Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Banyak yang Walk Out saat Pidato, Netanyahu: Pengecut Moral

7 min read
Banyak yang Walk Out saat Pidato, Netanyahu: Pengecut Moral
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. (President.gov.ua, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Benjamin Netanyahu menggunakan pidato di UNGA untuk membalas kritik dari lawan politik, sejumlah negara, dan pihak yang menuduh Israel terkait perang di Gaza.

  • Puluhan utusan meninggalkan ruang sidang, sementara peserta lain mencemooh atau bersorak; delegasi Israel dan Amerika Serikat memberikan tepuk tangan.

  • Pidato berlangsung bersamaan dengan demonstrasi di sekitar PBB, tekanan internasional, serta kampanye pemilu Israel yang memasuki fase penting.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bagaimana kamu melihat pidato Netanyahu di UNGA?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memanfaatkan panggung Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) di New York, untuk membalas berbagai kritik yang diarahkan kepada pemerintahannya.

Dalam pidatonya, Kamis (24/9/2026), Netanyahu tidak hanya menyerang lawan politik, tetapi juga negara-negara yang selama ini menjadi mitra Israel.

Pidato tersebut berlangsung di tengah suasana tegang di ruang sidang. Puluhan utusan dari berbagai negara meninggalkan ruangan, ketika Netanyahu mulai berbicara. Sebagian lainnya terdengar mencemooh dan bersorak, sementara delegasi Israel berdiri dan bertepuk tangan.

Ketika melihat sejumlah delegasi meninggalkan ruangan, Netanyahu justru menantang mereka yang masih berada di dalam sidang.

“Jika masih ada pengecut moral lainnya yang belum meninggalkan ruangan ini, silakan pergi sekarang,” kata Netanyahu.

Di tengah perang yang melibatkan Israel di sejumlah wilayah dan tekanan internasional terhadap kebijakan pemerintahannya, Netanyahu juga membawa isu politik dalam negeri ke atas panggung PBB. Israel dijadwalkan menggelar pemilu pada 27 Oktober 2026, sementara kampanye politik di negara tersebut tengah berlangsung.

Analis senior Atlantic Council Eurasia Center, Ariel Cohen, menilai pesan yang disampaikan Netanyahu lebih banyak ditujukan kepada masyarakat Israel. Menurut dia, pidato tersebut seharusnya disampaikan dalam kampanye pemilu di Israel.

“Pidato itu seharusnya disampaikan dalam kampanye pemilu di Israel; inilah kepada siapa dia berkomunikasi,” kata Cohen kepada Al Jazeera. “Dia menyampaikan poin-poin yang seharusnya ditujukan kepada pemilih Israel untuk mempertahankan kelangsungan politiknya,” lanjutnya.

  1. 1. Netanyahu serang Mamdani hingga kritik dari Inggris dan Prancis

    Zohran Mamdani sedang berada di kantornya.
    potret Wali Kota New York, Zohran Mamdani (commons.wikimedia.org/NYC Mayor's Office)

    Salah satu sasaran Netanyahu dalam pidatonya adalah Wali Kota New York, Zohran Mamdani. Netanyahu menyinggung Mamdani setelah wali kota New York tersebut sebelumnya menyatakan akan mendorong penangkapan perdana menteri Israel, apabila Netanyahu datang ke kota tersebut.

    Netanyahu menuding Mamdani berusaha mencegah kedatangannya ke New York, dan membungkam dirinya. Ia kemudian menyampaikan pesan secara langsung kepada wali kota New York tersebut.

    “Tuan Mamdani, Anda mencoba menghentikan saya datang ke sini. Anda mencoba membungkam saya. Nah, Anda tidak bisa membungkam saya,” ujar Netanyahu.

    Netanyahu juga menyerang pihak-pihak yang menurutnya menyebarkan tuduhan terhadap Israel, termasuk tuduhan bahwa Israel melakukan genosida di Gaza. Ia mengatakan tuduhan tersebut merupakan kebohongan terhadap negaranya.

    “Kepada semua orang yang menyebarkan kebohongan tentang negara saya, baik mereka duduk di ruangan ini maupun di kantor wali kota New York yang antisemit, saya katakan: malu pada kalian,” kata Netanyahu.

    Mamdani kemudian membantah tuduhan tersebut. Ia menyebut pernyataan Netanyahu sebagai kebohongan tak berdasar yang menurutnya dimaksudkan untuk membersihkan citranya dari genosida terhadap warga Palestina.

    Sejak 7 Oktober 2023, Israel menghadapi tuduhan berulang terkait genosida di Gaza, serta dugaan kejahatan perang sistematis di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki. Netanyahu membantah tuduhan tersebut.

    Netanyahu juga menjadikan Inggris dan Prancis sebagai sasaran kritik. Kedua negara tersebut merupakan mitra historis Israel, tetapi dalam beberapa waktu terakhir semakin terbuka mengkritik tindakan Israel, dan telah memberlakukan sanksi terbatas terhadap ekspor Israel dari Tepi Barat yang diduduki.

    “Mereka menuduh Israel, Israel yang kecil, melakukan kolonialisme—semacam kolonialisme. Dan siapa yang menuduh kami? Di antaranya adalah orang-orang di Inggris dan Prancis. Demi Tuhan, merekalah yang menciptakan istilah itu,” ujar Netanyahu.

  2. 2. Puji Trump, bahas Iran dan perang di tujuh front

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump
    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (commons.wikimedia.org/ Dan Scavino)

    Di tengah serangannya terhadap sejumlah pihak, Netanyahu memberikan apresiasi khusus kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia menyebut Trump sebagai mitra utama Israel dalam menghadapi berbagai konflik yang melibatkan negaranya.

    “Dalam pertempuran melawan para barbar ini, kami tidak memiliki mitra yang lebih besar dari pada Presiden Trump,” kata Netanyahu.

    Delegasi Amerika Serikat kemudian bergabung dengan delegasi Israel, untuk bertepuk tangan atas pernyataan tersebut.

    Netanyahu juga berterima kasih kepada Trump, dan mengatakan Israel serta Amerika Serikat telah bertindak bersama dalam operasi udara terhadap Iran.

    “Saya berterima kasih kepadanya,” kata Netanyahu. Ia menambahkan, Israel dan Amerika Serikat bertindak bersama ketika pilot dari kedua negara menjalankan misi bersama di atas langit Iran.

    Ia juga mengatakan Amerika Serikat dan Israel bekerja sama untuk membawa pulang para sandera yang masih berada di Gaza. Pernyataan itu disampaikan Netanyahu ketika membela tindakan Israel di Gaza dari tuduhan genosida.

    Dalam pidatonya, Netanyahu turut menyinggung perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari. Ia mengatakan penghancuran fasilitas nuklir Iran merupakan salah satu keputusan paling mudah yang pernah dibuatnya sebagai perdana menteri.

    “Meluluhlantakkan fasilitas nuklir Iran itu sulit, sangat sulit dilakukan. Namun bagi saya, itu adalah salah satu keputusan termudah yang pernah saya buat sebagai perdana menteri,” ujar Netanyahu.

    Netanyahu mengatakan keputusan tersebut diperlukan karena menurutnya, jika fasilitas nuklir Iran tidak dihancurkan, ‘kita semua akan mati’.

    Pernyataan itu muncul sehari setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato di UNGA. Pezeshkian menyoroti apa yang disebutnya sebagai standar ganda terkait isu nuklir Israel dan Iran.

    “Senjata nuklir ada di Israel, tetapi para inspektur berada di Iran. Israel membunuh, tetapi Iran dikenai sanksi,” kata Pezeshkian.

    Netanyahu juga menggambarkan Israel sebagai negara yang menghadapi “perang tujuh front”. Menurut dia, front tersebut mencakup Gaza, Tepi Barat yang diduduki, Suriah, Lebanon, Iran, kelompok Houthi di Yaman, serta milisi di Irak.

    “Kita akan menang. Kita tidak punya pilihan lain,” kata Netanyahu. Ia mengulangi kalimat yang pernah disampaikan kakaknya, Yonatan Netanyahu, yang tewas pada 1976 dalam Operasi Entebbe di Uganda.

  3. 3. Walkout di PBB dan demonstrasi di luar gedung

    Delegasi RI walk out di UNGA81
    Delegasi Indonesia meninggalkan (walk out) ruang sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersiap menyampaikan pidatonya, Kamis (24/9/2026) waktu setempat. Delegasi Indonesia dalam rangkaian UNGA81 dipimpin Menlu RI Sugiono. (Dok. PTRI New York)

    Pidato Netanyahu berlangsung ketika hubungan Israel dengan sejumlah negara dan kelompok masyarakat sipil, berada dalam tekanan akibat perang di Gaza. Puluhan utusan dari berbagai negara meninggalkan ruang sidang ketika Netanyahu mulai berbicara.

    Sebagian peserta yang tetap berada di ruangan juga terdengar mencemooh dan bersorak. Di sisi lain, tim Netanyahu berdiri dan memberikan tepuk tangan. Ketua sidang kemudian meminta peserta menjaga ketertiban.

    Netanyahu menanggapi aksi walkout tersebut dengan menyindir delegasi yang meninggalkan ruangan. Ia bahkan meminta mereka yang masih menolak mendengarkan pidatonya untuk ikut keluar.

    Di luar kompleks PBB, demonstrasi juga berlangsung. Aktivis dari organisasi Amerika Serikat Jewish Voice for Peace menggelar aksi dengan menuduh PBB menjadi tuan rumah bagi seorang penjahat perang.

    Sonya Meyerson-Knox, direktur komunikasi organisasi tersebut, mengatakan aksi tersebut merupakan bagian dari gerakan yang menyerukan penghentian dukungan Amerika Serikat terhadap Israel.

    “Di seluruh New York, warga Yahudi, Palestina, dan orang-orang yang memiliki hati nurani bangkit untuk menuntut diakhirinya dukungan Amerika Serikat, gencatan senjata yang dipentaskan, dan perang tanpa akhir,” kata Meyerson-Knox kepada Al Jazeera.

    Ia juga mengatakan dukungan terhadap kebebasan Palestina semakin besar di Amerika Serikat.

    “Solidaritas terhadap kebebasan Palestina tidak pernah sebesar ini, dan di sini di Amerika Serikat kami menuntut dengan satu suara agar berhenti mempersenjatai Israel,” ujarnya.

    Demonstrasi lain berlangsung di sekitar kompleks PBB. Sejumlah peserta membawa spanduk bertuliskan “hentikan genosida”. Beberapa demonstran ditahan, termasuk aktor Susan Sarandon.

    Di dalam ruang sidang, Netanyahu juga berusaha mengarahkan pesannya kepada masyarakat Israel. Ia mengatakan tujuan Israel dalam perang tidak berubah dan menyerukan persatuan di tengah konflik yang berlangsung panjang.

    “Sepanjang perang panjang ini, tujuan kami tidak pernah berubah—untuk menang dengan tekad yang tak tergoyahkan,” katanya. “Apa yang menyatukan kita jauh lebih kuat: sejarah kita, nilai-nilai kita, keberanian kita,” lanjut dia.

    Netanyahu menghadiri UNGA meskipun Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadapnya. ICC pada 2024 menyatakan terdapat alasan yang masuk akal untuk meyakini Netanyahu bertanggung jawab atas kejahatan perang di Gaza. Netanyahu membantah tuduhan ICC tersebut.

    Pada saat yang sama, pemerintahan Trump menolak memberikan visa kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Abbas kemudian menyampaikan pidato di UNGA melalui rekaman video dari Ramallah.

    Setelah tampil di New York, Netanyahu dijadwalkan segera kembali ke Israel ketika kampanye pemilu dalam negeri memasuki fase penting. Ia tidak dijadwalkan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama kunjungannya tersebut.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More