Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dubes Iran Sudah Bertemu 3 Mantan Presiden RI, Kapan Giliran Temui Prabowo?

Dubes Iran Sudah Bertemu 3 Mantan Presiden RI, Kapan Giliran Temui Prabowo?
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi (kanan) ketika menemui Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Cikeas. (www.instagram.com/@iraninindonesia)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Dubes Iran Mohammad Boroujerdi aktif menemui tiga mantan presiden Indonesia untuk menyampaikan situasi terkini di Iran dan menyatakan keinginannya bertemu Presiden Prabowo Subianto.
  • Iran memilih Pakistan sebagai mediator konflik dengan AS dan Israel karena upaya diplomatik Perdana Menteri Shehbaz Sharif yang dinilai efektif mendorong gencatan senjata.
  • Wakil Presiden AS JD Vance tiba di Islamabad untuk memulai negosiasi damai dengan Iran, menghasilkan kesepakatan gencatan senjata dua pekan meski detail perundingan masih belum jelas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Duta Besar Republik Islam Iran, Mohammad Boroujerdi, terlihat aktif menemui pejabat tinggi di Tanah Air selama satu bulan terakhir. Pejabat tinggi yang ditemui termasuk tiga mantan presiden. Terbaru, pada Jumat (3/4/2026), Boroujerdi menyambangi kediaman pribadi Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Cikeas, Bogor, Jawa Barat.

Dikutip dari akun media sosial Kedutaan Iran untuk Jakarta, pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana penuh persahabatan dan saling pengertian. Sebelumnya, pada Rabu (1/4/2026), Boroujerdi terbang ke Solo dan berbincang dengan Presiden ke-7 Joko "Jokowi" Widodo.

Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri ditemui Boroujerdi di rumah pribadinya di Jalan Teuku Umar dalam acara halal bihalal pada Sabtu (21/3/2026). IDN Times pun bertanya mengapa ia perlu melakukan safari ke ketiga mantan presiden itu. Boroujerdi mengatakan, yang ia jumpai bukan hanya mantan-mantan presiden.

"Saya bertemu dengan banyak pejabat di Indonesia dan di semua pertemuan itu saya memberikan laporan mengenai situasi terkini di Iran kepada mereka," ujar Boroujerdi di Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (11/4/2026).

Ia menambahkan, tidak hanya tokoh-tokoh politik yang ditemuinya. Ada pula pemimpin ormas dan organisasi budaya. "Tujuan dari semua pertemuan itu adalah berterima kasih kepada mereka atas dukungannya terhadap Iran," katanya.

1. Dubes Boroujerdi mengaku bangga bila bisa bertemu Prabowo

Mohammad Boroujerdi
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi ketika ditemui di Universitas Paramadina (IDN Times/Santi Dewi)

IDN Times kemudian bertanya kepada Boroujerdi apakah sudah ada rencana bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto. Namun, ia meresponsnya secara diplomatis.

"Tentu merupakan sebuah kebanggaan bagi saya bila bertemu dengan Presiden Republik Indonesia saat ini, Bapak Prabowo dan jika Bapak Presiden memberikan kebanggaan kepada kami, maka saya rasa kami dapat bertemu Beliau," kata Boroujerdi.

Sikap Prabowo dalam geopolitik di Timur Tengah dikritik luas di Tanah Air. Prabowo dianggap tak berani memberikan kecaman secara terbuka kepada Amerika Serikat (AS) dan Israel karena melakukan serangan militer terhadap Iran. Padahal, hubungan diplomatik Indonesia dan Iran sudah berusia 70 tahun.

Prabowo juga dianggap terlambat menyampaikan ucapan duka cita atas gugurnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei. Ucapan duka justru dikirim lebih awal oleh Megawati lewat surat yang dititipkan kepada Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto pada 3 Maret 2026 lalu.

Sementara, ucapan duka Prabowo atas gugurnya Khamanei disampaikan lewat surat yang dititipkan kepada Menteri Luar Negeri Sugiono pada Rabu (4/3/2026).

2. Iran lebih pilih Pakistan jadi mediator ketimbang Indonesia

Mohammad Boroujerdi
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi ketika menjadi pembicara kunci di Universitas Paramadina. (IDN Times/Santi Dewi)

Sementara, upaya Prabowo untuk menjadi mediator konflik antara Iran dengan AS dan Israel tak berbuah positif. Iran lebih memilih Pakistan sebagai perantara untuk memediasi konflik militer itu. Hal itu turut diakui oleh Dubes Boroujerdi.

Ia menjelaskan alasan Pakistan dipilih karena Perdana Menteri Shehbaz Sharif banyak melakukan upaya agar terjadi gencatan senjata di wilayah. "Dari usaha yang dilakukan oleh Perdana Menteri ini, ditambah Pakistan berusaha meyakinkan kami dan lawan-lawan kami untuk bernegosiasi di Pakistan," kata Boroujerdi.

Menurut laporan The Independent, pembicaraan damai digelar di Islamabad tidak terlepas dari relasi baik yang dimiliki dengan Teheran dan Washington. Selain itu, banyak hal yang dipertaruhkan oleh Pakistan agar serangan militer Israel dan AS ke Iran dihentikan.

3. Wapres AS sudah tiba di Islamabad untuk mulai bernegosiasi dengan Iran

Wakil Presiden AS, JD Vance
Wakil Presiden AS, JD Vance (Gage Skidmore from Surprise, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0>, via Wikimedia Commons)

Sementara, koran The New York Times (NYT) melaporkan, Wakil Presiden AS JD Vance telah tiba di Islamabad pada Sabtu (11/4/2026) untuk memulai pembicaraan rencana damai dengan Iran. Tiba di Islamabad, Vance dijemput oleh pejabat tinggi Pakistan.

Langkah Pakistan untuk memediasi perdamaian antara Iran dengan AS dan Israel menunjukkan hal yang positif. Sebab, kedua pihak sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama dua pekan sejak Selasa kemarin.

Meski begitu, masih banyak hal yang belum jelas dari pembicaraan damai di Islamabad pada Sabtu ini. Termasuk apakah pembicaraan negosiasi dilakukan secara langsung antara Iran dan AS, atau proses itu semata-mata dilakukan lewat perantara.

Delegasi negosiator Iran dipimpin langsung oleh Ketua DPR Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More