Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gelombang Demo di Eropa Meluas, Warga Protes Biaya Hidup

4 min read
Gelombang Demo di Eropa Meluas, Warga Protes Biaya Hidup
potret demo di Kota Lisbon, Portugal (pexels.com/Pedro Rebelo Pereira)
  • Ratusan ribu warga berdemonstrasi di Prancis, Belgia, Italia, dan Portugal menuntut solusi atas kenaikan biaya hidup, upah rendah, serta sulitnya memperoleh hunian terjangkau.

  • Prancis mencatat lebih dari 550.000 peserta dan 1.200 penangkapan setelah kerusuhan di sejumlah kota; di Milan dan Belgia, bentrokan memicu penggunaan gas air mata serta meriam air.

  • Di Portugal, krisis perumahan menjadi sorotan setelah harga rumah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017; protes serupa juga menyinggung pendidikan dan prospek kerja mahasiswa.

  • Ratusan ribu warga berdemonstrasi di Prancis, Belgia, Italia, dan Portugal menuntut respons atas kenaikan biaya hidup, upah rendah, serta sulitnya memperoleh hunian terjangkau.

  • Prancis mencatat lebih dari 550 ribu peserta dan kerusuhan di banyak kota; 1.200 orang ditangkap, 150 polisi terluka, serta sejumlah bangunan publik dirusak atau dibakar.

  • Di Milan dan Brussels, bentrokan memicu penggunaan gas air mata serta meriam air; di Portugal, puluhan ribu warga memprotes lonjakan harga rumah, sewa, dan tekanan ekonomi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Gelombang demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup melanda sejumlah negara Eropa pada Sabtu (17/10/2026). Melansir Al Jazeera, ratusan ribu orang turun ke jalan dalam aksi terpisah di Prancis, Belgia, Italia, dan Portugal untuk memprotes tekanan ekonomi, upah rendah, serta sulitnya mendapatkan tempat tinggal yang terjangkau.

Aksi tersebut menambah tekanan terhadap pemerintah di berbagai negara Uni Eropa. Meski sebagian demonstrasi berlangsung damai, sejumlah kota mengalami bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan, penjarahan toko, hingga pembakaran bangunan.

Prancis menjadi negara dengan skala demonstrasi terbesar, sementara aksi di Italia juga berujung pada kerusuhan di pusat Kota Milan.

  1. 1. Prancis menjadi pusat demonstrasi dengan lebih dari 550 ribu peserta

    IMG_0696.jpeg
    Demo besar pecah di Prancis, Minggu (18/10/2026). (AFP/Matthieu Rondel)

    Prancis mengalami salah satu hari demonstrasi paling bergejolak dalam beberapa dekade terakhir. Menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis, lebih dari 550 ribu orang mengikuti aksi di berbagai wilayah.

    Demonstrasi tersebut berlangsung setelah berminggu-minggu protes mahasiswa yang turut menyoroti persoalan ekonomi dan pendidikan. Situasi kemudian memburuk ketika kelompok kecil yang melakukan kekerasan menyerang bangunan publik, butik mewah, dan supermarket.

    Sejumlah kendaraan serta petugas kepolisian juga menjadi sasaran serangan. Kerusuhan dilaporkan terjadi di Paris, Marseille, Nice, Nantes, Bordeaux, Limoges, Lille, Toulouse, dan Strasbourg.

    Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengatakan sebanyak 1.200 orang ditangkap dan 150 anggota kepolisian terluka. Saat mengunjungi petugas yang bertugas di pusat Paris, ia menggambarkan situasi tersebut sebagai kejadian yang berpotensi menimbulkan korban lebih besar.

    Salah satu insiden terparah terjadi di Limoges ketika api yang diduga sengaja dinyalakan demonstran bermasker menyebabkan sebagian besar balai kota yang berusia lebih dari 140 tahun terbakar. Sementara itu, balai kota di Marseille dan Lille dirusak, sedangkan kantor pariwisata di Lyon dibakar.

    Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa para pelaku kekerasan akan menghadapi proses hukum. Melalui unggahan di media sosial X, ia menyatakan bahwa pihak yang bertanggung jawab akan dituntut dan dihukum.

  2. 2. Italia dan Belgia mengalami bentrokan antara demonstran dan polisi

    ilustrasi bentrokan saat demo
    ilustrasi bentrokan saat demo (pexels.com/Mico Medel)

    Di Italia, aksi demonstrasi di Milan berakhir ricuh setelah kelompok demonstran melempar batu, bongkahan paving, dan benda lainnya ke arah polisi antihuru-hara. Mereka juga membakar barikade yang dibuat menggunakan meja bar serta melakukan penjarahan di kawasan pusat kota.

    Aksi yang semula berlangsung sebagai demonstrasi menentang perang dan kenaikan biaya hidup tersebut membuat Piazza del Duomo dan kawasan pertokoan mewah di sekitarnya dikosongkan. Polisi kemudian menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa.

    Menurut kantor berita Italia LaPresse, sedikitnya dua anggota kepolisian terluka dan sekitar 50 demonstran ditahan. Sebagian dari mereka dilaporkan masih berusia di bawah umur. Bentrokan juga terjadi di Bologna, meskipun demonstrasi di kota tersebut turut diwarnai aksi damai.

    Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam tindakan kekerasan tersebut. “Demonstrasi adalah hak. Membakar kota-kota kita bukanlah hak,” tulisnya di X, seraya menyalahkan kelompok yang memanfaatkan demonstrasi untuk menciptakan kekacauan.

    Wali Kota Milan Giuseppe Sala juga membedakan tuntutan demonstran dengan tindakan anarkistis yang terjadi. Ia menilai alasan di balik demonstrasi dapat dipahami, tetapi kekerasan terhadap aparat dan kerusakan serius terhadap kota tidak dapat dibenarkan.

    Sementara itu, di Brussels, Belgia, polisi menembakkan gas air mata dan menggunakan meriam air untuk membubarkan demonstran.

    Aparat menuduh sebagian peserta melempar benda ke arah polisi dan menyalakan api. Kota Liege juga mengalami pembubaran demonstrasi menggunakan meriam air.

  3. 3. Krisis perumahan dan upah rendah memicu protes di Portugal

    Demo di Kota Lisbon, Portugal.
    potret demo di Kota Lisbon, Portugal (pexels.com/Pedro Rebelo Pereira)

    Di Portugal, puluhan ribu orang diperkirakan mengikuti demonstrasi di Lisbon untuk memprotes kenaikan biaya hidup, rendahnya upah, dan semakin sulitnya mengakses hunian di kota-kota besar. Sebagian demonstran mendirikan tenda sebagai bentuk protes terhadap krisis perumahan yang semakin membebani masyarakat.

    Persoalan perumahan menjadi salah satu pemicu utama ketidakpuasan warga. Harga rumah di Portugal dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017. Sementara itu, harga sewa untuk kontrak baru juga mengalami kenaikan yang hampir sebanding.

    Menteri Urusan Parlemen Portugal, Carlos Abreu Amorim, sebelumnya menyatakan bahwa pemerintah tidak akan tunduk pada tekanan demonstrasi. Pernyataan tersebut mendapat tanggapan dari para demonstran yang menilai para pemimpin negara tidak memahami kesulitan yang mereka hadapi.

    Menurut Alberto Alemanno, profesor hukum dan kebijakan Uni Eropa di HEC Paris Business School, demonstrasi di Prancis berpotensi menjadi pusat gerakan yang menyebar ke negara-negara Eropa lainnya.

    “Prancis adalah pusat gerakan ini,dan sekarang ada tanda-tanda bahwa gerakan ini menyebar ke luar Prancis,” ujar Alemanno kepada Al Jazeera.

    Ia menambahkan, gelombang demonstrasi tersebut bukanlah satu gerakan terpadu, melainkan sejumlah aksi yang berlangsung bersamaan dengan keluhan serupa. Di antaranya adalah persoalan pendanaan pendidikan, kenaikan biaya hidup, serta ketidakpastian prospek pekerjaan bagi mahasiswa setelah lulus.

    Situasi ini menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah Eropa karena kawasan tersebut akan menghadapi periode pemilihan umum nasional yang padat dalam 12 bulan mendatang, termasuk di Spanyol, Prancis, Italia, dan Polandia. Ia menilai demonstrasi dan mobilisasi masyarakat akan menjadi bagian penting dari percakapan politik di Eropa menjelang rangkaian pemilu tersebut.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More