Jakarta, IDN Times - Gelombang panas ekstrem yang melanda kawasan perkotaan di Eropa dilaporkan telah memicu sekitar 50 ribu kasus kematian serta memangkas produk domestik bruto (PDB) Uni Eropa sebesar 0,17 persen sepanjang periode April hingga September 2026. Kerugian ekonomi tersebut diperkirakan mencapai hampir 17 miliar euro (Rp344,69 triliun), sekaligus mencatatkan rekor jumlah korban jiwa tertinggi akibat cuaca panas di benua tersebut.
Temuan mengenai tingginya tingkat kerentanan kawasan Eropa pada tahun terpanas ini diungkapkan melalui dua laporan penelitian terpisah. Salah satunya adalah kajian dari Imperial College London per Jumat (23/10/2026), yang menegaskan bahwa dua pertiga dari total kematian tersebut berkaitan langsung dengan krisis iklim akibat aktivitas manusia.
