Jakarta, IDN Times - Banjir bandang melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8/2026). Bencana tersebut menerjang permukiman, jalan, jembatan, fasilitas pembangkit listrik, hingga kawasan perlintasan antara Nepal dan China.
Dilansir dari BBC, hingga Kamis (27/8/2026), jumlah korban meninggal di Nepal dilaporkan mencapai 157 orang. Sementara itu, tiga orang dilaporkan meninggal di wilayah Tibet. Ratusan orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah ialah Rasuwa, Nepal. Air bah dan material longsoran menerjang kawasan tersebut dengan cepat sehingga membuat warga kesulitan menyelamatkan diri. Sejumlah bangunan dan infrastruktur tersapu arus deras. Artikel BBC menyebutkan, lebih dari 800 orang masih hilang.
Bencana juga berdampak pada wilayah Gyirong di Tibet. Otoritas China melaporkan 558 orang masih hilang di wilayah tersebut, termasuk sekitar 260 warga negara asing. Tiga orang telah dikonfirmasi meninggal dunia.
Di Nepal, daftar orang hilang mencakup wisatawan, peziarah, pekerja, serta warga setempat. Nepal Tourism Board sebelumnya mencatat ratusan orang masuk dalam daftar sementara korban hilang, termasuk warga asing dari sejumlah negara.
Sejumlah warga negara India, Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Kanada termasuk dalam daftar orang yang belum ditemukan. Banyak dari mereka berada di kawasan tersebut untuk melakukan perjalanan wisata maupun ziarah menuju kawasan Gunung Kailash dan wilayah sekitarnya.
Tim penyelamat Nepal mengerahkan personel militer dan kepolisian untuk mencari korban. Helikopter digunakan untuk menjangkau wilayah yang terisolasi sekaligus mengirimkan bantuan kepada masyarakat yang terputus dari akses darat. Ribuan personel dilibatkan dalam operasi pencarian dan penyelamatan.
Upaya penyelamatan menghadapi sejumlah kendala. Jalan dan jembatan rusak akibat diterjang banjir, sementara komunikasi di sejumlah lokasi masih terganggu. Kondisi medan pegunungan yang curam juga membuat proses evakuasi menjadi lebih sulit.
Peristiwa tersebut semula diduga berkaitan dengan aktivitas gempa. Namun, perkembangan penyelidikan menunjukkan adanya runtuhan gletser atau material es dan batu dalam jumlah besar yang memicu aliran debris dan banjir bandang di sepanjang lembah sungai.
Bencana serupa juga pernah terjadi di kawasan tersebut pada tahun sebelumnya. Kondisi gletser yang semakin tidak stabil menjadi perhatian para ilmuwan karena peningkatan suhu dapat mempercepat pencairan es dan meningkatkan risiko banjir bandang di kawasan Himalaya.
Pencarian korban masih berlangsung hingga Kamis. Otoritas Nepal dan China terus memperbarui data korban serta orang yang hilang, sementara keluarga dan pemerintah sejumlah negara masih menunggu kepastian mengenai keberadaan warga mereka yang berada di kawasan terdampak.
