Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
DPR AS Loloskan Resolusi untuk Batasi Kewenangan Perang Trump di Iran
Gedung Capitol (unsplash.com/Harold Mendoza)
  • DPR AS meloloskan resolusi untuk membatasi kewenangan Presiden Trump dalam perang dengan Iran, dengan empat anggota Partai Republik ikut mendukung langkah tersebut.
  • Resolusi ini bersifat simbolis karena kemungkinan akan diveto presiden, namun menjadi sinyal kuat bahwa Kongres ingin menegaskan kembali perannya dalam keputusan perang.
  • Hasil pemungutan suara mencerminkan meningkatnya penolakan publik terhadap perang di Iran, dengan mayoritas warga AS menilai konflik tersebut lebih banyak membawa kerugian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (DPR AS) meloloskan resolusi teguran untuk membatasi kekuasaan Presiden Donald Trump dalam perang melawan Iran. Langkah ini menjadi pukulan bagi presiden karena empat politikus dari Partai Republik ikut membelot dan bergabung dengan kubu Demokrat.

Pemungutan suara pada Rabu (3/6/2026) berakhir dengan 215 suara setuju berbanding 208 suara menolak. Keempat anggota Republik yang menentang kebijakan partai mereka adalah Thomas Massie, Brian Fitzpatrick, Warren Davidson, dan Tom Barrett.

1. Resolusi mendesak Trump untuk segera menarik pasukan dari Iran

USS Abraham Lincoln (Photographer's Mate 3rd Class Jordon R. Beesley, Public domain, via Wikimedia Commons)

Resolusi tersebut mendesak Trump untuk segera menarik pasukan AS dari konflik dengan Iran. Pengecualian hanya berlaku jika Kongres secara resmi mendeklarasikan perang atau memberikan otorisasi penggunaan kekuatan militer.

Langkah ini didasarkan pada Konstitusi AS yang memberikan wewenang kepada Kongres untuk menyatakan perang. Selain itu, Undang-Undang Kekuatan Perang 1973 juga mengatur batasan ketat kepada presiden terkait pengerahan militer.

Berdasarkan regulasi tersebut, presiden diwajibkan mendapatkan persetujuan Kongres dalam waktu 60 hari setelah operasi diluncurkan. Kubu Demokrat menilai Trump telah melanggar hukum karena tidak meminta izin tersebut meski perang telah berjalan berbulan-bulan.

"Kongres yang memegang kekuasaan untuk mendeklarasikan perang, bukan cabang eksekutif," kata anggota DPR AS Shontel Brown, dilansir Al Jazeera.

2. Resolusi lebih bersifat simbolis

Presiden AS, Donald Trump ( The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Meskipun berhasil lolos di DPR, resolusi ini sebagian besar hanya bersifat simbolis untuk menunjukkan penolakan politik. Aturan tersebut kemungkinan besar akan langsung menghadapi veto dari presiden jika nantinya berhasil melewati persetujuan Senat AS.

Pemungutan suara ini merupakan upaya keempat yang dilakukan oleh DPR pada tahun ini untuk membatasi aksi militer Trump. Pada percobaan sebelumnya, upaya tersebut gagal disahkan karena pemungutan suara berakhir seri dengan hasil 212-212.

Keberhasilan kali ini dianggap sebagai titik balik penting bagi politikus Demokrat untuk mengambil kembali peran konstitusional mereka. Mereka menilai perlawanan terhadap resolusi ini sebelumnya hanyalah bentuk dukungan buta dari rekan-rekan Republik kepada sang presiden.

"Kewenangan itu telah berakhir dan dukungan saya terhadap resolusi malam ini sejalan dengan keyakinan saya bahwa sudah saatnya Kongres memutuskan ruang lingkup misi dan batasan yang tepat atas penggunaan kekuatan di Iran," ujar anggota DPR AS dari Partai Republik, Tom Barrett, dilansir Al Jazeera.

3. Mayoritas publik AS tidak mendukung perang di Iran

unjuk rasa menolak perang dengan Iran pada 2020 (Anthony Crider, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Keberhasilan resolusi juga mencerminkan sentimen publik AS yang semakin tidak setuju dengan manuver militer pemerintah. Jajak pendapat terbaru memperlihatkan bahwa 60 persen warga menolak cara Trump menangani konflik di Iran.

Angka penolakan dari kalangan pemilih Partai Republik bahkan ikut melonjak menjadi 22 persen dari sebelumnya yang hanya 15 persen. Mayoritas warga AS kini merasa bahwa eskalasi militer melawan Iran memberikan jauh lebih banyak kerugian daripada manfaat.

Masyarakat mulai merasakan dampak buruk dari perang ini melalui lonjakan harga bahan bakar dan pupuk. Partai Republik mulai merasa khawatir karena kemarahan publik diprediksi akan menghancurkan peluang mereka dalam pemilihan mendatang.

"Pesan dari rakyat Amerika sangat jelas, ini saatnya mengakhiri perang di Iran yang ilegal dan tidak populer ini," tutur perwakilan Demokrat di Komite Urusan Luar Negeri, dilansir The New Arab.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article