Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memanfaatkan panggung Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) di New York, untuk membalas berbagai kritik yang diarahkan kepada pemerintahannya.
Dalam pidatonya, Kamis (24/9/2026), Netanyahu tidak hanya menyerang lawan politik, tetapi juga negara-negara yang selama ini menjadi mitra Israel.
Pidato tersebut berlangsung di tengah suasana tegang di ruang sidang. Puluhan utusan dari berbagai negara meninggalkan ruangan, ketika Netanyahu mulai berbicara. Sebagian lainnya terdengar mencemooh dan bersorak, sementara delegasi Israel berdiri dan bertepuk tangan.
Ketika melihat sejumlah delegasi meninggalkan ruangan, Netanyahu justru menantang mereka yang masih berada di dalam sidang.
“Jika masih ada pengecut moral lainnya yang belum meninggalkan ruangan ini, silakan pergi sekarang,” kata Netanyahu.
Di tengah perang yang melibatkan Israel di sejumlah wilayah dan tekanan internasional terhadap kebijakan pemerintahannya, Netanyahu juga membawa isu politik dalam negeri ke atas panggung PBB. Israel dijadwalkan menggelar pemilu pada 27 Oktober 2026, sementara kampanye politik di negara tersebut tengah berlangsung.
Analis senior Atlantic Council Eurasia Center, Ariel Cohen, menilai pesan yang disampaikan Netanyahu lebih banyak ditujukan kepada masyarakat Israel. Menurut dia, pidato tersebut seharusnya disampaikan dalam kampanye pemilu di Israel.
“Pidato itu seharusnya disampaikan dalam kampanye pemilu di Israel; inilah kepada siapa dia berkomunikasi,” kata Cohen kepada Al Jazeera. “Dia menyampaikan poin-poin yang seharusnya ditujukan kepada pemilih Israel untuk mempertahankan kelangsungan politiknya,” lanjutnya.
