Demo Pelajar Prancis Ricuh, Truk Pemadam dan Sekolah Dibakar

Unjuk rasa pelajar di berbagai wilayah Prancis pada 1 Oktober 2026 terkait krisis pendidikan mengganggu ratusan sekolah, memicu bentrokan dengan aparat, dan mendorong rapat darurat pemerintah.
Di Marseille, pembakaran sampah menyebabkan bensin tak sengaja mengenai guru; massa juga membakar truk pemadam. Di Nantes, kebakaran merusak gerbang dan bangunan depan sekolah.
Pelajar memprotes kekurangan guru, fasilitas dan ruang kelas rusak, serta pemangkasan dana pendidikan; mereka mogok dan memblokade sekolah, sementara kementerian menawarkan dialog.
Jakarta, IDN Times - Gelombang unjuk rasa pelajar meletus di berbagai wilayah Prancis pada Kamis (1/10/2026). Protes terhadap krisis sektor pendidikan ini mengganggu operasional ratusan sekolah menengah dan memicu ketegangan publik.
Demonstrasi dengan cepat berubah ricuh di sejumlah kota besar hingga memicu bentrokan fisik antara massa dan aparat. Eskalasi keamanan ini mendorong kepresidenan dan kementerian terkait segera menggelar rapat darurat.
1. Percikan bensin tak sengaja mengenai guru di Marseille

ilustrasi rumah kebakaran (unsplash.com/Stephen Radford) Kericuhan bermula di SMA Victor Hugo, Marseille, saat demonstran membuang bahan bakar ke tempat sampah dekat pintu masuk. Tindakan ini memicu percikan bensin yang tidak sengaja mengenai para guru di gerbang sekolah.
Kejaksaan awalnya salah melaporkan bahwa guru sengaja diserang dan disiram bahan bakar. Namun, kepolisian meluruskan bahwa tumpahan bensin itu murni ketidaksengajaan saat pelaku membakar wadah sampah. Peristiwa ini memicu teguran dari pemerintah kota agar pelajar tidak bertindak anarkis.
"Anak muda kita wajar mencemaskan masa depan dan layanan publik, tetapi mereka harus menyampaikan aspirasi dengan tenang," kata Wali Kota Marseille, Benoit Payan.
2. Massa bakar fasilitas sekolah dan armada pemadam kebakaran

Ilustrasi para petugas pemadam kebakaran sedang memadamkan kebakaran. Sumber:unplash.com/Matt Chesin Aksi perusakan berlanjut di SMA Saint-Exupéry, Marseille. Ratusan demonstran mengepung pemadam kebakaran di depan sekolah, memaksa petugas turun, lalu membakar truk tersebut hingga melukai satu anggota penyelamat.
Pada waktu bersamaan, kebakaran melalap gerbang masuk SMA Nelson Mandela di Kota Nantes dan merusak parah bangunan depan. Petugas berhasil memadamkan api tanpa korban luka, sementara pihak sekolah segera memulangkan seluruh siswa.
Pemerintah mengecam keras perusakan fasilitas ini dan mendesak penerapan belajar dari rumah jika sekolah ditutup paksa.
"Kekerasan tidak akan merampas hak dasar siswa kita untuk mendapat pendidikan," ujar Menteri Pendidikan Prancis, Edouard Geffray, dilansir India Today.
3. Pelajar tolak pemotongan anggaran dan tuntut perbaikan fasilitas

Ilustrasi demonstrasi di jalanan. unsplash.com/@ev Kemarahan murid dipicu oleh kekurangan guru dan ruang kelas yang makin terbengkalai. Mereka menuntut pemerintah segera menyediakan staf pengganti, menambah sarana belajar, serta merenovasi bangunan sekolah yang sudah rapuh.
Keresahan memuncak saat pemerintah mengumumkan penghematan anggaran negara yang memangkas dana pendidikan. Serikat siswa merespons rencana efisiensi ini dengan mogok belajar dan memblokade akses sekolah di berbagai kota.
Kementerian Pendidikan menyatakan siap berdialog dengan guru dan orang tua murid guna mencari solusi.
"Pemerintah tidak memotong anggaran generasi muda, kami justru berinvestasi untuk masa depan mereka," tegas Edouard Geffray.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















