Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dua Staf Bantuan PBB di Afghanistan Ditangkap oleh Intelijen Taliban
bendera Afghanistan (unsplash.com/Farid Ershad)
  • UNAMA menyatakan dua staf pria asal Afghanistan ditahan Direktorat Jenderal Intelijen Taliban di Herat pada 9 Agustus 2026, tanpa akses PBB untuk menemui mereka.
  • Kedua staf dilaporkan sedang menyusun laporan penahanan perempuan di Herat; PBB meminta Taliban menghormati hak istimewa dan kekebalan mereka serta menjelaskan tuduhannya.
  • Insiden ini mengikuti penahanan pekerja bantuan dan perempuan pada Juni, sementara UNAMA mendesak aturan penangkapan serta penggunaan kekuatan diperjelas dan akuntabilitas lembaga keamanan diperkuat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Misi bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA), pada Selasa (11/8/2026), menyatakan bahwa dua stafnya telah ditangkap oleh badan intelijen negara tersebut. Pihaknya hingga kini tidak dapat mengakses atau menemui kedua staf tersebut.

"Kami mengonfirmasi bahwa dua staf pria UNAMA asal Afghanistan ditahan oleh pejabat dari Direktorat Jenderal Intelijen pemerintah de facto pada Minggu (9/08/2026), di provinsi Herat," demikian pernyataan misi tersebut, dikutip The New Arab.

Sejauh ini, pemerintah Afghanistan belum memberikan komentar terkait klaim tersebut.

1. PBB desak Taliban hormati status kedua staf tersebut

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres (IAEA Imagebank, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Dilansir Afghanistan International, kedua staf tersebut ditangkap oleh intelijen Taliban saat meninggalkan kantor mereka di Herat. Mereka diketahui tengah menyusun laporan mengenai penahanan perempuan di provinsi tersebut dan telah mewawancarai beberapa orang yang sempat ditahan.

Sementara itu, Kantor Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan kepada pihak berwenang Afghanistan agar menghormati status khusus kedua staf tersebut.

“Kami belum diberi tahu mengenai tuduhan yang dikenakan terhadap mereka dan tidak diizinkan untuk menemui mereka. Kami menyerukan kepada otoritas de facto untuk memastikan penghormatan terhadap hak istimewa dan kekebalan PBB serta para pejabatnya," kata juru bicara Guterres, Farhan Haq.

2. Puluhan pekerja bantuan juga ditahan pada Juni lalu

ilustrasi penangkapan (pexels.com/)

Penangkapan tersebut terjadi hanya beberapa hari menjelang peringatan 5 tahun kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan usai berhasil menguasai Kabul pada 15 Agustus 2021. Sebelumnya, pada Juni 2026, sekitar 20 pekerja bantuan, termasuk staf organisasi yang bermitra dengan PBB, ditangkap di Herat oleh polisi moral Afghanistan karena janggut mereka dianggap tidak cukup panjang. Namun, mereka kemudian dibebaskan.

Pada awal Juni, puluhan perempuan juga ditahan karena tidak mengenakan burqa, pakaian yang menutupi seluruh tubuh. Salah satu di antaranya adalah seorang tenaga kesehatan yang bekerja untuk Dokter Lintas Batas (MSF). Lembaga bantuan medis itu pun mengecam keras penahanan tersebut.

3. UNAMA minta Taliban memperjelas aturan mengenai penggunaan kekuatan dan penangkapan

anggota Taliban (isafmedia, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Selama hampir 5 tahun, otoritas Taliban memerintah dengan menerapkan penafsiran ketat terhadap hukum Islam. Para perempuan dilarang memasuki fasilitas PBB, termasuk mereka yang berstatus sebagai staf, dan berbagai tempat lainnya. Aksi protes terhadap pembatasan tersebut sempat meletus pada Juni lalu dan mengakibatkan sedikitnya dua orang tewas.

Pekan ini, UNAMA menerbitkan laporan yang merekomendasikan agar pihak berwenang memperjelas aturan mengenai penggunaan kekuatan, penangkapan, dan penahanan oleh lembaga-lembaga keamanan, serta memperkuat akuntabilitas.

Sejumlah badan PBB beroperasi di Afghanistan, mulai dari bidang kesehatan hingga respons kemanusiaan. Negara ini sangat terdampak oleh pemangkasan bantuan internasional dan menghadapi berbagai tantangan, termasuk kedatangan jutaan warga negaranya yang kembali dari Iran dan Pakistan dalam beberapa tahun terakhir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article