menerapkan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran pada tanggal 13 April pukul 10 pagi ET sesuai dengan proklamasi Presiden (Donald Trump)," demikian bunyi pernyataan resmi Pusat Komando AS (CENTCOM), seperti dilansir Anadolu Agency.

1. Blokade dilakukan untuk menekan Iran agar menyetujui perdamaian

ilustrasi perdamaian (unsplash.com/Road Ahead)

Menurut keterangan CENTCOM, blokade ini dilakukan untuk menekan Iran agar segera menyepakati perdamaian dengan AS. Sebab, negosiasi perdamaian yang dilakukan AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, pada pekan lalu berakhir nihil. Sebab, Iran tidak kunjung menyetujui perdamaian dengan AS. 

CENTCOM menambahkan, blokade ini akan dilakukan secara adil dan tidak memihak. Artinya, kapal dari negara mana pun akan dilarang untuk masuk dan keluar dari pelabuhan milik Iran.

"Blokade ini akan diberlakukan secara adil terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran," tambah CENTCOM dalam pernyataannya. 

2. Kapal-kapal tetap diizinkan berlayar dari dan ke pelabuhan non-Iran

ilustrasi kapal dagang (pexels.com/Oleksiy Konstantinidi)

CENTCOM menjelaskan, blokade ini hanya akan berlaku di seluruh pelabuhan milik Iran. Oleh karena itu, kapal-kapal tetap diizinkan untuk berlayar dari dan ke pelabuhan yang bukan milik Iran. Blokade ini juga tidak akan dilakukan untuk kapal yang ingin masuk dan keluar dari Selat Hormuz

Langkah ini dilakukan agar aktivitas perdagangan global tidak lumpuh. Sebab, jika kapal dilarang menuju pelabuhan di semua negara di Timur Tengah dan Selat Hormuz, maka aktivitas perdagangan dunia tentu akan terhambat. Jika perdagangan global terhambat, harga pangan dan minyak akan kembali naik.

"Pasukan CENTCOM tidak akan menghalangi kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju dan dari pelabuhan-pelabuhan non-Iran," tutup pernyataan CENTCOM.

3. Donald Trump menyebut akan memblokade Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di Pesawat Air Force One. (commons.wikimedia.org/Official White House Photo)

Pernyataan yang dilontarkan CENTCOM justru berbeda dengan pernyataan Presiden AS, Donald Trump. CENTCOM menyebut hanya akan memblokade semua pelabuhan milik Iran dan tidak akan memblokade Selat Hormuz. Namun, Trump justru menyebut dirinya akan memblokade Selat Hormuz jika Iran tidak kunjung menyetujui kesepakatan damai dengan AS. 

“Angkatan Laut Amerika Serikat, yang Terbaik di Dunia, akan memulai proses memblokade semua Kapal yang mencoba memasuki atau meninggalkan Selat Hormuz,” ujar Trump dilansir The Guardian.

Menurut pengamat, perbedaan pernyataan ini menimbulkan kebingungan. Ini juga akan membuat praktik di lapangan kemungkinan tidak akan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh Trump sebagai Presiden AS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team