Film NAZA Tuai Kontroversi, Netanyahu Desak Pengusutan Intelijen

- Benjamin Netanyahu mendesak penyelidikan dan penuntutan pidana terhadap personel militer yang diduga membocorkan rahasia intelijen dalam dokumenter NAZA, termasuk dugaan pelanggaran keamanan dan pencemaran nama baik.
- Dokumenter karya Yuval Abraham dan Rachel Szor memuat kesaksian 24 anggota militer serta intelijen tentang sistem AI yang mengumpulkan data, menentukan target serangan, dan menghitung batas korban sipil.
- Militer Israel membantah film tersebut dengan menyebutnya menyesatkan, sementara pembuat film menyatakan investigasi tiga tahun mereka sah serta berkomitmen melindungi para jurnalis.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, meminta penyelidikan terhadap anggota militer yang membocorkan rahasia negara dalam film dokumenter perang Gaza berjudul NAZA pada Minggu (11/10/2026). Permintaan ini muncul setelah film investigasi tersebut tayang dan memperlihatkan dampak operasi militer di wilayah konflik.
Pemerintah Israel berencana menempuh jalur hukum terhadap personel yang membocorkan rahasia militer tersebut ke publik internasional. Saat ini, aparat keamanan setempat mulai menyiapkan tindakan disiplin dan penyelidikan pidana secara mendalam.
1. Desakan Netanyahu untuk menuntut pidana pembocor rahasia militer
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengirim surat kepada Kepala Staf Militer Eyal Zamir, Kepala Shin Bet David Zini, dan Jaksa Agung Gali Baharav-Miara untuk mendesak penuntutan pidana. Penyelidikan ini berfokus pada dugaan bocornya informasi rahasia intelijen serta pelanggaran aturan keamanan oleh unit khusus.
"Ada kekhawatiran bahwa orang-orang yang terlibat dalam film tersebut telah melakukan tindak pidana, termasuk pelanggaran berat berupa pembocoran rahasia negara dan pelanggaran keamanan oleh unit intelijen yang sangat sensitif," kata Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dilansir Al Jazeera.
Tuntutan hukum ini juga memuat tuduhan pencemaran nama baik yang dianggap merugikan posisi diplomasi Israel di mata dunia. Langkah tegas ini diambil demi menegakkan kedisiplinan militer sekaligus mencegah terulangnya kebocoran rahasia penting di masa mendatang.
2. Pengungkapan sistem kecerdasan buatan militer dalam film dokumenter

Sutradara Yuval Abraham dan Sutradara Rachel Szor, pemenang Penghargaan Khusus Juri untuk film "Naza", menghadiri sesi pemotretan di karpet merah usai upacara penutupan Festival Film Venesia ke-83 di Venice Lido pada 12 September 2026 (AFP/TIZIANA FABI) Film dokumenter karya jurnalis Yuval Abraham dan Rachel Szor ini menampilkan kesaksian rahasia dari 24 anggota militer dan personel intelijen. Para narasumber tersebut membongkar cara kerja pengumpulan data pemantauan massal yang dijalankan menggunakan teknologi komputer canggih.
Sistem kecerdasan buatan tersebut dilaporkan menentukan puluhan ribu target serangan secara otomatis, sekaligus menghitung batas jumlah korban warga sipil yang masih dibolehkan dalam setiap pengeboman. Istilah NAZA sendiri merupakan sandi militer untuk menyebut dampak kerusakan atau korban sampingan dari operasi perang. Wawancara rahasia ini sengaja dilakukan di atap sebuah gedung di Tel Aviv guna melindungi narasumber dari ancaman balas dendam.
"Kami ingin film ini tetap sederhana, tetapi rasanya sangat mengerikan saat mendengar seseorang menjelaskan sistem yang memicu terjadinya pembunuhan massal," kata Ko-Sutradara Rachel Szor.
3. Bantahan militer Israel terhadap tuduhan pembunuhan massal
Pihak militer membantah keras tuduhan pembunuhan massal berencana tersebut. Mereka menegaskan bahwa para narasumber hanya mengetahui tahap awal pengumpulan data, bukan keseluruhan proses pengambilan keputusan di tingkat komando.
"Film ini memberikan gambaran yang keliru, menyesatkan, dan tidak benar tentang penentuan target serta pelaksanaan serangan militer," kata Pasukan Pertahanan Israel.
Di sisi lain, pihak pembuat film berkomitmen melindungi jurnalis mereka dari jeratan hukum. Juru bicara mereka menyatakan bahwa investigasi ini berjalan selama tiga tahun, sehingga kesaksian di dalamnya terbukti sah dan penting untuk diketahui publik.




















