Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
8 Fakta Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Iran yang Dikabarkan Meninggal
Ayatollah Ali Khamenei (commons.wikimedia.org/farsi.khamenei.ir)

  • Ayatollah Ali Khamenei lahir dalam keluarga sederhana yang berkeyakinan sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.

  • Ali Khamenei adalah murid dari Ayatollah Ruhollah Khomeini dan pernah menjadi presiden Iran selama dua periode meski tidak memiliki kekuasaan.

  • Ali Khamenei memiliki hubungan panjang dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) dan dikenal hidup sederhana serta tidak suka kemewahan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tagar Perang Dunia III sempat ramai setelah konflik Israel dan Iran pecah pada 13 Juni 2025. Serangan udara Israel ke fasilitas militer dan nuklir Iran dibalas dengan ratusan rudal balistik dari Teheran, sementara Amerika Serikat turut menyerang fasilitas nuklir di Natanz, Fordow, dan Isfahan sebelum kedua negara menyepakati gencatan senjata setelah 12 hari. Namun, dalam eskalasi terbaru, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan yang menargetkan pusat kepemimpinan di Teheran, perkembangan yang langsung mengguncang peta politik kawasan.

Sebelum kabar tersebut, Khamenei merupakan otoritas tertinggi Iran yang memegang kendali atas militer, kebijakan luar negeri, dan arah ideologi negara. Sejarawan kepada Reuters menilai rezim di bawah kepemimpinannya lebih stabil dibanding era Syah Mohammad Reza Pahlavi, yang digulingkan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini dalam Revolusi Iran 1979. Di bawah Khamenei, kekuatan ekonomi dan militer terpusat pada kelompok loyalis, sekaligus melanjutkan garis ideologis yang diwariskan Khomeini dalam membentuk Republik Islam Iran.

1. Keluarga Ayatollah Ali Khamenei berkeyakinan sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW

Ayatollah Ali Khamenei pada 1983 (commons.wikimedia.org/Khamenei.ir)

Sayyid Ali Hosseini Khamenei lahir pada 1939 dari orangtua asal Azerbaijan di Mashhad. Pemimpin tertinggi Iran itu tumbuh dalam lingkungan yang sederhana. Ayahnya merupakan ulama bernama Javad Khamenei. Ayahnya sangat beriman dan menjauhi segala bentuk kemewahan duniawi. Itulah sebabnya, keluarga ini tinggal di rumah sederhana dengan satu kamar saja.

Keluarga Javad Khamenei harus berjuang untuk mendapatkan cukup makanan. Pasalnya, Javad Khamenei sering kali dipanggil untuk ceramah di acara-acara keagamaan. Itu sebabnya, 8 anak-anaknya hidup sederhana. Meski hidup sederhana, Javad Khamenei adalah tokoh yang disegani. Ia sering menjadi imam salat di dua masjid di Mashhad. Keluarga tersebut merupakan keturunan Ali Zeyn-ol-Abedin, Imam keempat Syiah Islam. Ali Khamenei sendiri pun mengklaim bahwa dia masih punya garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Berkat hal inilah, dua saudara kandung Ali Khamenei juga mengikuti jejak ayah mereka sebagai ulama. Untuk melegitimasi diri mereka sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, tiga saudara kandung ini mengenakan sorban hitam.

2. Ayatollah Ruhollah Khomeini adalah guru Ali Khamenei

Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Republik Islam Iran (commons.wikimedia.org/Khamenei.ir)

Sebagai seorang ulama terkemuka di daerahnya, Javad Khamenei ingin agar putra-putranya mengenyam pendidikan agama Islam. Jadi, Ali Khamenei pun bersekolah di usia 4 tahun, di sekolah Muslim yang disebut maktab, sebagaimana yang ditulis dalam buku Ali Khamenei karya John Murphy. Maktab sendiri bukan sekolah negeri. Sekolah ini diciptakan sebagai sistem pendidikan Iran yang semakin sekuler.

Kemudian, Ali Khamenei memenuhi syarat sebagai ulama di usia 11 tahun. Sayangnya, pendidikan agama yang ditempuhnya ini justru diejek sebagian orang. Meski begitu, Ali Khamenei tetap tekun belajar agama, dan mencontoh ayahnya.

Ali Khamenei masuk ke Sulayman Khan Madrasah di Mashhad. Disanalah ia pertama kali mengenal tentang semangat politik sekaligus spiritual. Saat berada di madrasah, Ali Khamenei mendengar khotbah dari ulama revolusioner Iran bernama Mutjaba Nawwab Safawi, yang berkhotbah tentang penggulingan Syah dan mengembalikan sistem pemerintahan Iran yang berlandaskan ajaran Islam. "Pada saat itulah, karena Nawwab Safawi, kesadaran aktivisme Revolusioner Islam muncul dalam diri saya," ungkap Ali Khamenei di website-nya.

Setelah menempuh pendidikan di Najaf, Irak, pada 1957, ayahnya meminta Ali Khamenei untuk kembali ke Iran. Setibanya di Iran, ia menjadi mahasiswa di kota Qom. Di sana, ia mengambil kelas dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, calon pemimpin Revolusi Iran.

3. Tidak ada yang menyangka jika Ayatollah Ali Khamenei akan menjadi pemimpin tertinggi Iran

Ayatollah Ali Khamenei (kiri) dengan Sadeq Larijani pada Juni 2018 (commons.wikimedia.org/Hesam404)

Ayatollah Ali Khamenei adalah seorang putra yang berbakti dan seorang ulama yang berdedikasi. Meski begitu, tidak ada yang menyangka kalau ia akan menjadi tokoh politik Iran yang sangat disegani dan bahkan menjadi pemimpin tertinggi Iran. Keponakannya, Mahmood Mordankhani, menjelaskan kepada BBC bahwa Ayatollah Ali Khamenei adalah orang yang mencintai puisi. Ali juga sangat ramah dan terbuka. "Namun, yang menarik," kata Mahmood Mordankhani, "dalam ingatan saya, Ali Khamenei adalah orang yang sederhana."

Ali Khamenei memang mahasiswa yang cukup menonjol ketika ia menempuh pendidikan di Qom. Aktivitas revolusionernya, yang didorong oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini yang saat itu diasingkan, membuat Ali Khamenei ditangkap 6 kali. Selama menjadi tahanan di penjara pada 1970-an, Ali Khamenei pernah satu sel dengan seorang aktivis komunis bernama Houshang Asadi.

Sama seperti yang diungkapkan Mahmood Mordankhani, Houshang Asadi menganggap Ali Khamenei sebagai orang yang menyenangkan, dan punya selera humor yang baik. Houshang Asadi juga tidak menyangka kalau Ali Khamenei akan menjadi pemimpin Iran nantinya.

Penulis biografi Mehdi Khalaji membenarkan pernyataan-pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa Ali Khamenei adalah orang sederhana. Mehdi pun beranggapan bahwa kesederhanaan itulah yang membuat Ali Khamenei sukses.

Namun, Houshang Asadi, yang gerakan komunisnya pernah bersekutu dengan kaum revolusioner Islam melawan Syah, menyayangkan tentang kepribadian Ali Khamenei saat menjadi pemimpin tertinggi Iran. "Ia (Ali Khamenei) berubah dari seorang laki-laki yang memiliki semangat juang untuk keadilan sekarang menjadi seorang diktator," katanya kepada BBC. "Sekarang, Tn. Khamenei lebih merupakan seorang diktator daripada seorang Syah."

4. Ayatollah Ali Khamenei pernah jadi presiden Iran selama 2 periode meski tak punya kekuasaan

Ayatollah Ali Khamenei pada 1981 (commons.wikimedia.org/Khamenei.ir)

Ali Khamenei sempat diasingkan dari ibu kota Teheran selama 3 tahun ketika Revolusi Iran meletus. Namun, karena dihormati dan dipercaya oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang saat itu menjadi penguasa tertinggi pertama Republik Islam Iran yang baru, Ali Khamenei justru naik jabatan dalam pemerintahan Iran. Setelah beberapa waktu menjabat sebagai anggota Dewan Revolusi, imam, dan wakil menteri pertahanan, Ali Khamenei terpilih menjadi anggota legislatif sebagai anggota Partai Republik Islam atau Islamic Republican Party (IRP), lembaga politik yang turut didirikannya, sebagaimana yang ditulis Britannica. Tak lama kemudian, Ali Khamenei menjadi presiden Iran.

Ali Khamenei didukung oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini. Pasalnya, Ayatollah Ruhollah Khomeini sangat menghargai kesetiaan Ali Khamenei. Dalam pemilihan umum pada Oktober 1981, Ali Khamenei menang dengan 95 persen suara. Namun, presiden Iran pada saat itu hanya jabatan seremonial. Sebab, kekuasaan politik dipegang sepenuhnya oleh perdana menteri. Itu mengapa, Ali Khamenei sering berselisih dengan petahana, Mir Hossein Mousavi, yang lebih moderat.

Kendati begitu, perselisihan mereka diselesaikan demi kepentingan Ali Khamenei oleh Dewan Wali. Pasalnya, Ali Khamenei punya pengaruh pada kebijakan luar negeri Iran. Namun, kekuasaan Ali Khamenei sempat dibatasi hingga ia menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini sebagai pemimpin tertinggi. Khususnya, perubahan konstitusional yang didorong pada saat Ali Khamenei naik takhta, termasuk penghapusan jabatan perdana menteri dan penguatan kekuasaan presiden.

5. Ali Khamenei pernah menjadi target dari upaya pembunuhan yang nyaris menewaskannya

Ayatollah Ali Khamenei (commons.wikimedia.org/Khamenei.ir)

Republik Islam Iran tidak terlepas dari bentrokan setelah Revolusi Iran. Banyak mantan sekutu Ayatollah Ruhollah Khomeini, termasuk kelompok sayap kiri dan komunis, merasa dikhianati dan tidak dilibatkan dalam pemerintahan. Sebagai balasan, Mujahidin-e Khalq, yang merupakan tokoh oposisi Marxis, melancarkan kampanye pemberontakan terhadap para pemimpin pemerintahan teokratis baru di Iran pada awal tahun 80-an.

Mujahidin-e Khalq merencanakan pembunuhan dan pengeboman. Mujahidin-e Khalq dan kelompoknya membunuh lebih dari 70 tokoh penting Iran, yang semuanya bersekutu dengan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Diantara korbannya ada Mohammad Ali Rajai sebagai presiden Iran, dan Mohammad Javad Bhonar sebagai perdana menteri.

Ali Khamenei bertugas di kementerian pertahanan pada saat rencana pembunuhan ini sedang berlangsung. Kendati demikian, ia sedang mempersiapkan diri dalam pemilihan presiden. Pada Juni 1981, Ali Khamenei berpidato di sebuah masjid di Teheran. Di sana, sebuah bom yang disembunyikan di dalam perekam pita audio (tape deck) meledak. Akibatnya, lengan kanan Ali Khamenei lumpuh akibat ledakan itu. Tak hanya itu, paru-paru serta suaranya juga mengalami kerusakan. Ia pun harus dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan.

Dalam masa pemulihan, Ali Khamenei menerima pesan pribadi dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang memuji kesetiaan Ali. Ali Khamenei sendiri menganggap kalau keselamatannya itu merupakan tanda dari Allah SWT bahwa ia dipilih untuk melaksanakan tugas yang jauh lebih berat.

6. Suksesi Ali Khamenei memerlukan revisi konstitusional

Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Republik Islam Iran pada Pilpres Iran 2017 (commons.wikimedia.org/Khamenei.ir)

Ayatollah Ruhollah Khomeini meninggal dunia pada 1989. Kepergiannya ini meninggalkan kekosongan dalam pemerintahan Republik Islam Iran. Selama hampir 10 tahun, calon pengganti Ayatollah Ruhollah Khomeini diasumsikan adalah Hussein Ali Montazeri. Namun, Hussein Ali Montazeri sering mengkritik pemerintahan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Ia pernah mengatakan bahwa badan intelijen rezim Ayatollah Ruhollah Khomeini lebih brutal daripada badan intelijen Syah. Pernyataan kontroversialnya ini pun membuatnya kehilangan dukungan dari kalangan politikus Iran.

Putra Ali Khomeini dan seorang ulama terkemuka Iran mengaku menjadi saksi bahwa sebelum Ayatollah Ruhollah Khomeini meninggal dunia, Ruhollah Khomeini pernah berwasiat dan menunjuk Ali Khamenei sebagai penggantinya untuk menjadi pemimpin tertinggi (pemimpin agung). Kemudian, dewan yang bertanggung jawab atas amandemen terhadap konstitusi Iran menunjuk Ali Khamenei dua hari setelah kematian Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Sebenarnya, ada keraguan dari beberapa pihak jika Ali Khamenei menerima jabatan tersebut. Sebab, kepribadian Ali Khamenei tidak sekuat Ayatollah Ruhollah Khomeini. Selain itu, pendidikan agama serta prestasinya dianggap remeh. Ada pula hambatan hukum bagi Ali Khamenei untuk menjadi pemimpin tertinggi. Pasalnya, konstitusi mengharuskan pemimpin tertinggi menjadi seorang ayatollah agung. Di sisi lain, Ali Khamenei hanyalah seorang ulama.

Kendati begitu, Ali Khamenei akhirnya diangkat menjadi ayatollah, persyaratan untuk menjadi pemimpin tertinggi pun dilonggarkan, dan politisi terkemuka Iran—termasuk calon presiden Ali Akbar Hashemi Rafsanjani—mendukung pengangkatan Ali Khamenei. Namun, setelah menjadi pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei lebih pilih-pilih sekutu ketimbang pendahulunya. Ali Khamenei juga membuat kesepakatan dengan kelompok garis keras untuk memperkuat kekuasaannya.

7. Ali Khamenei memiliki hubungan yang panjang dengan Garda Revolusi Iran (IRGC)

Latihan pasukan darat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dengan kehadiran Mayor Jenderal Hossein Salami, Panglima Tertinggi IRGC, dan sekelompok komandan senior IRGC di wilayah Aras. (commons.wikimedia.org/Tasnim News Agency/Hossein Zohrevand)

Sejak diangkat menjadi pemimpin tertinggi Iran pada 1989, Ayatollah Ali Khamenei didukung oleh Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Asosiasi tersebut sudah ada sebelum jabatan Ayatollah Ali Khamenei saat ini. Sebab, Ali pernah menjadi komandan IRGC.

Meskipun pernah menjadi pemimpin IRGC, para anggota IRGC tidak begitu yakin dengan pandangan Ayatollah Ali Khamenei sepanjang 1980-an, seperti yang dikutip Foreign Policy. Sebab, IRGC menganggap bahwa Ayatollah Ali Khamenei terlalu moderat. Ketidakpercayaan IRGC begitu tinggi sehingga Ayatollah Ali Khamenei pernah ditolak untuk mengunjungi garis depan Perang Iran-Irak.

Meski begitu, pada tahun 1989, Ayatollah Ali Khamenei justru menjadi pemimpin tertinggi Iran, meski tanpa kepercayaan penuh dari para tetua rezim. Nah, untuk memastikan posisinya, Ayatollah Ali Khamenei menegosiasikan kesepakatan dengan IRGC. Jika IRGC menerimanya sebagai pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei akan memberikan IRGC hak dalam urusan politik. IRGC dijanjikan akan menjadi lembaga pertama yang didanai pemerintah, mendirikan badan intelijen independen sendiri, memveto inisiatif kebijakan luar negeri, dan mengambil bagian penting dari ekonomi Iran. IRGC pun menerima kesepakatan tersebut dan IRGC telah menopang rezim Ali Khamenei sejak saat itu.

8. Ali Khamenei dikenal sederhana dan tidak suka kemewahan

Ayatollah Ali Khamenei (commons.wikimedia.org/Khamenei.ir)

Contoh hidup sederhana yang ditunjukkan ayahnya masih melekat pada Ayatollah Ali Khamenei sepanjang hidupnya. Ayatollah Ali Khamenei pernah bercerita tentang masa kecilnya yang tinggal di rumah dengan satu kamar tidur, hanya makan roti dan kismis untuk makan malam, dan tidak membeli pakaian baru jika pakaiannya bolong. Alhasil ibunya akan menjahit pakaiannya yang bolong dengan pakaian bekas ayahnya. Rupanya, masyarakat Iran juga berasumsi bahwa Ali Khamenei masih hidup sederhana hingga saat ini. Bukan karena keterbatasan, kesederhanaan yang ditunjukan Ali Khamenei merupakan pilihannya sendiri. Sebagai pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei sudah pasti tercukupi dari segala aspek, tapi ia lebih memilih hidup apa adanya dan tidak berlebihan.

Selama masa kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei, pemerintahannya memang jauh dari kata sempurna, salah satunya protes besar-besaran setelah meninggalnya seorang perempuan bernama Mahsa Amini yang sempat viral di jagat maya.

Jika kabar wafatnya Ayatollah Ali Khamenei terbukti benar, pertanyaan berikutnya adalah siapa yang akan mengambil alih kepemimpinan Iran. Mengutip laporan Al Jazeera, konstitusi Iran telah mengatur mekanisme khusus apabila Pemimpin Tertinggi meninggal dunia. Dalam skenario tersebut, kepemimpinan sementara akan dijalankan oleh sebuah dewan beranggotakan tiga orang, yakni presiden Iran, kepala lembaga peradilan, serta seorang ulama yang mewakili Dewan Penjaga Konstitusi.

Selain itu, kewenangan tertentu juga disebut diberikan kepada Ali Larijani, yang menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional, dalam proses transisi kekuasaan tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team