Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gelombang Panas Eropa Picu 50 Ribu Kematian, Rugikan PDB Rp344,69 T
Termometer menunjukkan suhu yang sangat panas (Unsplash.com/Immo Wegmann)
  • Gelombang panas ekstrem di Eropa pada April–September 2026 diperkirakan memicu 50.391 kematian berlebih, rekor tertinggi; 66 persen kasus dikaitkan dengan krisis iklim akibat aktivitas manusia.
  • Suhu ekstrem memangkas PDB Uni Eropa 0,17 persen atau hampir 17 miliar euro, dipicu berkurangnya jam kerja, lonjakan kebutuhan pendingin, turunnya panen, dan gangguan logistik.
  • Eropa Barat mengalami suhu rata-rata 3 derajat Celsius di atas normal, memicu kebakaran, gangguan kereta dan fasilitas rumah sakit; dampak panas sering tidak tercatat dalam dokumen kematian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Gelombang panas ekstrem yang melanda kawasan perkotaan di Eropa dilaporkan telah memicu sekitar 50 ribu kasus kematian serta memangkas produk domestik bruto (PDB) Uni Eropa sebesar 0,17 persen sepanjang periode April hingga September 2026. Kerugian ekonomi tersebut diperkirakan mencapai hampir 17 miliar euro (Rp344,69 triliun), sekaligus mencatatkan rekor jumlah korban jiwa tertinggi akibat cuaca panas di benua tersebut.

Temuan mengenai tingginya tingkat kerentanan kawasan Eropa pada tahun terpanas ini diungkapkan melalui dua laporan penelitian terpisah. Salah satunya adalah kajian dari Imperial College London per Jumat (23/10/2026), yang menegaskan bahwa dua pertiga dari total kematian tersebut berkaitan langsung dengan krisis iklim akibat aktivitas manusia.

1. Pengaruh krisis iklim terhadap lonjakan kematian di Eropa

Laporan gabungan dari Imperial College London dan London School of Hygiene & Tropical Medicine di jurnal Nature Health memodelkan data kesehatan dari 854 kota di 30 negara, meliputi kawasan Uni Eropa, Inggris, Swiss, dan Norwegia, yang mencakup sekitar 40 persen dari total populasi gabungan. Berdasarkan pemodelan tersebut, riset mencatat estimasi sebanyak 50.391 kasus kematian berlebih yang terjadi selama periode cuaca ekstrem.

Jumlah korban jiwa pada tahun ini tercatat melampaui dampak gelombang panas pada 2022 dengan 29.000 korban, serta gelombang panas pada 2003 yang menelan 28 ribu korban jiwa. Selain itu, porsi pengaruh krisis iklim terhadap angka kematian akibat cuaca panas melonjak drastis, dari 40 persen pada 2003 menjadi 66 persen pada tahun ini.

"Suhu panas pada dasarnya memang berbahaya, tetapi pengaruh pemanasan global menjadikannya jauh lebih mematikan," kata peneliti iklim dari Imperial College London, Clair Barnes, dilansir The Guardian.

2. Dampak ekonomi gelombang panas terhadap PDB Uni Eropa

Sementara itu, studi yang dilakukan oleh ekonom Ulrich Eberle dari Bloomberg Economics mencatat bahwa suhu ekstrem telah memangkas sekitar 0,17 persen dari PDB Uni Eropa, atau setara hampir 17 miliar euro. Nilai kerugian ekonomi ini mencapai 2,5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan rata-rata kerugian tahunan dalam satu dekade terakhir.

Pada kuartal II-2026, penyusutan kinerja ekonomi terjadi di sejumlah negara besar, seperti Prancis yang turun sebesar 0,2 persen, Jerman sebesar 0,1 persen, serta Spanyol sebesar 0,05 persen. Penurunan tersebut dipicu oleh berkurangnya jam kerja para pekerja luar ruangan, lonjakan konsumsi listrik untuk sistem pendingin udara, penurunan hasil panen pertanian, serta hambatan pada jalur distribusi logistik.

3. Gangguan fasilitas umum dan kendala pencatatan medis korban

Suhu udara di bagian barat Eropa dilaporkan naik rata-rata 3 derajat Celsius di atas catatan periode 1991–2020, bahkan sempat melonjak hingga 12 derajat celsius pada hari-hari puncaknya. Cuaca ekstrem ini memicu serangkaian kebakaran hutan, gangguan perjalanan kereta api, kerusakan sistem pendingin, serta peningkatan suhu ruangan di sejumlah fasilitas rumah sakit.

Di sisi lain, faktor cuaca panas jarang tercatat secara resmi pada surat keterangan kematian medis, meski suhu ekstrem terbukti memperburuk kondisi penderita penyakit jantung dan pernapasan, terutama kalangan lansia yang tinggal sendirian.

"Banyak lansia mengalami serangan jantung akibat cuaca panas, tetapi pemeriksaan medis sering kali tidak mendeteksi paparan suhu tinggi tersebut sebelum pasien meninggal," ujar dokter perawatan intensif (ICU), Andrew Hartle.

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Komite Audit Lingkungan parlemen Inggris, Toby Perkins, mendesak adanya perlindungan yang lebih kuat bagi kelompok rentan, seperti kaum lansia, pasien rawat jalan, masyarakat prasejahtera, serta fasilitas publik vital.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article