Greta Thunberg Ajak Donasi untuk Selamatkan Kalimantan dari Karhutla

Greta Thunberg mengajak publik Indonesia dan internasional berdonasi untuk warga terdampak kebakaran hutan serta kabut asap di Kalimantan.
Dana kampanye diarahkan bagi petugas pemadam, tempat perlindungan kabut asap, kelompok rentan, dan penyelamatan hutan.
Kabut asap berdampak lintas batas, termasuk pada kesehatan, pendidikan, dan hubungan antarnegara di kawasan.
Jakarta, IDN Times — Aktivis lingkungan Greta Thunberg mengajak masyarakat internasional dan Indonesia membantu warga terdampak kebakaran hutan dan kabut asap di Kalimantan melalui kampanye penggalangan dana. Ia membagikan pesan darurat yang menyebut krisis tersebut masih berlangsung dan dampaknya di lapangan jauh lebih parah daripada yang terlihat di media sosial.
Dalam unggahannya, Greta menyerukan agar publik terus mendukung Borneo’s Fires and Haze Crisis Fundraising Campaign. Dana yang terkumpul ditujukan untuk membantu petugas pemadam kebakaran, membangun lebih banyak tempat perlindungan dari kabut asap, serta menyelamatkan hutan yang masih tersisa.
Pesan tersebut juga menyoroti dampak krisis terhadap masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan. Dalam materi yang dibagikan Greta, disebutkan bahwa warga mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap, sementara sejumlah desa kehilangan hutan dan pohon karet yang menjadi bagian dari sumber penghidupan mereka.
“Mohon terus berikan dukungan dengan berdonasi hari ini,” demikian seruan dalam pesan yang dibagikan Greta di akun media sosialnya, Jumat (16/10/2026). Kampanye tersebut mencantumkan Donorbox bagi masyarakat internasional dan Kitabisa bagi masyarakat Indonesia.
1. Greta bagikan pesan darurat dari Kalimantan

Greta Thunberg (commons.wikimedia.org/Anders Hellberg) Dalam pesan yang dibagikan Greta, penggagas kampanye menyatakan krisis kebakaran hutan dan kabut asap di Kalimantan masih jauh dari selesai. Kondisi sebenarnya di lapangan disebut lebih buruk dibandingkan rekaman yang beredar di media sosial.
Pesan tersebut mengklaim sekitar 2 juta hektare hutan telah hancur akibat kebakaran. Selain kerusakan hutan, satwa juga ikut terdampak, sementara warga kehilangan kawasan hutan dan pohon karet.
Materi kampanye itu juga menyebut, petugas pemadam kebakaran meninggal dunia dalam upaya menangani kebakaran. Krisis tersebut dikatakan telah berlangsung selama empat bulan.
Untuk membantu masyarakat terdampak, kampanye itu menggalang dana bagi petugas pemadam, pembangunan tempat perlindungan kabut asap, perlindungan anak-anak dan kelompok rentan, serta penyelamatan sisa hutan.
2. Kampanye fokus pada warga dan kelompok rentan

Pengendara motor melintas di Jembatan Kahayan yang diselimuti asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (11/10/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/bar Salah satu sasaran penggalangan dana adalah penyediaan lebih banyak tempat perlindungan dari kabut asap. Fasilitas ini ditujukan untuk membantu warga mengurangi paparan udara tercemar, terutama anak-anak dan kelompok yang lebih rentan terhadap gangguan kesehatan.
Dalam video yang dibagikan Greta, seorang pembicara yang berada di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menggambarkan kondisi kota pada sekitar pukul 10.00 pagi sebagai tempat yang gelap dan kekuningan akibat kabut asap.
“Tidak ada tempat untuk bersembunyi, tidak ada tempat untuk melarikan diri,” kata perempuan dalam video tersebut.
Ia juga mengatakan tempat perlindungan kabut asap sedang diupayakan, tetapi jumlahnya belum cukup untuk menjangkau seluruh warga di Kalimantan. Karena itu, publik diajak memberikan bantuan melalui tautan donasi pada profil akun penggalangan dana.
Namun, angka dampak kesehatan dan kerusakan lingkungan yang disebut dalam materi kampanye perlu diverifikasi secara terpisah sebelum dijadikan data resmi dalam pemberitaan.
3. Kabut asap berdampak hingga ke negara tetangga

Kabut asap di Malaysia imbas dari Karhutla Kalimantan. (AFP/Mohd Rasfan) Dampak kabut asap lintas batas juga dirasakan negara-negara tetangga. Di Malaysia, Kementerian Pendidikan menunda pelaksanaan Ujian Akhir Sesi Akademik (UASA) yang semula dijadwalkan berlangsung pekan berikutnya. Keputusan tersebut diumumkan pada 15 Oktober 2026 dengan mempertimbangkan kekhawatiran oran gtua terhadap kesehatan siswa.
Anggota parlemen Malaysia, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, juga mendesak pemerintahnya menggalang tekanan diplomatik bersama negara-negara ASEAN terhadap Indonesia. Ia mengusulkan pembatasan akses pembiayaan bagi perusahaan yang terlibat dalam pembakaran lahan.
Sementara itu, Singapura membuka kemungkinan mengambil tindakan hukum terhadap perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran pemicu kabut asap. Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu, mengatakan pemerintah sedang mengumpulkan data untuk mempertimbangkan langkah berdasarkan Transboundary Haze Pollution Act.
Pada Kamis, 15 Oktober 2026, indeks standar polutan atau PSI di Singapura berada pada kisaran 127–211. Wilayah barat mencatat angka tertinggi, sementara permintaan pembersih udara meningkat di tengah memburuknya kualitas udara.
Rangkaian perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran hutan dan kabut asap bukan hanya persoalan lingkungan di Indonesia, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat, pendidikan, dan hubungan antarnegara di kawasan.




















