Gaza Diserang Drone dan Artileri Israel, Korban Jiwa Bertambah

- Serangan drone Israel di Al-Qarara dan Al-Saftawi menewaskan sedikitnya tiga warga Palestina serta melukai beberapa lainnya pada 14–15 Oktober 2026.
- Kendaraan militer Israel menembaki tenda pengungsi di Jabalia dan sejumlah area lain, sementara blok permukiman kosong diledakkan di Beit Lahia, Kota Gaza, Rafah, dan Khan Yunis.
- Kementerian Kesehatan Gaza mencatat pelanggaran gencatan senjata menewaskan 1.501 warga dan melukai 5.323 orang hingga 12 Oktober 2026; 10 ribu orang masih hilang di reruntuhan.
Jakarta, IDN Times - Serangan udara, artileri, dan penembakan oleh militer Israel kembali menyasar sejumlah kawasan di Jalur Gaza pada Rabu (14/10/2026) dan Kamis (15/10/2026). Rangkaian serangan bersenjata tersebut menimbulkan korban jiwa serta korban luka di kalangan warga Palestina di tengah berlangsungnya pelanggaran kesepakatan gencatan senjata.
Gempuran tersebut dilancarkan melalui tembakan pesawat nirawak dan senjata kendaraan militer yang mengenai warga di permukiman serta tenda pengungsian. Selain penembakan langsung ke arah warga, pasukan Israel turut melakukan serangkaian peledakan untuk menghancurkan blok-blok bangunan tempat tinggal yang telah dievakuasi di berbagai kawasan.
1. Serangan drone tewaskan warga di Al-Qarara dan Al-Saftawi

ilustrasi drone militer (unsplash.com/Jonas) Pada Rabu (14/10/2026) petang, sebuah pesawat nirawak (drone) militer Israel menargetkan satu kendaraan di kota Al-Qarara, sebelah utara Khan Yunis, Jalur Gaza selatan. Koresponden kantor berita WAFA melaporkan bahwa serangan tersebut membakar kendaraan serta menewaskan Ahmad Raja Al-Shaer dan Basel Nabil Qeshta yang berada di dalamnya, sementara seorang perempuan mengalami luka-luka. Peristiwa ini menambah jumlah warga Palestina yang tewas di Jalur Gaza sejak Rabu fajar menjadi lima orang, setelah tiga orang tewas pada Rabu petang dan sebelumnya Saddam Rami Al-Za'anin tewas akibat tembakan tentara di kamp pengungsi Jabalia.
Serangan pesawat nirawak kembali terjadi pada Kamis (15/10/2026) dengan menyasar kerumunan warga sipil di lingkungan Al-Saftawi, sebelah utara Kota Gaza. Seorang sumber medis menyampaikan kepada Anadolu bahwa satu pria Palestina tewas dan beberapa orang lainnya mengalami luka-luka akibat gempuran tersebut. Sumber medis tersebut tidak merinci jumlah pasti korban luka maupun kondisi klinis mereka.
2. Penembakan tenda pengungsi serta peledakan bangunan permukiman

ilustrasi kamp pengungsi (pexels.com/Ahmed akacha) Kendaraan militer Israel melepaskan tembakan gencar ke arah tenda-tenda penampungan pengungsi di kamp Halawa, sebelah timur kota Jabalia, Gaza utara, pada Kamis (15/10/2026) pagi. Tembakan militer tersebut mengakibatkan seorang warga Palestina menderita luka dengan kategori sedang. Selain di Gaza utara, tembakan dari kendaraan militer juga diarahkan ke kawasan timur kota Al-Qarara di Gaza selatan dan area timur kamp pengungsi Maghazi di Gaza tengah.
Pada saat bersamaan, militer Israel melancarkan aksi penghancuran dengan meledakkan blok-blok bangunan permukiman yang telah dievakuasi di Beit Lahia, timur Kota Gaza, dan Rafah. Warga Palestina melaporkan suara ledakan keras terdengar sepanjang malam hingga Kamis pagi akibat peledakan kendaraan bermuatan bahan peledak oleh tentara. Sebelumnya pada Rabu, artileri militer yang ditempatkan di selatan Khan Yunis juga menembaki area barat Rafah, disertai peledakan bangunan di timur Kota Gaza dan Khan Yunis.
3. Data korban jiwa dan kerusakan infrastruktur di Jalur Gaza

Warga Gaza berjalan di antara reruntuhan bangunan hancur. (Novghorod, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata telah menyebabkan 1.501 warga Palestina tewas dan 5.323 orang terluka terhitung hingga Senin (12/10/2026). Kesepakatan gencatan senjata itu sendiri mulai berlaku pada Oktober 2025, dengan 838 jenazah korban tewas berhasil dievakuasi selama periode tersebut. Di samping itu, setidaknya 10 ribu orang masih dinyatakan hilang dan diperkirakan tewas tertimbun reruntuhan rumah mereka di penjuru Jalur Gaza.
Sejak agresi militer dilancarkan pada 7 Oktober 2023, korban tewas di Jalur Gaza tercatat mencapai 74.392 orang yang sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak, serta 175.440 orang mengalami luka-luka. Penghancuran militer berdampak pada 90 persen infrastruktur di kawasan kantong tersebut dengan estimasi biaya rekonstruksi mencapai 70 miliar dolar AS atau setara Rp1.256,71 triliun. Agresi ini juga memaksa hampir dua juta orang mengungsi ke wilayah selatan, terutama ke Kota Rafah di dekat perbatasan Mesir, yang menjadi eksodus massal terbesar Palestina sejak peristiwa Nakba 1948.






















