Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

AS-Iran Bahas Gencatan Senjata 45 Hari, Negosiasi 2 Tahap Disiapkan

AS-Iran Bahas Gencatan Senjata 45 Hari, Negosiasi 2 Tahap Disiapkan
ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)
Intinya Sih
  • AS dan Iran tengah menjalani negosiasi tidak langsung dengan bantuan mediator dari Pakistan, Mesir, dan Turki untuk menjajaki gencatan senjata sementara selama 45 hari.
  • Iran menolak gencatan senjata simbolis tanpa implementasi nyata, sementara Presiden AS Donald Trump memberi tenggat baru dan memperingatkan akan mengambil tindakan besar jika kesepakatan gagal.
  • Peluang tercapainya kesepakatan dinilai kecil, dengan risiko eskalasi besar yang dapat memicu serangan luas antara AS, Israel, dan Iran terhadap fasilitas energi serta infrastruktur sipil di kawasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Amerika Serikat (AS) dan Iran tengah menjalani dialog tidak langsung dengan bantuan mediator untuk menjajaki gencatan senjata sementara selama 45 hari. Upaya ini diarahkan guna meredam potensi eskalasi di kawasan Asia Barat sekaligus membuka peluang menuju penyelesaian konflik jangka panjang.

Laporan Axios menyebutkan negosiasi tersebut mengacu pada skema dua tahap. Tahap awal berupa penerapan gencatan senjata sementara selama 45 hari yang masih memungkinkan diperpanjang. Selanjutnya, tahap kedua akan difokuskan pada pembahasan lebih mendalam demi meraih kesepakatan komprehensif yang mengakhiri konflik.

1. Tiga negara mediator fasilitasi komunikasi tidak langsung

ilustrasi kawasan Timur Tengah (pexels.com/Lara Jameson)
ilustrasi kawasan Timur Tengah (pexels.com/Lara Jameson)

Dilansir dari Economic Times, proses dialog melibatkan perantara dari Pakistan, Mesir, dan Turki. Selain itu, jalur komunikasi tidak langsung juga terjalin antara utusan AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Fokus utama pembahasan mencakup kendali Iran atas Selat Hormuz serta stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi. Para mediator menilai dua isu tersebut baru bisa dituntaskan dalam kesepakatan akhir, sehingga untuk sementara difokuskan pada langkah-langkah kecil guna membangun kepercayaan selama periode gencatan senjata awal.

2. Iran tolak gencatan senjata simbolis dalam negosiasi

ilustrasi bendera iran (pexels.com/aboodi vesakaran)
ilustrasi bendera iran (pexels.com/aboodi vesakaran)

Pihak Iran menegaskan keengganannya menerima gencatan senjata yang hanya bersifat formalitas tanpa implementasi nyata, merujuk pengalaman sebelumnya di Gaza dan Lebanon. Angkatan Laut Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) juga menyatakan kondisi di Selat Hormuz tak akan kembali seperti sebelum konflik.

Situasi ini kian mendesak setelah Presiden AS Donald Trump memperpanjang tenggat yang ia tetapkan. Batas baru tersebut ditentukan pada Selasa (7/6/2026) pukul 20.00 waktu setempat (EST). Trump menyampaikan kepada Axios bahwa negosiasi berlangsung intens dan peluang kesepakatan masih terbuka, namun ia juga memperingatkan akan mengambil tindakan besar jika kesepakatan tak tercapai.

“Ada peluang bagus, tetapi jika mereka tidak membuat kesepakatan, saya akan meledakkan semuanya di sana,” katanya, dikutip TRT World.

3. Peluang kesepakatan kecil ancaman eskalasi meningkat

ilustrasi perang
ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim

Kemungkinan tercapainya kesepakatan, termasuk yang bersifat parsial dalam 48 jam ke depan, dinilai masih sangat rendah. Kondisi ini disebut sebagai momentum terakhir untuk mencegah eskalasi besar yang berpotensi melibatkan serangan luas dari AS dan Israel ke infrastruktur sipil serta fasilitas energi Iran.

Jika serangan terjadi, Iran diperkirakan akan melakukan balasan dengan menargetkan fasilitas energi dan air di negara-negara Teluk serta Israel. Rencana cadangan untuk operasi pengeboman disebut telah disiapkan. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah usulan dari pihak AS telah diajukan, tetapi belum ada yang disetujui Iran.

Para mediator mengingatkan bahwa ruang untuk penundaan sudah tak tersedia. Mereka juga menyuarakan kekhawatiran serius terhadap potensi kerusakan besar akibat serangan balasan yang dapat menghantam fasilitas minyak dan air di kawasan Teluk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More