Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Demo di Depan Gedung PBB, Tolak Kedatangan Netanyahu
ilustrasi aksi solidaritas untuk Palestina (pexels.com/Alfo Medeiros)
  • Ratusan demonstran dari berbagai komunitas memblokir jalan di depan markas PBB di New York selama lebih dari satu jam untuk menolak kedatangan Benjamin Netanyahu.
  • Aksi menyoroti penolakan terhadap bantuan militer AS kepada Israel; penyelenggara menyebut lebih dari 100 orang ditahan, termasuk figur publik, kandidat, dan anggota Dewan Kota New York.
  • Wali Kota Zohran Mamdani menegaskan hak warga untuk berprotes di ruang publik, setelah sebelumnya mengakui keterbatasan kewenangan hukumnya terkait Netanyahu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Ratusan pengunjuk rasa menghentikan arus kendaraan di depan markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (24/9/2026). Massa duduk memenuhi badan jalan selama lebih dari satu jam hingga kendaraan resmi PBB harus dialihkan ke rute lain.

Aksi tersebut diikuti warga New York dari komunitas Yahudi, Palestina, Iran, dan Lebanon bersama pejabat terpilih, kandidat pemilu November, serta sejumlah pesohor. Dilansir The Guardian, mereka mengenakan kaus bertuliskan “Danai rakyat bukan bom”, meneriakkan “Biarkan Gaza hidup” dan “seluruh dunia sedang menyaksikan”, serta menerbangkan layang-layang bertuliskan “Bebaskan Palestina” sebagai respons terhadap ancaman Israel kepada anak-anak penerbang layang-layang pada awal tahun ini.

1. Massa protes kedatangan Benjamin Netanyahu ke PBB

ilustrasi seorang pria mengibarkan bendera Palestina dan memakai kaus bertuliskan “Free Palestine” (pexels.com/Alfo Medeiros)

Demonstrasi tersebut berkaitan dengan rencana kedatangan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu untuk berpidato dalam Sidang Umum PBB. Aksi itu dipicu keterkucilan politik Israel akibat kehancuran di Gaza serta kemarahan publik Amerika Serikat (AS) atas bantuan militer yang diberikan Washington.

Pada Rabu (23/9/2026), anggota Sosialis Demokrat Amerika (DSA) cabang New York City juga memprotes pengiriman senjata dan bahan peledak untuk militer Israel melalui pesawat niaga di Bandar Udara Internasional John F. Kennedy. Direktur Politik Suara Yahudi untuk Aksi Perdamaian (JVP) sekaligus koordinator aksi PBB, Beth Miller, menyampaikan penolakan warga New York terhadap kedatangan Netanyahu.

Miller menyebut sikap tersebut juga mencakup warga Yahudi di New York dan menyinggung jumlah korban Palestina yang dilaporkan lebih dari 75 ribu orang dalam tiga tahun terakhir.

“Apa yang kami perjelas hari ini adalah bahwa warga New York, termasuk warga Yahudi New York, tak menginginkan penjahat perang dan arsitek genosida datang ke kota kami,” ujar Miller, dikutip Wion News.

Ia menambahkan bahwa jumlah korban jiwa Palestina yang dilaporkan mencapai lebih dari 75 ribu orang dalam tiga tahun terakhir masih di bawah angka sebenarnya.

2. NYPD menahan sejumlah figur publik dalam aksi duduk

ilustrasi mobil polisi (pexels.com/Eric Mclean)

Kepolisian New York (NYPD) menahan sejumlah figur publik yang mengikuti aksi duduk, termasuk aktor Susan Sarandon, Debra Winger, Hannah Einbinder, pembocor informasi Chelsea Manning, pelawak Caleb Hearon, peragawati Indya Moore, penulis Glennon Doyle, aktivis Linda Sarsour, rabi Abby Stein, dan penulis David Valesco. Penahanan juga menyasar kandidat yang mengkritik kebijakan AS, yakni Darializa Avila Chevalier, Brad Lander, Chris Rabb, Adam Hamawy, Melat Kiros, serta setidaknya 10 pejabat Dewan Kota New York, termasuk Chi Ossé dan Tiffany Cabán.

Penyelenggara menyebut jumlah orang yang ditahan telah melampaui 100 orang, sedangkan kepolisian belum memberikan konfirmasi resmi terkait angka tersebut. Einbinder menyebut keikutsertaannya sebagai kewajiban moral sebagai warga Yahudi, orang AS, dan manusia yang menolak diam ketika pemerintahnya mendanai genosida, sementara Hamawy, seorang dokter militer yang pernah menjalankan misi medis di Gaza pada 2024, menyayangkan lembaga penegak hukum internasional mengundang Netanyahu sebagai tamu alih-alih mengadilinya di Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

3. Zohran Mamdani tegaskan hak warga untuk berprotes

Zohran Mamdani di Rally Resist Fascism di Bryant Park pada 27 Oktober 2024. (Bingjiefu He, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Demonstrasi itu juga menyoroti sikap Wali Kota New York Zohran Mamdani yang sebelumnya menyebut Netanyahu sebagai penjahat perang dan berjanji menangkapnya, tetapi kemudian mengakui keterbatasan kewenangan hukumnya. Mamdani menyatakan dirinya menghormati hak warga untuk menyampaikan pendapat di ruang publik.

“Kepada warga New York, saya tak pernah mendorong mereka untuk berprotes, apa yang selalu saya katakan kepada mereka adalah bahwa mereka memiliki hak untuk melakukannya di kota ini,” ucap Mamdani.

Aktivis Aber Kawas, yang dijadwalkan menjadi pejabat terpilih AS-Palestina pertama di legislatif negara bagian pada November mendatang, menilai hasil pemilihan Mamdani mencerminkan penolakan ratusan ribu pemilih terhadap kehadiran Netanyahu. Pemerintah Kota New York juga menyatakan kebanggaannya terhadap jaminan kebebasan berpendapat yang diatur dalam konstitusi dan Amandemen Pertama AS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article