Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dialog Iran-AS Berlangsung 20 Jam Tanpa Hasil, Apa Sebabnya?
Wakil Presiden AS, JD Vance (Gage Skidmore from Surprise, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0>, via Wikimedia Commons)
  • Perundingan damai Iran-AS selama lebih dari 20 jam berakhir tanpa kesepakatan, dengan kedua pihak masih berselisih soal sejumlah syarat penting yang diajukan Amerika Serikat.
  • Tuntutan Iran seperti pencairan aset beku, kendali atas Selat Hormuz, dan kompensasi perang menjadi hambatan utama dalam negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan.
  • Selat Hormuz tetap jadi isu paling sensitif karena perbedaan klaim antara AS dan Iran terkait aktivitas militer di jalur strategis tersebut, memperumit upaya menuju perdamaian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
1979

Revolusi Islam Iran terjadi, menandai berakhirnya hubungan diplomatik langsung antara Iran dan Amerika Serikat hingga pertemuan terbaru ini.

12 April 2026

Wakil Presiden AS JD Vance berbicara kepada wartawan di Pakistan setelah pembicaraan damai dengan Iran selama lebih dari 20 jam berakhir tanpa hasil. Delegasi AS meninggalkan ruang negosiasi dan bersiap kembali ke Washington.

kini

Pemerintah Iran menyatakan negosiasi belum sepenuhnya gagal dan akan berlanjut meskipun masih ada perbedaan mendasar antara kedua pihak.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran selama lebih dari 20 jam berakhir tanpa kesepakatan konkret, dengan kedua pihak masih berselisih mengenai sejumlah syarat utama.
  • Who?
    Delegasi Amerika Serikat dipimpin Wakil Presiden JD Vance, sementara Iran diwakili Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi, dengan mediasi oleh pemerintah Pakistan.
  • Where?
    Negosiasi berlangsung di Pakistan, negara yang bertindak sebagai mediator dalam pertemuan tatap muka pertama antara AS dan Iran sejak Revolusi Islam 1979.
  • When?
    Pertemuan berlangsung hingga Minggu, 12 April 2026, dengan sesi pembicaraan intensif selama lebih dari 20 jam sebelum delegasi AS meninggalkan ruang negosiasi.
  • Why?
    Kebuntuan terjadi karena Iran menolak beberapa syarat yang diajukan AS, termasuk pencairan aset beku, kendali atas Selat Hormuz, kompensasi perang, dan penerapan gencatan senjata regional.
  • How?
    Pembicaraan awalnya berjalan positif namun berubah tegang setelah jeda; suasana fluktuatif membuat negosiasi tidak mencapai hasil akhir. Kedua pihak menyatakan proses masih akan berlanjut meski belum ada kesepakatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Orang-orang dari Amerika dan Iran ngobrol lama sekali, sampai 20 jam, tapi belum bisa sepakat. Pak JD Vance dari Amerika bilang mereka masih beda pendapat. Iran mau uangnya dibuka lagi dan mau atur laut yang namanya Selat Hormuz. Sekarang mereka berhenti dulu, tapi katanya nanti mau lanjut bicara lagi supaya bisa damai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun belum menghasilkan kesepakatan konkret, pertemuan tatap muka pertama antara Iran dan Amerika Serikat sejak 1979 menunjukkan kemajuan penting dalam membuka kembali jalur diplomasi. Suasana awal yang dinilai positif serta komitmen kedua pihak untuk melanjutkan negosiasi mencerminkan adanya niat menjaga komunikasi terbuka di tengah perbedaan yang masih tajam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung intens selama lebih dari 20 jam belum menghasilkan kesepakatan konkret. Wakil Presiden AS JD Vance mengakui perundingan tersebut masih menemui jalan buntu.

Berbicara kepada wartawan di Pakistan pada Minggu (12/4/2026), Vance menyampaikan, delegasi Amerika Serikat telah meninggalkan ruang negosiasi dan bersiap kembali ke Washington.

Ia menegaskan, masih terdapat sejumlah perbedaan mendasar antara kedua pihak. Menurutnya, Iran belum bersedia menerima sejumlah syarat yang diajukan oleh Amerika Serikat.

“Masih ada kekurangan dalam pembicaraan dan Iran memilih untuk tidak menerima syarat dari AS,” kata Vance, dilansir dari Al Jazeera.

Perundingan ini sendiri menjadi momen penting karena merupakan pertemuan tatap muka pertama antara kedua negara sejak Revolusi Islam Iran pada 1979.

1. Dinamika negosiasi yang beragam

JD Vance (commons.wikimedia.org/The White House)

Pembicaraan yang dimediasi oleh Pakistan ini awalnya berlangsung dalam suasana yang dinilai positif. Seorang pejabat Pakistan bahkan sempat menggambarkan jalannya diskusi sebagai konstruktif.

“Saya dapat mengatakan bahwa diskusi berjalan positif dan suasana secara keseluruhan ramah,” ujarnya.

Namun, suasana tersebut tidak bertahan lama. Setelah jeda, dinamika perundingan disebut berubah menjadi lebih tegang.

Sumber lain dari Pakistan mengatakan, terjadi fluktuasi dalam suasana pertemuan. “Terjadi perubahan suasana hati dari kedua belah pihak. Suhu naik turun selama pertemuan,” ujarnya.

Delegasi AS dipimpin langsung oleh JD Vance, sementara Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.

2. Tuntutan Iran dianggap jadi batu sandungan

Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi (AFP/Atta Kenare)

Sejumlah tuntutan Iran disebut menjadi hambatan utama dalam negosiasi. Salah satu yang paling menonjol adalah permintaan pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.

Sumber senior Iran menyebut pencairan dana yang tersimpan di Qatar menjadi salah satu poin penting dalam pembicaraan.

Selain itu, Iran juga menuntut kendali atas Selat Hormuz, kompensasi atas kerugian perang, serta penerapan gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk Lebanon.

Teheran juga mengusulkan rencana untuk mengenakan biaya bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Meski demikian, pemerintah Iran menyatakan, pembicaraan belum sepenuhnya gagal dan masih akan berlanjut.

“Negosiasi akan berlanjut meskipun masih ada beberapa perbedaan,” demikian pernyataan pemerintah Iran melalui platform X.

3. Selat Hormuz terus jadi isu kunci dalam perundingan

ilustrasi selat hormuz yang jadi single point of failure (unsplash.com/kz mozaffari)

Selat Hormuz menjadi salah satu isu paling krusial dalam negosiasi ini. Jalur tersebut telah ditutup oleh Iran sejak konflik dengan AS dan Israel pecah, memicu gangguan besar pada distribusi energi global.

Militer Amerika Serikat sebelumnya mengklaim, dua kapal perangnya telah melintasi selat tersebut dan tengah bersiap untuk membersihkan ranjau yang diduga dipasang Iran.

Namun, klaim tersebut dibantah oleh media pemerintah Iran yang menyatakan kapal-kapal AS tidak melintasi jalur tersebut.

Perbedaan informasi ini semakin menunjukkan kompleksitas situasi di lapangan, sekaligus mempertegas betapa sensitifnya isu Selat Hormuz dalam hubungan kedua negara.

Dengan masih adanya perbedaan tajam, kelanjutan negosiasi akan menjadi penentu apakah gencatan senjata yang telah disepakati dapat berkembang menjadi perdamaian yang lebih permanen.

Editorial Team