Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gelombang Panas 41 Derajat Celsius di Jerman Picu Kebakaran Hutan
potret kebakaran hutan (pexels.com/Pixabay)
  • Gelombang panas ekstrem melanda Jerman hingga menyebabkan kebakaran hutan di beberapa wilayah seperti Rhineland-Palatinate, Gohrischheide, Mecklenburg-Vorpommern, dan Saxony-Anhalt.
  • Suhu udara di Jerman mencapai 41,7 derajat celcius, menjadikannya salah satu negara Eropa barat paling terdampak bersama Inggris, Italia, Spanyol, Polandia, Prancis, dan Republik Ceko.
  • Fenomena ini mengganggu aktivitas warga Eropa barat dengan pembatalan acara publik dan penutupan sekolah serta kantor, sementara WHO mencatat lebih dari 1.300 kematian akibat gelombang panas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Area hutan di sejumlah wilayah di Jerman mengalami kebakaran hebat. Menurut otoritas setempat pada Minggu (28/6/2026), hal ini disebabkan serangan gelombang panas yang kini makin meningkat. Kebakaran ini membuat petugas pemadam kebakaran setempat mengalami kewalahan. 

Salah satu kebakaran terjadi di area hutan yang ada di Rhineland-Palatinate. Di sana, kebakaran timbul usai sejumlah amunisi yang dikubur di bawah tanah meledak akibat suhu udara yang tinggi. Selain itu, kebakaran juga terjadi di area hutan yang ada di Gohrischheide, Mecklenburg-Vorpommern, dan Saxony-Anhalt. 

1. Temperatur udara di Jerman sudah tembus 41,7 derajat celcius

ilustrasi temperatur udara (unsplash.com/Immo Wegmann)

Jerman sendiri merupakan salah satu negara di Eropa barat yang terdampak gelombang panas paling parah. Saat ini, temperatur udara di negara tersebut sudah mencapai 41,7 derajat celcius. Hal ini membuat banyak warga Jerman terganggu karena udara tetap panas meski sudah memakai pendingin ruangan. 

Selain Jerman, ada sejumlah negara Eropa barat lainnya yang juga terdampak serangan gelombang panas. Mereka adalah Inggris, Italia, Spanyol, Polandia, Prancis, dan Republik Ceko. Dilansir BBC, temperatur udara di negara-negara tersebut kini juga sudah mencapai 41 derajat celcius.  

2. Gelombang panas bukan fenomena baru di Eropa barat

ilustrasi serangan gelombang panas (pexels.com/Sean P. Twomey)

Serangan gelombang panas di Eropa barat ini sudah terjadi sejak pertengahan Juni lalu. Sebetulnya, gelombang panas bukan fenomena baru di Eropa barat. Sebab, menurut penelitian, fenomena ini sudah terjadi di Eropa barat sejak era 50-an. Biasanya, fenomena ini datang bersamaan dengan musim panas yang datang setiap tahun. Namun, menurut pengamat iklim, serangan gelombang panas yang terjadi pada musim panas 2026 ini merupakan yang terparah. 

Menurut laporan World Weather Attribution (WWA), serangan gelombang panas di Eropa barat kini diperparah oleh polusi karbon. Polusi ini timbul akibat penggunaan bahan bakar fosil yang terlalu banyak. Asap kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil akan menyebar ke udara dan menimbulkan efek rumah kaca. Hal inilah yang lantas membuat suhu udara makin naik ketika gelombang panas menyerang. 

3. Gelombang panas di Eropa barat sudah mengganggu aktivitas warga

potret warga Eropa (pexels.com/Son Tung Tran)

Fenomena gelombang panas ini membuat aktivitas harian warga yang tinggal di Eropa barat terganggu. Pada Kamis (25/6/2026) pekan lalu, misalnya, konser musik akbar di Jerman terpaksa dibatalkan karena suhu udara makin meningkat. Selain itu, serangan gelombang panas ini juga membuat warga di negara Eropa barat tidak bisa bekerja dan anak-anak tidak bisa bersekolah. Sebab, banyak kantor dan sekolah yang ditutup untuk menghindari bahaya suhu yang terlampau tinggi. 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), fenomena gelombang panas di Eropa barat juga sudah menimbulkan banyak korban jiwa. Ketua WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan, sejak 21 Juni, sudah ada lebih dari 1.300 kasus kematian di Eropa barat yang disebabkan gelombang panas. Hal ini lantas menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat Eropa barat akan bahaya gelombang panas yang kini makin parah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article