Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Demo Pelajar Prancis Meluas, Sekolah Rusak hingga Perang Gas Air Mata
Gas air mata ditembakkan aparat di demo pelajar Prancis. (AFP/Romeo Boetzle)
  • Demonstrasi pelajar Prancis meluas ke berbagai kota dan melibatkan mahasiswa, orangtua, guru, serta serikat pekerja.

  • Peserta menuntut perbaikan kondisi sekolah sekaligus mempersoalkan penggunaan kekuatan oleh aparat dalam penanganan aksi.

  • Besarnya massa dan rencana demonstrasi lanjutan membuat pemerintah Prancis terus menghadapi tekanan politik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa isu paling penting dalam demo pelajar Prancis?
Vote Now
pertengahan September

Gelombang demonstrasi bermula di Seine-Saint-Denis, utara Paris. Keluhan awal berkaitan dengan kepadatan ruang kelas, kekurangan tenaga pengajar, dan kondisi bangunan sekolah.

28 September

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyebut 6.547 orang telah dihentikan atau ditangkap polisi sejak tanggal ini.

pekan lalu

Eden terkena granat gas air mata yang ditembakkan seorang polisi di Saint-Ouen-l’Aumône saat mengikuti aksi blokade.

Senin (5/10/26)

Seorang pelajar berusia 15 tahun kehilangan tangannya setelah sebuah granat meledak di dekat sekolah di Lens, Prancis utara.

Selasa (6/10/26)

Ratusan ribu orang turun ke jalan di berbagai wilayah Prancis. Demonstrasi berlangsung di Paris, Marseille, Lyon, dan Rennes, disertai bentrokan di sejumlah lokasi.

Selasa malam

Emmanuel Macron dijadwalkan memimpin rapat bersama para menteri di Istana Élysée untuk mengevaluasi situasi yang berkembang.

Kamis (8/10/26)

CGT mengatakan demonstrasi lanjutan yang melibatkan pelajar sekolah menengah dan mahasiswa tengah dipersiapkan.

Jumat (9/10/26)

Pemerintah menawarkan diskusi internal di sekolah.

kini

Pemerintah Prancis masih menghadapi tekanan dari jalanan, sementara tawaran dialog belum cukup menghentikan gerakan pelajar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa isu paling penting dalam demo pelajar Prancis?
Vote Now
  • What?
    Demonstrasi pelajar Prancis meluas menjadi aksi massa yang memprotes kondisi pendidikan dan tindakan aparat terhadap demonstran.
  • Who?
    Pelajar, mahasiswa, orangtua, guru, serikat pekerja, polisi, dan pemerintah Prancis terlibat dalam rangkaian aksi.
  • Where?
    Aksi berlangsung di Paris, Marseille, Lyon, Rennes, serta sejumlah wilayah lain di Prancis.
  • When?
    Rangkaian demonstrasi bermula pada pertengahan September dan aksi besar berlangsung pada Selasa (6/10/26).
  • Why?
    Pelajar menuntut tambahan sumber daya, ruang kelas yang tidak padat, lebih banyak guru, perbaikan bangunan sekolah, serta penghentian tindakan yang dianggap represif.
  • How?
    Demonstran berjalan dan memblokade sekolah. Bentrokan terjadi di sejumlah lokasi, sementara polisi menggunakan gas air mata dan meriam air.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa isu paling penting dalam demo pelajar Prancis?
Vote Now

Pelajar di Prancis pergi ke jalan karena sekolah mereka rusak, terlalu penuh, dan kekurangan guru. Mahasiswa, orangtua, guru, dan pekerja ikut membantu. Polisi memakai gas air mata di beberapa tempat. Ada pelajar yang terluka. Pemerintah menawarkan dialog, tetapi demonstrasi masih terus berlangsung dan aksi berikutnya sudah direncanakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa isu paling penting dalam demo pelajar Prancis?
Vote Now

Keterlibatan pelajar, mahasiswa, guru, orangtua, serikat pekerja, dan warga lanjut usia membuat persoalan pendidikan mendapat perhatian dari kelompok masyarakat yang lebih luas. Pemerintah juga menawarkan situs pengaduan dan diskusi internal di sekolah, sementara IGPN menyelidiki sejumlah kasus tindakan aparat selama rangkaian demonstrasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa isu paling penting dalam demo pelajar Prancis?
Vote Now

Jakarta, IDN Times - Gelombang demonstrasi pelajar yang awalnya muncul di sejumlah sekolah Prancis kini meluas menjadi aksi massa yang melibatkan mahasiswa, orangtua, guru, hingga serikat pekerja. Ratusan ribu orang turun ke jalan pada Selasa (6/10/26), memprotes kondisi sistem pendidikan, sekaligus tindakan aparat kepolisian terhadap demonstran.

Di Paris, ratusan pelajar berjalan dari Place de la République. Mereka menuntut tambahan sumber daya untuk sekolah, mengurangi kepadatan ruang kelas, menambah jumlah guru, serta menghentikan apa yang mereka anggap sebagai tindakan represif polisi.

Aksi juga berlangsung di berbagai kota, termasuk Marseille, Lyon dan Rennes. Bentrokan sempat terjadi ketika polisi berhadapan dengan sejumlah demonstran. Polisi menggunakan gas air mata di Paris dan Marseille, sementara aparat di Rennes menggunakan meriam air.

Meski terjadi kericuhan di sejumlah lokasi, situasinya secara umum tidak separah aksi-aksi sebelumnya. Namun, besarnya jumlah massa membuat demonstrasi kembali menjadi tekanan politik bagi pemerintahan Perdana Menteri Sébastien Lecornu.

Pemerintah Prancis memperkirakan lebih dari 250 ribu orang mengikuti demonstrasi di berbagai wilayah pada Selasa. Pemerintah juga mencatat gangguan terjadi di 891 sekolah menengah atau lycée, hampir seperempat dari seluruh sekolah menengah di Prancis.

Serikat pelajar memberikan angka yang jauh lebih tinggi. Mereka memperkirakan sekitar 450 ribu orang turun ke jalan dan menyebut sekitar 1.800 sekolah diblokade. Para demonstran menyebut aksi Selasa sebagai “Act Three” dari gerakan protes mereka.

Di Marseille, ribuan demonstran bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain. Massa beberapa kali berhenti untuk meneriakkan slogan sebelum kembali berjalan ketika polisi mengubah arah pengamanan.

Sejumlah demonstran yang mengenakan masker sempat mengambil tiang pembatas dan tempat sampah untuk membuat barikade. Polisi antihuru-hara kemudian menembakkan gas air mata hingga kelompok tersebut membubarkan diri.

Namun, para pelajar menegaskan aksi mereka tidak identik dengan kekerasan. Alissa, seorang pelajar di Marseille, mengatakan sebagian besar peserta datang untuk menyampaikan tuntutan terkait kondisi sekolah.

“Sebagian besar dari kami tidak melakukan kekerasan. Kami turun ke jalan karena sekolah kami ditutup sementara… sekolah-sekolah semakin rusak,” ujar Alissa, dikutip dari BBC, Rabu (7/10/2026).

Temannya, Sacha, mengatakan kondisi fisik sejumlah sekolah di Marseille memprihatinkan. Ia menyebut beberapa ruang sekolah mengalami kebocoran pada bagian plafon sehingga mengganggu proses belajar.

“Plafon di sekolah-sekolah Marseille bocor dan kondisinya secara umum cukup buruk, jadi kami benar-benar tidak bisa belajar dengan baik dalam waktu lama. Kami akan terus melakukan ini sampai ada langkah-langkah yang baik,” katanya.

1. Tuntutan pelajar bukan sekadar soal sekolah

Demo pelajar di Prancis meluas. (AFP/Romeo Boetzle)

Gelombang demonstrasi bermula pada pertengahan September di Seine-Saint-Denis, kawasan di utara Paris. Keluhan awal berpusat pada ruang kelas yang terlalu padat, kekurangan tenaga pengajar dan kondisi bangunan sekolah yang buruk.

Dalam perkembangannya, tuntutan tersebut meluas. Pelajar juga mempersoalkan cara aparat menangani aksi demonstrasi, terutama setelah sejumlah peserta mengalami luka ketika polisi membubarkan atau mengamankan massa.

Kekhawatiran mengenai penggunaan kekuatan yang dianggap tidak proporsional kini menjadi salah satu isu utama. Inspektorat kepolisian Prancis, IGPN, tengah menyelidiki sejumlah kasus terkait tindakan aparat selama rangkaian demonstrasi.

Salah satu kasus terjadi terhadap Eden, pelajar berusia 14 tahun yang mengikuti aksi blokade di Château d’Épluches lycée. Ia terkena granat gas air mata yang ditembakkan seorang polisi di Saint-Ouen-l’Aumône, barat laut Paris, pekan lalu.

Jaksa kemudian mendakwa polisi tersebut atas dugaan tindakan kekerasan yang mengakibatkan cacat atau kehilangan fungsi tubuh secara permanen. Pengacara Eden mengatakan kliennya mengalami patah rahang, gigi bagian atas patah dan kehilangan empat gigi bagian bawah.

Kasus lain terjadi pada Senin (5/10/26), ketika seorang pelajar berusia 15 tahun kehilangan tangannya setelah sebuah granat yang disebut sebagai anti-encirclement grenade meledak di dekat sebuah sekolah di Lens, Prancis utara.

Otoritas mengatakan pelajar tersebut mengambil granat jenis sting ball yang kemudian meledak. Namun, sejumlah pelajar mengeklaim korban terkena granat secara langsung setelah seorang polisi menembakkannya.

Prefektur setempat mengatakan insiden tersebut terjadi ketika polisi menghadapi sekitar 200 hingga 250 pelajar yang melempar batu dan kembang api. Granat tersebut dikategorikan sebagai senjata tidak mematikan.

2. Pemerintah Prancis hadapi tekanan politik

PM Prancis Sébastien Lecornu (U.S. Army photo by Sgt. Tyler Brock, Public domain, via Wikimedia Commons)

Perdana Menteri Lecornu mengecam kekerasan yang terjadi dalam aksi-aksi sebelumnya. Ia mengatakan sejak demonstrasi dimulai, sebanyak 215 pelajar dan 85 staf sekolah mengalami luka, sementara jumlah polisi yang terluka mencapai 715 orang.

Namun, pemerintah juga menghadapi tekanan untuk merespons tuntutan pelajar mengenai kondisi pendidikan. Menteri Pendidikan Édouard Geffray sejak awal menyerukan dialog dan meminta pelajar tidak melakukan blokade sekolah.

Geffray mengatakan gerakan pelajar juga telah dimasuki “unsur-unsur yang sangat brutal”. Pemerintah sejauh ini menawarkan sejumlah langkah, termasuk menyediakan situs bagi pelajar untuk menyampaikan keluhan serta mengadakan diskusi internal di sekolah pada Jumat (9/10/26).

Langkah tersebut sejauh ini belum banyak meredakan aksi. Serikat pekerja terbesar Prancis, CGT, bahkan mengatakan demonstrasi lanjutan yang melibatkan pelajar sekolah menengah dan mahasiswa tengah dipersiapkan untuk Kamis (8/10/26).

Di parlemen, Lecornu juga menuduh partai sayap kiri radikal France Unbowed atau LFI berusaha “menebar kekacauan” menjelang pemilihan presiden yang dijadwalkan berlangsung sekitar tujuh bulan lagi.

Presiden Emmanuel Macron sendiri sedang mendekati akhir masa jabatan keduanya sekaligus terakhir. Pemimpin LFI Jean-Luc Mélenchon saat ini berada di posisi kedua dalam sejumlah jajak pendapat, di belakang Marine Le Pen dari partai sayap kanan National Rally.

Macron dijadwalkan memimpin rapat bersama para menteri di Istana Élysée pada Selasa malam untuk mengevaluasi situasi yang berkembang.

3. Aksi melibatkan semua generasi

ilustrasi bendera Prancis (pexels.com/Abhishek Navlakha)

Skala demonstrasi menunjukkan persoalan yang awalnya berangkat dari lingkungan sekolah mulai menarik perhatian kelompok masyarakat yang lebih luas.

Selain pelajar dan mahasiswa, guru, orangtua, serta anggota serikat pekerja ikut turun ke jalan. Bahkan, sejumlah warga lanjut usia bergabung untuk menunjukkan dukungan kepada para pelajar.

Di Paris, pasangan berusia 70-an, Alain dan Michèle, ikut dalam aksi. Keduanya merupakan mantan guru dan mengatakan pengalaman mereka di dunia pendidikan membuat mereka memahami persoalan yang sedang dihadapi para pelajar.

“Kami adalah kakek-nenek dari tiga pelajar yang semuanya ikut bergerak. Mereka melakukan protes secara damai di depan sekolah masing-masing di Paris dalam beberapa hari terakhir, tetapi mereka tetap terkena gas air mata,” kata Alain.

Keterlibatan kelompok usia yang lebih luas memperlihatkan bahwa protes tidak lagi sekadar persoalan blokade sekolah. Persoalan kualitas pendidikan, kondisi fasilitas, kekurangan guru dan penggunaan kekuatan oleh polisi kini saling berkelindan dalam gerakan yang terus meluas.

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyebut sebanyak 6.547 orang telah dihentikan atau ditangkap polisi sejak 28 September. Angka tersebut menunjukkan besarnya skala penanganan aparat terhadap rangkaian aksi yang telah berlangsung selama beberapa pekan.

Dengan demonstrasi berikutnya telah direncanakan, pemerintah Prancis masih harus menghadapi tekanan dari jalanan sekaligus mencari jalan keluar atas tuntutan pelajar. Sejauh ini, tawaran dialog belum cukup untuk menghentikan gerakan yang telah berkembang dari keluhan lokal menjadi aksi nasional tersebut.

Ikut lihat isu utama demonstrasi Prancis

Apa isu paling penting dalam demo pelajar Prancis?

See More

Curated For You

Editorial Team

Related Article