Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gagal Dapat Nobel, Trump Semprot Norwegia
Presiden AS, Donald Trump (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, Creative Commons Attribution-Share Alike 2.0 Generic, via Wikimedia Commons)
  • Donald Trump mengkritik Norwegia setelah gagal meraih Nobel Perdamaian 2026, bahkan menyatakan tak menginginkan imigran dari negara itu; pernyataannya bukan kebijakan resmi.
  • Dalam rapat umum, Trump juga mengklaim akan segera mengakhiri konflik Iran serta perang Rusia-Ukraina, meski laporan intelijen AS 2025 menyebut Iran menangguhkan upaya senjata nuklir sejak 2003.
  • Nobel Perdamaian 2026 diberikan kepada mantan kepala HAM PBB Navi Pillay atas perannya dalam penuntutan kejahatan perang dan genosida; ekonomi Norwegia dilaporkan tetap kuat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kritik terhadap Norwegia setelah gagal meraih Hadiah Nobel Perdamaian 2026. Trump menyampaikan kekesalannya saat menghadiri rapat umum politik di Port Huron, Michigan, pada Minggu (25/10/2026), ketika membahas kerusuhan di Prancis dan isu imigrasi.

Dalam kesempatan tersebut, Trump secara terbuka menyatakan tak menginginkan imigran dari Norwegia karena dirinya tak mendapatkan penghargaan Nobel.

“Karena saya tidak mendapatkan Hadiah Nobel … Jadi saya tidak menginginkan siapa pun dari Norwegia,” katanya, dikutip The Independent.

Trump juga menyebut Norwegia telah menjadi negara shit house (negara sampah). Istilah tersebut sebelumnya pernah ia gunakan untuk Haiti, Libya, Somalia, dan Yaman. Pernyataan itu tak diadopsi sebagai kebijakan resmi imigrasi.

1. Trump mengecam komite nobel dalam rapat umum New York

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (The White House from Washington, DC, public domain, via Wikimedia Commons)

Menurut laporan The Guardian, Trump sebelumnya juga melayangkan kritik terhadap Norwegia dalam rapat umum Partai Republik di Syracuse, New York, pada 9 Oktober 2026. Ia mengecam komite Nobel yang berkantor di Oslo karena menganggap kontribusinya tak mendapat pengakuan.

Trump menilai kegagalannya memperoleh penghargaan tersebut sebagai noda yang tak akan terhapus bagi Norwegia.

2. Trump mengklaim akan mengakhiri perang Iran dan Ukraina

ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim)

Di tengah kritiknya, Trump mengklaim akan segera mengakhiri konflik di Iran serta perang antara Rusia dan Ukraina. Ia menyebut perang Iran akan berakhir dengan cepat melalui opsi mutlak dan mengeklaim telah menyelamatkan banyak nyawa.

Namun, klaim tersebut berbeda dengan laporan badan-badan intelijen AS kepada Kongres pada 2025. Laporan itu menyebut Iran telah menangguhkan upaya mengejar senjata nuklir sejak 2003.

3. Navi Pillay memenangkan Nobel Perdamaian 2026

Navi Pillay, eks kepala hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (Wayamo Foundation, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

Hadiah Nobel Perdamaian 2026 diberikan kepada Navi Pillay, eks kepala hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ketua Komite Nobel Jørgen Watne Frydnes menyebut hakim asal Afrika Selatan itu mendapat pengakuan atas perannya dalam memastikan penuntutan kejahatan perang dan genosida.

Pillay menanggapi kemenangannya dengan candaan saat menghadiri konferensi di Nuremberg, Jerman.

“Jika Anda bertepuk tangan sedikit lebih banyak, saya mungkin akan berbagi hadiah ini dengan Trump,” katanya.

Di sisi lain, Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat perekonomian Norwegia tetap kuat. Dana kekayaan negara tersebut membukukan laba rekor sebesar 1,75 triliun krona Norwegia (setara Rp3.403 triliun) pada paruh pertama 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article