Gaza Makamkan 75 Jenazah Korban Perang yang Tertimbun Hampir 3 Tahun

- Gaza memakamkan massal 75 jenazah yang dievakuasi dari reruntuhan bangunan di Al-Daraj, Kota Gaza, hampir tiga tahun setelah serangan awal perang.
- Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak dari sekitar 20 keluarga, sementara petugas menyebut lebih dari 8.000 warga Palestina masih hilang di bawah puing.
- Pertahanan Sipil Gaza menghadapi kelangkaan alat berat dalam evakuasi; Hamas mendesak PBB dan komunitas internasional menekan Israel agar mengizinkan peralatan serta tim penyelamat masuk.
Jakarta, IDN Times - Ratusan warga Palestina menghadiri pemakaman massal 75 jenazah di Kota Gaza pada Minggu (18/10/2026) pagi. Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan bahwa seluruh jenazah tersebut baru dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan Israel pada bulan-bulan awal perang. Prosesi pemakaman dimulai dari luar Klub Olahraga Daraj sebelum seluruh jenazah dimakamkan di Pemakaman Sheikh Radwan.
Puluhan jenazah yang dibalut kain kafan dan bendera Palestina itu disemayamkan sejak Sabtu malam di lokasi pemberangkatan. Kerabat korban menyalakan lilin di samping jenazah untuk memberikan penghormatan terakhir kepada anggota keluarga yang tertimbun selama hampir tiga tahun. Petugas penyelamat memperingatkan bahwa ribuan warga lainnya masih tertimbun puing bangunan di tengah kelangkaan alat berat.
1. Mayoritas korban merupakan perempuan dan anak-anak

pengeboman Kota Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim) Sebagian besar jenazah yang dimakamkan berasal dari lingkungan Al-Daraj di timur laut Kota Gaza. Koresponden Al Jazeera, Nour Khaled, melaporkan bahwa jenazah yang ditemukan hanya tersisa berupa bagian tubuh dan barang-barang pribadi milik korban.
"Mayoritas jenazah tersebut merupakan perempuan dan anak-anak yang berada di dalam rumah saat menjadi sasaran serangan," kata Khaled, dilansir Al Jazeera.
Direktur Hubungan Masyarakat dan Media Pertahanan Sipil Gaza, Abdullah al-Majdalawi, menjelaskan bahwa timnya mengevakuasi puluhan jenazah itu dari beberapa rumah yang hancur di Al-Daraj selama beberapa pekan terakhir. Bangunan-bangunan tersebut dibom saat penghuninya berada di dalam pada awal perang yang meletus Oktober 2023. Para korban berasal dari sekitar 20 keluarga Palestina, termasuk warga pengungsi yang saat itu menumpang berlindung di rumah tersebut.
2. Lebih dari 8 ribu jenazah warga Gaza masih tertimbun reruntuhan

pemandangan reruntuhan di Gaza. (pixabay.com/hosnysalah) Evakuasi di lingkungan Al-Daraj merupakan bagian dari proyek tahap kedua Pertahanan Sipil Gaza untuk mengangkat jenazah warga Palestina dari bawah puing bangunan. Operasi tahap kedua yang dimulai pada 19 Juli 2026 ini menyasar 147 rumah hancur di Kota Gaza, Gaza utara, dan Gaza tengah. Sekitar 1.072 jenazah diperkirakan masih terjebak di titik-titik pencarian tersebut.
Pada operasi tahap pertama yang diluncurkan November 2025, tim penyelamat mengevakuasi 333 jenazah dari 54 bangunan yang hancur. Petugas awalnya memperkirakan 559 orang tertimbun di lokasi tersebut, tetapi keterbatasan sumber daya membuat sekitar 226 jenazah lainnya gagal dijangkau. Majdalawi menyebut kehancuran luas serta ketiadaan peralatan penyelamatan maupun alat berat terus menghambat tim di lapangan.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengungkapkan bahwa total warga Palestina yang hilang di seluruh wilayah Gaza masih sangat banyak. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mencatat terdapat sekitar 200 ribu bangunan yang rusak dan hancur di wilayah tersebut.
"Lebih dari 8 ribu warga Palestina yang hilang diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan. Proses evakuasi seluruh jenazah dengan sumber daya yang tersedia saat ini dapat memakan waktu sekitar delapan tahun," ujar Basal pada Rabu (7/10/2026), dilansir Anadolu Agency.
3. Hamas desak komunitas internasional tekan Israel izinkan alat berat masuk

truk membawa bantuan ke Gaza melalui penyeberangan Zikim (U.S. Army photo by Sgt. 1st Class Malcolm Cohens-Ashley, Public domain, via Wikimedia Commons) Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, menyatakan bahwa ribuan jenazah yang masih tertimbun di bawah rumah yang hancur merupakan tragedi kemanusiaan berkelanjutan. Kondisi ini dinilai memperpanjang penderitaan keluarga yang menunggu kepastian untuk memakamkan kerabat mereka dengan layak.
Hamas mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), komunitas internasional, dan para mediator untuk menekan Israel agar mengizinkan masuknya peralatan serta alat berat ke Gaza. Mereka juga meminta pengiriman tim penyelamat khusus untuk membantu petugas Pertahanan Sipil Gaza serta menuntut penyelidikan internasional atas kejahatan perang Israel.
Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata tahap pertama yang berlaku sejak 10 Oktober 2025, Israel seharusnya mengizinkan masuknya alat berat dan mesin ke Jalur Gaza. Namun, otoritas dan faksi-faksi Palestina menuduh Israel melanggar komitmen kesepakatan tersebut. Sejak perang dimulai pada Oktober 2023, sedikitnya 74.475 warga Palestina tewas, lebih dari 175 ribu orang terluka, dan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza hancur.






















