Comscore Tracker

MA Meksiko: Hukum Pelaku Aborsi Dinilai Tak Konstitusional

Putusan itu merupakan langkah bersejarah bagi hak perempuan

Jakarta, IDN Times - Mahkamah Agung Meksiko akhirnya mengambil keputusan bersifat tidak konstitusional bagi hukuman para pelaku aborsi pada hari Selasa, 7 September 2021, waktu setempat. Putusan itu merupakan langkah yang bersejarah bagi hak perempuan.

Bagaimana awal ceritanya?

1. Selain itu, keputusan tersebut juga membuka jalan bagi dekriminalisasi aborsi di seluruh Meksiko 

Dilansir dari BBC, Mahkamah Agung Meksiko pada hari Selasa waktu setempat telah mengambil keputusan hukuman pidana untuk pelaku aborsi tidak konstitusional.

Keputusan tersebut, untuk Negara Bagian Coahuila, mencegah perempuan dituntut secara hukum karena melakukan tindakan aborsi.

Tindakan itu sendiri sangat dibatasi di sebagian besar Meksiko, kecuali di 4 negara bagian yang ada di sana.

Hakim Agung, Luis Maria Aguilar, menggambarkan langkah itu sebagai langkah yang bersejarah bagi hak-hak perempuan.

Pengadilan juga memerintahkan Negara Bagian Coahuila untuk menghapus sanksi aborsi dari hukum pidananya.

Dengan demikian, keputusan tersebut dapat membuka jalan bagi dekriminalisasi aborsi di seluruh Meksiko.

Presiden Mahkamah Agung Meksiko, Arturo Zaldivar, memuji keputusan itu sebagai momen penting bagi semua wanita, terutama yang paling rentan.

Pemungutan suara oleh 10 hakim yang hadir berasal dari kasus 2018 lalu yang menantang undang-undang pidana mengenai aborsi di Coahuila, yang baru saja memperketat undang-undangnya.

Itu juga muncul ketika gerakan feminiis yang berkembang telah turun ke jalan di Meksiko untuk mendesak adanya perubahan, termasuk seruan untuk mengakhiri undang-undang anti-aborsi pada buku-buku di sebagian besar Meksiko.

2. Para perempuan yang mengenakan bandana hijau melakukan gerakan protes terkait undang-undang mengenai aborsi di Negara Bagian Coahuila 

Baca Juga: Pemerintah Venezuela dan Oposisi Buat Pembicaraan di Meksiko

Pada sebuah gerakan protes di ibukota Negara Bagian Coahuila, Saltillo, para perempuan yang mengenakan bandana hijau untuk melambangkan gerakan pro-pilihan memeluk dan meneriakkan "aborsi bukan lagi kejahatan!".

Salah seorang demonstran bernama Karla Cihuatl mengatakan pihaknya sangat senang bahwa aborsi telah didekriminalisasi dan sekarang menginginkan aborsi bisa dilegalkan.

Dengan sekitar 100 juta warga yang menganut agama Katolik, Meksiko merupakan negara mayoritas Katolik terbesar setelah Brazil dan Gereja Katolik sendiri menentang segala bentuk prosedur aborsi.

Sebanyak ratusan perempuan di Meksiko yang sebagian besar dari kelas menengah ke bawah telah dituntut karena aborsi, sementara setidaknya beberapa lusin perempuan lainnya masih mendekam di penjara.

Pemerintah Negara Bagian Coahuila mengeluarkan pernyataan yang mengatakan keputusan itu akan berlaku surut dan bahwa setiap perempuan yang dipenjara karena aborsi harus dibebaskan segera.

Tak hanya di Meksiko, keputusan itu juga dirayakan sebagai kemenangan besar bagi gerakan hak-hak perempuan di seluruh Amerika Latin yang telah mendapatkan momentum dalam beberapa tahun terakhir, didoronog oleh rekor tingkat femisida dan kemenangan besar hak aborsi di Argentina tahun 2020 lalu.

Direktur Eksekutif Pusat Kesetaraan Wanita, Paula Avila-Guillen, mengatakan keputusan Mahkamah Agung Meksiko ini memiliki efek riak hukum di luar Negara Bagian Coahuila di Meksiko dan berlaku di seluruh Meksiko.

Dia juga mencatat bahwa putusan tersebut menetapkan preseden bagi perempuan yang saat ini berada di balik jeruji besi untuk mencari aborsi untuk bisa dibebaskan.

3. Keputusan MA Meksiko bisa menyebabkan wanita AS dapat melakukan perjalanan ke selatan perbatasan untuk melakukan tindakan ini 

Keputusan Mahkamah Agung Meksiko dapat menyebabkan wanita Amerika Serikat di
negara bagian seperti Texas memutuskan untuk melakukan perjalanan ke selatan perbatasan untuk melakukan tindakan aborsi.

Pada bulan Juli 2021 lalu, Negara Bagian Veracruz menjadi negara bagian yang ke-4 dari 32 wilayah negara bagian di Meksiko yang mendekriminalisasi aborsi.

Presiden Meksiko, Andres Manuel Lopez Obrador, dengan hati-hati menghindari mengambil sikap tentang masalah ini, seperti yang dia lakukan pada hari Selasa pagi waktu setempat menjelang keputusan itu.

Seperti yang diketahui, Negara Bagian Coahuila berbatasan dengan Negara Bagian Texas di Amerika Serikat, di mana Mahkamah Agung Amerika Serikat mengizinkan undang-undang negara bagian yang melarang semua aborsi setelah usia kehamilan 6 minggu.

Menteri Luar Negeri Meksiko, Marcelo Ebrand, yang menjadi Walikota Mexico City ketika melegalkan tindakan aborsi pada tahun 2007 lalu, membuat terobosan baru bagi negara itu dengan merayakan putusan pengadilan sebagai hari besar bagi hak-hak perempuan.

Menurutnya, itu adalah kemajuan apa yang telah terjadi dalam penyebab progresif di Meksiko.

Baca Juga: Uskup Katolik AS Tegur Biden Karena Dukung Hak Aborsi

Christ Bastian Waruwu Photo Verified Writer Christ Bastian Waruwu

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya