Safrizal ZA Kemendagri Raih Penghargaan Pimpin Kolaborasi Saat Krisis

Safrizal menerima penghargaan atas kepemimpinan kolaboratif dalam penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh.
Penghargaan tersebut dipandang sebagai apresiasi bagi kerja bersama pemerintah, TNI, Polri, masyarakat, dan relawan.
Pemulihan pascabencana mencakup pembangunan, pelayanan publik, aktivitas ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat.
Jakarta, IDN Times – Dalam situasi bencana, waktu menjadi sesuatu yang sangat berharga. Ketika masyarakat membutuhkan bantuan dan pemulihan, keputusan tidak bisa menunggu terlalu lama. Di tengah kondisi seperti itu, kerja bersama menjadi salah satu kunci agar penanganan berjalan cepat dan tepat.
Semangat itulah yang mengiringi penghargaan yang diterima Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sekaligus Kepala Pos Komando (Kaposko) Wilayah Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR), Safrizal ZA.
Safrizal menerima penghargaan Inovasi Membangun Negeri dalam bidang Innovative Public Official Leader, kategori Kepemimpinan Kolaboratif dalam Masa Kritis.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi atas perannya dalam membangun koordinasi lintas sektor, memperkuat sinergi pemerintah pusat dan daerah, serta mendorong percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh.
1. Bukan tentang satu orang

Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sekaligus Kepala Pos Komando (Kaposko) Wilayah Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR), Safrizal ZA (dok. Ditjen Bina Adwil Kemendagri) Bagi Safrizal, penghargaan tersebut tidak berhenti sebagai pengakuan terhadap dirinya. Ia justru melihat penghargaan itu sebagai gambaran dari kerja banyak pihak yang bergerak bersama dalam menghadapi situasi sulit.
Dalam kapasitasnya sebagai Kaposko Wilayah Satgas PRR, Safrizal mengedepankan pendekatan kolaboratif dengan melibatkan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, TNI, Polri, masyarakat, hingga relawan.
“Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi, tetapi untuk seluruh pihak yang telah bekerja bersama, dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, hingga masyarakat dan relawan. Dalam situasi kritis, tidak ada satu institusi yang mampu bekerja sendiri. Kolaborasi adalah kunci untuk menghadirkan solusi dan mempercepat pemulihan masyarakat,” ujar Safrizal dalam keterangannya, dikutip Senin (2/11/2026).
Baginya, pemulihan pascabencana bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan oleh satu lembaga. Ada banyak kebutuhan yang harus berjalan beriringan, mulai dari pembangunan kembali hingga memastikan masyarakat bisa kembali menjalani kehidupan secara perlahan.
Karena itu, koordinasi tidak sekadar menjadi agenda administratif. Ia harus diterjemahkan menjadi langkah nyata di lapangan.
2. Ketika koordinasi harus menjadi keputusan

Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sekaligus Kepala Pos Komando (Kaposko) Wilayah Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR), Safrizal ZA (dok. Ditjen Bina Adwil Kemendagri) Safrizal menilai tantangan terbesar dalam penanganan pascabencana bukan hanya persoalan sumber daya. Tantangan lainnya adalah bagaimana berbagai pihak dapat menyatukan langkah, mempercepat pengambilan keputusan, dan memastikan setiap program benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
“Ketika masyarakat menghadapi situasi sulit, yang dibutuhkan bukan sekadar koordinasi di atas kertas, tetapi keputusan yang cepat, kerja yang terintegrasi, dan hasil yang benar-benar dirasakan. Kepemimpinan dalam masa kritis adalah kemampuan menyatukan berbagai kekuatan untuk mencapai tujuan bersama,” tegasnya.
Prinsip tersebut kemudian diterapkan melalui kerja Satgas PRR. Koordinasi lintas sektor diperkuat untuk memastikan program rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan lebih terarah.
Sejumlah hal menjadi perhatian, termasuk sinkronisasi program, identifikasi kebutuhan prioritas daerah, penyelesaian berbagai hambatan pelaksanaan, hingga percepatan realisasi dukungan pendanaan bagi wilayah terdampak.
Di tengah situasi pascabencana, setiap persoalan memiliki keterkaitan. Ketika satu bagian tersendat, proses pemulihan secara keseluruhan bisa ikut terhambat. Karena itu, sinergi antarlembaga menjadi penting agar berbagai kebutuhan dapat ditangani secara terpadu.
3. Memulihkan lebih dari sekadar bangunan

Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan (Adwil) Kemendagri, Safrizal Zakaria Ali (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Bagi Safrizal, ukuran keberhasilan pemulihan pascabencana juga tidak cukup hanya dilihat dari berdirinya kembali bangunan yang rusak.
Ada hal-hal yang tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat yang terdampak. Pelayanan publik harus kembali berjalan, aktivitas ekonomi perlu bergerak, dan kehidupan sosial masyarakat perlahan harus pulih.
Di titik itu, rehabilitasi dan rekonstruksi memiliki makna yang lebih luas. Pembangunan kembali bukan hanya soal mengganti sesuatu yang rusak, tetapi juga membuka jalan agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Penghargaan Inovasi Membangun Negeri yang diterima Safrizal pun menjadi momentum untuk kembali menegaskan pentingnya kepemimpinan kolaboratif, terutama ketika pemerintah berhadapan dengan situasi krisis.
Sebab, dalam keadaan yang serba terbatas dan penuh tekanan, kekuatan tidak hanya datang dari siapa yang memimpin. Kekuatan juga lahir dari kemampuan untuk menyatukan banyak pihak, mendengarkan kebutuhan masyarakat, mengambil keputusan dengan cepat, dan memastikan setiap langkah berujung pada pemulihan yang nyata.
Pada akhirnya, penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa menghadapi masa kritis bukan tentang siapa yang paling menonjol di depan, melainkan tentang seberapa banyak tangan yang bisa bergerak dalam arah yang sama.






















