Gelombang Protes Siswa di Prancis kian Ricuh, Ratusan Sekolah Ditutup

- Ratusan SMA di Prancis ditutup atau dibarikade saat protes pelajar atas kekurangan staf, fasilitas rusak, dan rencana pemangkasan anggaran pendidikan 2027.
- Kericuhan meliputi kebakaran di sejumlah sekolah, pembakaran mobil pemadam, serta kerusakan fasilitas; protes juga menyoroti kelas padat, bangunan buruk, dan panas ekstrem saat ujian.
- Puluhan staf pendidikan terluka dan ratusan orang, mayoritas remaja, ditangkap; pemerintah menggelar rapat krisis, menyelidiki dugaan kekerasan polisi, serta mengimbau kelas daring.
Jakarta, IDN Times - Ratusan sekolah menengah atas di Prancis ditutup atau dibarikade oleh para pelajar pada Jumat (2/10/2026). Aksi unjuk rasa yang telah berlangsung sejak pekan lalu ini dipicu oleh masalah kekurangan staf dan rusaknya fasilitas sekolah, serta kian memanas setelah pemerintah mengumumkan pemangkasan belanja dalam anggaran 2027 pada Kamis (1/10/2026).
Aksi demonstrasi tersebut diwarnai kericuhan dan kebakaran gedung sekolah yang berujung pada cedera puluhan orang serta ratusan penangkapan. Pemerintah Prancis kini menghadapi krisis terburuk dalam beberapa bulan terakhir setelah unjuk rasa ribuan remaja terjadi di berbagai penjuru negeri.
1. Insiden kebakaran dan pembakaran mobil pemadam di beberapa kota

ilustrasi pemadam kebakaran (pexels.com/Pixabay) Dilansir TRT World, demonstrasi yang menuntut pembenahan fasilitas dan penanganan kekurangan staf kian bergejolak pada Kamis (1/10/2026). Di Sekolah Menengah Atas Saint-Exupery di Marseille, ratusan anak muda mengepung satu unit mobil pemadam kebakaran yang sedang bertugas merespons laporan kebakaran, memaksa petugas meninggalkan kendaraan, lalu membakar armada tersebut. Sementara di Nantes, kebakaran terjadi di Sekolah Menengah Atas Nelson Mandela hingga gedung dievakuasi tanpa adanya laporan korban luka.
Masih di Marseille, otoritas lokal menyatakan para guru di Sekolah Menengah Atas Victor Hugo tidak sengaja terpercik bensin ketika seorang murid mencoba melempar bahan bakar tersebut ke tempat sampah. Keterangan ini mengklarifikasi pernyataan awal kantor kejaksaan yang sempat menyebutkan bahwa para guru diserang dan disiram bensin. Pada Jumat (2/10/2026) pagi di Paris, kobaran api turut merusak pintu masuk Sekolah Menengah Atas Léonard de Vinci dan Sekolah Menengah Atas Gaston-Bachelard.
2. Daftar keluhan siswa dari pemotongan anggaran hingga gelombang panas

ilustrasi unjuk rasa (unsplash.com/James Eades) Para siswa memprotes minimnya investasi negara untuk pendidikan, kondisi ruang kelas yang sesak hingga 40 murid, kebocoran bangunan, plafon yang runtuh saat jam belajar, hingga keberadaan kecoa. Siswa bernama Sofiane di Lycée Hélène Boucher mengatakan para murid khawatir pemerintah akan menghapus program makan 1 euro atau setara Rp20.131 bagi siswa yang kesulitan finansial serta memangkas subsidi tempat tinggal. Dia juga menyinggung kondisi ujian yang tak tertahankan di tengah suhu 35 hingga 40 derajat Celsius saat gelombang panas pada Mei dan Juni.
Sophia, siswa tingkat akhir di Lycée Voltaire yang meminta nama aslinya dirahasiakan, mengaku memilih turun ke jalan ketimbang harus belajar dalam kondisi fasilitas yang buruk. "Anggaran pendidikan dipangkas habis-habisan sementara begitu banyak dana tambahan dialokasikan untuk tentara," kata dia sebagaimana dilaporkan The Guardian. Keluhan serupa disuarakan Camille, siswa yang menyoroti anjloknya capaian peringkat pendidikan Prancis meski negara tersebut menerapkan jam sekolah harian yang panjang.
3. Tuduhan tindakan keras kepolisian dan puluhan korban cedera

ilustrasi polisi (pexels.com/Kindel Media) Para pelajar menuduh kepolisian bertindak represif dan menimbulkan korban luka karena berulang kali menembakkan gas air mata untuk membubarkan aksi. Penyelidikan resmi kini berjalan setelah seorang remaja berusia 14 tahun di Val d'Oise menderita luka parah di mulut dan rahang akibat dugaan pemukulan polisi serta tembakan pelontar peluru karet. Melalui kuasa hukum keluarganya, remaja tersebut mengaku sempat mengira dirinya akan mati saat insiden terjadi.
Kementerian Pendidikan Prancis mencatat sebanyak 65 staf pendidikan terluka dalam rentetan demonstrasi, termasuk 40 kepala sekolah. Seorang siswa di Lycée Voltaire bernama Yves menuturkan aksi di sekolahnya berlangsung damai, namun terdapat pihak luar yang datang mencoba menyulut api dan memicu bentrokan dengan aparat. Sementara itu, sebagian besar dari ratusan orang yang ditangkap aparat penegak hukum di berbagai kota merupakan remaja.
4. Pemerintah Prancis gelar rapat krisis dan imbau kelas daring

Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffrey (Ministère de l'Éducation Nationale, Licence Ouverte, via Wikimedia Commons) Merespons eskalasi unjuk rasa, kantor Perdana Menteri Sebastien Lecornu langsung menggelar rapat krisis penanganan situasi darurat. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menuding kelompok perusuh sengaja berpindah antarsekolah untuk memprovokasi kekerasan. Pemerintah Prancis sendiri menyatakan memahami kekhawatiran siswa terkait kondisi sekolah, tetapi tetap mengecam keras aksi yang mereka sebut sebagai kekerasan perkotaan.
Menteri Pendidikan Edouard Geffray dijadwalkan menemui serikat staf, kelompok orang tua, dan perhimpunan siswa pada Jumat (2/10/2026). Geffray juga mengimbau pihak sekolah mengalihkan pembelajaran ke kelas daring apabila akses masuk gedung diblokir oleh demonstran. "Kekerasan tidak akan menghalangi para siswa kami dari hak mendasar mereka untuk mendapatkan pendidikan," ujar Geffray dalam pernyataannya di platform media sosial X.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















