Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
FBI Selidiki Ancaman Surat Misterius Jelang Pemilu Sela AS
Bendera Amerika Serikat (unsplash.com/chris robert)
  • FBI dan dinas inspeksi pos AS menyelidiki surat berisi serbuk putih yang menyasar pejabat pemilu serta politikus di lebih dari 15 negara bagian menjelang pemilu sela.
  • Pengujian awal di Wisconsin, Louisiana, dan Massachusetts menyatakan serbuk tidak mengandung racun kimia atau bahan biologis berbahaya; sejumlah paket berhasil dihentikan sebelum tiba di kantor pemilu.
  • Dinas pos memperketat pemilahan dan protokol keselamatan demi distribusi jutaan surat suara, sementara penyelidik memeriksa sidik jari, cap pos, serta rekam jejak digital untuk mengungkap pelaku.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Biro Investigasi Federal (FBI) bersama dinas inspeksi pos Amerika Serikat menyelidiki kiriman surat mencurigakan yang ditujukan kepada para pejabat pemilu dan anggota dewan pada Kamis (15/10/2026). Dari pemeriksaan awal, sejumlah amplop tersebut diketahui berisi serbuk putih tanpa disertai identitas pengirim yang jelas.

Penyelidikan berskala nasional ini berlangsung kurang dari tiga pekan menjelang pemilihan umum sela pada 3 November untuk menentukan kendali kursi di Kongres. Kasus ini mencuat tepat ketika pihak dinas pos mulai bersiap menyalurkan jutaan surat suara milik warga ke berbagai wilayah.

1. Pengiriman surat mencurigakan ke kantor para pejabat pemilu

Kiriman ancaman tersebut menyasar kantor pemilu dan perwakilan politik di lebih dari 15 negara bagian. Di tingkat pusat, sasaran surat mencakup kantor sejumlah politisi Partai Demokrat di Capitol Hill, antara lain Chuck Schumer, Alex Padilla, Chris Murphy, Seth Moulton, dan Ritchie Torres.

Sementara di tingkat daerah, staf di kantor Sekretaris Negara Bagian Arizona, Adrian Fontes, sempat dievakuasi untuk memastikan ruangan steril dari zat berbahaya. Peristiwa serupa juga dilaporkan melanda komisi pemilu di Wisconsin, Louisiana, dan Oklahoma. Dalam proses penyelidikan, aparat menemukan perbedaan antara cap pos pada amplop dan alamat pengirim yang tertera, termasuk pencatutan nama organisasi Sosialis Demokratik Amerika (DSA).

"Kejadian ini tidak akan memengaruhi kesiapan kami dalam melayani para pemilih," tegas Meagan Wolfe selaku pimpinan penyelenggara pemilu Wisconsin, dilansir The Independent.

2. Hasil pengujian laboratorium terhadap kandungan serbuk putih misterius

Guna mencegah risiko bahaya, aparat gabungan memperketat pemilahan surat di pusat logistik pos serta mengeluarkan peringatan resmi agar staf parlemen memisahkan kiriman yang mencurigakan. Langkah cepat ini berhasil menghentikan sejumlah paket sebelum tiba di kantor pemilu Ohio, Maryland, Idaho, Georgia, New Hampshire, dan Pennsylvania.

Selain itu, hasil pengujian awal laboratorium di Wisconsin, Louisiana, dan Massachusetts memastikan bahwa serbuk putih tersebut tidak mengandung racun kimia maupun bahan biologis berbahaya. Terkait kejadian ini, gabungan asosiasi pemilu NASS dan NASED menegaskan pentingnya jaminan keselamatan bagi seluruh petugas di lapangan.

"Segala bentuk ancaman terhadap petugas pemilu sama sekali tidak dapat diterima," ujar Brendan Donahue dari dinas inspeksi pos.

3. Pengetatan protokol pengamanan untuk distribusi surat suara pemilu

Teror surat ini kian menambah beban operasional para petugas pemilu dan membangkitkan kekhawatiran publik atas serangan teror antraks pada 2001 silam. Menanggapi situasi tersebut, pihak dinas pos kini menerapkan protokol keselamatan tambahan agar jutaan surat suara warga tetap terdistribusi dengan lancar tanpa risiko kontaminasi.

Sekretaris Negara Bagian Ohio, Frank LaRose, menegaskan bahwa aksi teror semacam ini tidak boleh mengganggu jalannya pesta demokrasi yang aman.

"Ancaman pengecut ini tidak akan membelokkan kewajiban kami untuk melayani masyarakat," kata LaRose.

Penyelidik federal saat ini masih terus memeriksa sidik jari, cap pos, serta rekam jejak digital guna mengungkap pelaku di balik teror nasional tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article