Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Fakta-Fakta Trump Sepakati Gencatan Senjata AS-Iran selama 2 Pekan
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/U.S. Embassy Bern via commons.wikimedia.org/U.S. Embassy Bern)
  • Donald Trump menyetujui gencatan senjata dua pekan dengan Iran setelah negara itu bersedia membuka Selat Hormuz sepenuhnya, sebagai langkah menuju perdamaian jangka panjang di Timur Tengah.
  • Sebelum kesepakatan tercapai, Trump sempat mengancam akan menghancurkan seluruh jembatan dan pembangkit listrik di Iran jika negara tersebut menolak membuka Selat Hormuz.
  • Presiden Iran Masoud Pezeshkian menanggapi ancaman itu dengan tegas, menyatakan kesiapannya berkorban demi membela negaranya, sementara warga Iran membentuk gerakan dukungan nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah menyepakati gencatan senjata dengan Iran selama dua pekan. Langkah ini dilakukan karena Iran dikabarkan sudah bersedia untuk membuka Selat Hormuz secara penuh. Ini merupakan syarat utama yang diberikan Trump ke Iran untuk mengakhiri perang.

“Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan, mereka meminta saya untuk menahan serangan yang akan dikirim dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara lengkap, segera, dan aman. Saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” tulis Trump di Truth Social, Selasa (7/4/2026), dilansir Times of Israel.  

Keputusan Trump ini disambut baik oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Namun, ia menegaskan gencatan senjata hanya berlaku antara AS, Israel, dan Iran saja, tidak termasuk Lebanon. 

1. Gencatan senjata harus berjalan dua arah

ilustrasi gencatan senjata (pexels.com/Efe Ersoy)

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan gencatan senjata harus dijalankan oleh kedua belah pihak, yakni oleh AS dan Iran. Artinya, selama dua pekan ke depan, kedua negara tidak boleh saling melancarkan serangan. 

Trump mengatakan, AS saat ini juga sudah menerima semua proposal perdamaian dari Iran agar serangan tidak dilakukan. Sebagai balasannya, Trump meminta Iran untuk turut mematuhi keputusan gencatan senjata yang telah dibuat Negeri Paman Sam. 

“Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah! Alasannya adalah karena kita telah memenuhi dan melampaui semua tujuan militer dan sudah sangat jauh dalam mencapai kesepakatan pasti mengenai perdamaian jangka panjang dengan Iran serta perdamaian di Timur Tengah. Kami (sudah) menerima proposal sepuluh poin dari Iran dan kami yakin itu adalah dasar yang layak untuk bernegosiasi,” lanjut Trump. 

2. Trump sebelumnya mengancam akan menyerang Iran

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Sebelumnya, Trump mengancam akan menyerang Iran dengan kekuatan yang lebih besar jika mereka enggan membuka Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, Trump mengancam akan menyerang semua pembangkit listrik dan jembatan yang ada di Iran pada Selasa malam.  

“Kami punya rencana, di mana setiap jembatan di Iran akan hancur lebur pada pukul 12 tengah malam besok. Setiap pembangkit listrik (juga) akan berhenti beroperasi, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah digunakan lagi,” jelas Trump.

“Maksud saya, penghancuran total (akan dilakukan) pada pukul 12 tengah malam. Itu akan terjadi dalam jangka waktu empat jam jika kita menginginkannya,” lanjut Trump.

3. Presiden Iran merespons ancaman Trump

potret Presiden Iran, Masoud Pezeshkian (commons.wikimedia.org/khamenei.ir)

Ancaman tersebut lantas direspons oleh Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Dalam pernyataannya, Pezeshkian mengaku tidak gentar dengan ancaman dari Trump. Ia menegaskan siap mengorbankan nyawanya demi melindungi Iran dari serangan negara mana pun, termasuk AS. 

Hingga saat ini, lebih dari 14 juta warga Iran yang bangga telah menyatakan kesediaan mereka untuk mengorbankan nyawa demi membela Iran. Saya pun telah, sedang, dan akan terus mengorbankan nyawa demi Iran,” ujar Pezeshkian dalam sebuah unggahan di X dilansir Anadolu Agency.

Sebagai bentuk dukungan untuk mempertahankan negara dari ancaman AS, warga Iran membuat sebuah gerakan. Gerakan tersebut diinisiasi oleh Sekretaris Dewan Tertinggi Pemuda Iran, Alireza Rahimi. 

Rahimi mengajak kaum muda, atlet, seniman, mahasiswa, dan profesor dari seluruh universitas untuk berkumpul di dekat pembangkit listrik dan jembatan yang ada di Iran. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk kesiapan warga Iran untuk mengorbankan nyawanya demi negara. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team