Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Fakta-Fakta Aksi Protes soal Biaya Hidup di Italia yang Berakhir Ricuh
Aksi protes anti-pemerintah yang diselenggarakan oleh gerakan Italia in Piazza, di Piazza Duomo, Milan, pada 17 Oktober 2026. (Piero CRUCIATTI/AFP)
  • Protes nasional menolak lonjakan harga kebutuhan pokok, tarif bahan bakar, dan pajak memicu bentrokan di sejumlah kota Italia; 141 petugas terluka dan 28 demonstran ditahan, termasuk 12 anak di bawah umur.
  • Kericuhan terjadi di Milan, Bologna, Turin, dan Bergamo, melibatkan pelemparan batu, botol kaca, petasan, serta dugaan perakitan bom molotov; 43 orang diproses atas perusakan fasilitas umum.
  • Milan mengalami kerusakan terparah, termasuk mobil polisi, etalase toko, dan penjarahan; kerugian pertokoan diperkirakan melampaui 500 ribu euro, sementara pemerintah menggelar koordinasi keamanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Unjuk rasa menentang lonjakan biaya hidup di sejumlah kota di Italia berujung bentrokan sepanjang akhir pekan, dengan ketegangan yang berlanjut di Milan hingga Minggu (18/10/2026). Benturan fisik antara massa aksi dan aparat keamanan menyebabkan sedikitnya 141 petugas terluka serta 28 demonstran ditangkap.

Dari puluhan demonstran yang diamankan tersebut, pihak berwenang mencatat sebanyak 12 orang di antaranya masih berstatus anak di bawah umur. Kepolisian setempat kini memperketat penjagaan di lokasi-lokasi rawan serta memproses hukum 43 orang yang diduga terlibat perusakan fasilitas umum.

1. Sebaran bentrokan dan penangkapan di sejumlah kota

Aksi protes anti-pemerintah yang diselenggarakan oleh gerakan Italia in Piazza, di Piazza Duomo, Milan, pada 17 Oktober 2026. (Piero CRUCIATTI/AFP)

Kericuhan meluas di beberapa kota kawasan utara Italia saat massa aksi mendesak barikade pengamanan. Para petugas terluka akibat lemparan batu, hantaman benda tumpul, dan letusan petasan.

Di Milan, polisi menahan 17 demonstran yang merusak fasilitas di pusat bisnis. Sementara itu di Bologna, bentrokan di sekitar stasiun kereta api berujung pada penangkapan lima remaja yang melempari aparat dengan botol kaca dan potongan pembatas jalan.

Kejadian serupa pecah di Turin dan Bergamo, di mana polisi menangkap seorang pria karena menyerang aparat serta mengamankan tiga remaja atas dugaan perakitan bom molotov.

2. Tuntutan warga terkait lonjakan biaya hidup

ilustrasi Italia (pexels.com/Helena Jankovičová Kováčová)

Gelombang protes berskala nasional ini digerakkan oleh kelompok Italia in Piazza untuk menolak kenaikan harga kebutuhan pokok, lonjakan tarif bahan bakar, serta tingginya beban pajak. Aksi ini diikuti oleh sekitar 5.000 peserta di Milan, 3.000 orang di Turin, 2.000 orang di Bologna, serta ratusan warga lainnya di Bergamo dan Brescia.

Menyikapi situasi tersebut, Wali Kota Milan, Giuseppe Sala, dan Wali Kota Bologna, Matteo Lepore, menyatakan memahami keluhan ekonomi warga, tetapi menegaskan bahwa aksi kekerasan fisik tidak dapat dibenarkan.

"Jangan sampai anak-anak muda dimanfaatkan oleh kelompok perusuh yang sengaja menunggangi unjuk rasa ini," kata Lepore, dilansir Livemint.

3. Kerusakan fasilitas umum dan pertokoan di Milan

Aksi protes anti-pemerintah yang diselenggarakan oleh gerakan Italia in Piazza, di Piazza Duomo, Milan, pada 17 Oktober 2026. (Piero CRUCIATTI/AFP)

Pusat kota Milan menjadi area dengan dampak kerusakan paling parah setelah kelompok massa merusak satu mobil dinas kepolisian, memecahkan kaca etalase, dan menjarah barang dari sejumlah toko. Pasukan antihuru-hara membubarkan massa menggunakan semprotan air dan gas air mata.

Asosiasi pedagang ritel Confcommercio menaksir kerugian materi akibat kerusakan pertokoan tersebut mencapai lebih dari 500 ribu euro (Rp10,14 miliar).

"Aksi perusakan fasilitas kota sama sekali bukan cerminan unjuk rasa damai," kata Perdana Menteri Giorgia Meloni.

Menyusul aksi kerusuhan, pemerintah menggelar rapat koordinasi keamanan pada Senin (19/10/2026). Bersamaan dengan itu, Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini mendesak adanya kewajiban uang jaminan bagi penyelenggara demo yang berpotensi memicu kerusakan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article