Jakarta, IDN Times - Gelombang demonstrasi pelajar yang awalnya muncul di sejumlah sekolah Prancis kini meluas menjadi aksi massa yang melibatkan mahasiswa, orangtua, guru, hingga serikat pekerja. Ratusan ribu orang turun ke jalan pada Selasa (6/10/26), memprotes kondisi sistem pendidikan, sekaligus tindakan aparat kepolisian terhadap demonstran.
Di Paris, ratusan pelajar berjalan dari Place de la République. Mereka menuntut tambahan sumber daya untuk sekolah, mengurangi kepadatan ruang kelas, menambah jumlah guru, serta menghentikan apa yang mereka anggap sebagai tindakan represif polisi.
Aksi juga berlangsung di berbagai kota, termasuk Marseille, Lyon dan Rennes. Bentrokan sempat terjadi ketika polisi berhadapan dengan sejumlah demonstran. Polisi menggunakan gas air mata di Paris dan Marseille, sementara aparat di Rennes menggunakan meriam air.
Meski terjadi kericuhan di sejumlah lokasi, situasinya secara umum tidak separah aksi-aksi sebelumnya. Namun, besarnya jumlah massa membuat demonstrasi kembali menjadi tekanan politik bagi pemerintahan Perdana Menteri Sébastien Lecornu.
Pemerintah Prancis memperkirakan lebih dari 250 ribu orang mengikuti demonstrasi di berbagai wilayah pada Selasa. Pemerintah juga mencatat gangguan terjadi di 891 sekolah menengah atau lycée, hampir seperempat dari seluruh sekolah menengah di Prancis.
Serikat pelajar memberikan angka yang jauh lebih tinggi. Mereka memperkirakan sekitar 450 ribu orang turun ke jalan dan menyebut sekitar 1.800 sekolah diblokade. Para demonstran menyebut aksi Selasa sebagai “Act Three” dari gerakan protes mereka.
Di Marseille, ribuan demonstran bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain. Massa beberapa kali berhenti untuk meneriakkan slogan sebelum kembali berjalan ketika polisi mengubah arah pengamanan.
Sejumlah demonstran yang mengenakan masker sempat mengambil tiang pembatas dan tempat sampah untuk membuat barikade. Polisi antihuru-hara kemudian menembakkan gas air mata hingga kelompok tersebut membubarkan diri.
Namun, para pelajar menegaskan aksi mereka tidak identik dengan kekerasan. Alissa, seorang pelajar di Marseille, mengatakan sebagian besar peserta datang untuk menyampaikan tuntutan terkait kondisi sekolah.
“Sebagian besar dari kami tidak melakukan kekerasan. Kami turun ke jalan karena sekolah kami ditutup sementara… sekolah-sekolah semakin rusak,” ujar Alissa, dikutip dari BBC, Rabu (7/10/2026).
Temannya, Sacha, mengatakan kondisi fisik sejumlah sekolah di Marseille memprihatinkan. Ia menyebut beberapa ruang sekolah mengalami kebocoran pada bagian plafon sehingga mengganggu proses belajar.
“Plafon di sekolah-sekolah Marseille bocor dan kondisinya secara umum cukup buruk, jadi kami benar-benar tidak bisa belajar dengan baik dalam waktu lama. Kami akan terus melakukan ini sampai ada langkah-langkah yang baik,” katanya.
