Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Eks PM Inggris: Pertahanan Eropa Tak Bisa Lagi Bergantung pada AS
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. (Arlington National Cemetery, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Mantan PM Inggris Keir Starmer memperingatkan Eropa tidak bisa lagi bergantung pada AS untuk membiayai pertahanan, karena perubahan sikap Washington dinilainya permanen.
  • Starmer mendesak Eropa membangun kerangka keamanan bersama yang terintegrasi, bukan hanya menaikkan anggaran pertahanan, dengan Inggris berperan sentral bersama UE dan NATO.
  • Hubungan Starmer dengan Donald Trump memburuk akibat perbedaan isu Iran dan Greenland, sementara pemerintah Inggris kini mendorong penguatan kerja sama keamanan serta ekonomi dengan UE.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Mantan Perdana Menteri (PM) Inggris, Keir Starmer, memperingatkan negara-negara Eropa bahwa mereka tidak bisa lagi mengandalkan Amerika Serikat (AS) untuk membiayai pertahanan benua tersebut. Pernyataan ini disampaikan Starmer saat berpidato dalam jamuan makan malam Kamar Dagang Inggris-Irlandia (BICC) di Balai Kota Dublin, Irlandia, pada Jumat (30/10/2026) malam waktu setempat. Pidato tersebut merupakan pernyataan politik besar pertamanya sejak mundur dari jabatan PM pada Juli lalu.

Starmer menilai pergeseran hubungan pertahanan antara Eropa dan Washington saat ini bersifat permanen. Kondisi tersebut tidak akan kembali seperti semula meskipun masa jabatan Presiden Donald Trump berakhir nanti. Oleh karena itu, ia mendesak negara-negara Eropa segera mengambil tanggung jawab lebih besar atas keamanan mereka sendiri.

1. Eropa dinilai sudah dua kali lengah menghadapi krisis keamanan

Ilustrasi Bendera Uni Eropa (unsplash.com/Christian_Lue)

Dalam pidatonya, Starmer menyebut benua Eropa sudah dua kali lengah dalam mengantisipasi peristiwa besar yang seharusnya bisa diprediksi. Kelengahan pertama terjadi saat invasi Rusia ke Ukraina membongkar kelemahan pertahanan dan keamanan Eropa yang telah berlangsung lama. Kelengahan kedua muncul ketika Trump menegaskan bahwa AS tidak akan lagi menanggung biaya keamanan sekutu Eropa.

"Ini tentang merespons perubahan keadaan yang permanen, bukan sekadar penyimpangan dari masa kepresidenan Trump. Keadaan tidak akan kembali seperti semula," ujar Starmer, dilansir The Guardian.

Meski demikian, perubahan ini dinilai tidak membuat hubungan dengan AS kehilangan arti pentingnya bagi Eropa. Aliansi militer, keamanan, dan intelijen antara negara-negara Eropa dengan AS sudah terjalin sangat kuat. Kedekatan tersebut membuat kerja sama lintas Atlantik tetap krusial di tengah perubahan kebijakan Washington.

2. Starmer dorong pembentukan kerangka kerja keamanan bersama di Eropa

ilustrasi hubungan NATO-Ukraina (unsplash.com/Marek Studzinski)

Untuk merespons perubahan sikap AS, Starmer menilai peningkatan anggaran belanja pertahanan saja tidak cukup menyelesaikan masalah. Negara-negara di benua tersebut harus membangun kerja sama dan koordinasi pertahanan lintas Eropa yang terintegrasi. Ia mengusulkan pembentukan kerangka kerja keamanan bersama yang fungsinya setara dengan pasar bersama Eropa.

"Eropa yang lebih kuat sangatlah penting dan Inggris harus berada di jantungnya. Kita harus mengejar ketertinggalan," kata Starmer.

Uni Eropa (UE) saat ini mulai beradaptasi menghadapi tantangan tersebut, tetapi blok itu dinilai tidak bisa bekerja sendirian karena wilayah pinggiran Eropa justru menjadi inti pertahanan kawasan. Starmer menekankan bahwa Inggris memiliki modal kuat sebagai satu dari dua negara pemilik senjata nuklir di Eropa serta anggota utama Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Selain itu, Inggris memiliki program jet tempur generasi terbaru dan berkomitmen menjamin keamanan Ukraina bersama koalisi sekutu.

Starmer juga telah menyerukan penguatan hubungan dengan Eropa sejak tiga bulan sebelum mengundurkan diri dari kursi perdana menteri. Saat itu, ia menyebut keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) telah memberikan dampak buruk yang mendalam bagi perekonomian negaranya. Ia pun mendorong kerja sama ekonomi dan keamanan yang lebih erat dengan negara-negara tetangga di Eropa untuk menghadapi situasi dunia yang berbahaya.

3. Hubungan Starmer dengan Trump memburuk jelang akhir masa jabatan

PM Inggris Keir Starmer dan Presiden AS Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Selama menjabat di Downing Street, Starmer harus menghadapi dinamika kebijakan luar negeri AS yang sulit ditebak. Ia awalnya menerapkan pendekatan damai dan sempat menuai pujian atas kemampuannya membangun hubungan positif dengan Trump pada bulan-bulan awal kepemimpinannya. Keduanya bahkan sepakat untuk tetap menjalin komunikasi saat Starmer bersiap meninggalkan jabatannya pada Juli lalu.

Namun, hubungan kedua pemimpin tersebut memburuk menjelang akhir masa jabatan Starmer akibat sejumlah perbedaan sikap terkait isu geopolitik. Keretakan dipicu oleh penolakan Starmer untuk melibatkan Inggris secara langsung dalam perang di Iran serta keengganannya mengizinkan penggunaan pangkalan militer Inggris untuk serangan awal AS dan Israel ke negara tersebut. Situasi itu membuat Trump mengejek Starmer tidak seperti Winston Churchill, ditambah adanya ketegangan akibat ancaman Trump yang ingin mencaplok Greenland.

Setelah meletakkan jabatan PM, Starmer mengisyaratkan keinginannya untuk fokus pada urusan internasional dan dikabarkan mengincar posisi Sekretaris Jenderal NATO. Di sisi lain, pandangannya soal penguatan relasi dengan Eropa sejalan dengan langkah politik penerusnya, PM Andy Burnham. Burnham menyatakan niatnya mengambil langkah lebih berani untuk mempererat hubungan dengan UE demi menjamin keamanan militer dan ekonomi.

Burnham dijadwalkan menghadiri KTT Uni Eropa-Inggris pada bulan depan untuk membahas kesepakatan baru terkait standar pangan, energi, dan mobilitas pemuda. Ia juga menginginkan adanya debat publik mengenai cara membawa Inggris lebih dekat dengan blok tersebut setelah pemilihan umum mendatang. Sementara itu, Menteri Pertahanan Inggris, Wes Streeting, dalam pertemuan menteri pertahanan Eropa di Paris pekan ini menegaskan bahwa mereka tetap bersatu mendukung Ukraina menghadapi agresi Rusia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article