Gubernur New York Desak Kasus Pemerkosaan Universitas Cornell Dibongkar

- Gubernur New York Kathy Hochul menilai pelapor dugaan pemerkosaan berkelompok di Cornell gagal dilindungi, setelah penyelidikan 2024 ditutup tanpa mewawancarainya atau meninjau keterangan lengkap.
- Hochul menunjuk Jaksa Agung Letitia James sebagai jaksa khusus setelah kehilangan kepercayaan pada jaksa wilayah; James akan mengumpulkan bukti dan mewawancarai saksi sebelum menentukan langkah.
- Hochul mendorong perubahan aturan persetujuan seksual bagi korban mabuk sukarela, sementara Cornell menangguhkan Chi Phi dan menyetujui penyelidikan independen atas penanganan laporan.
Jakarta, IDN Times - Gubernur New York Kathy Hochul mengatakan perempuan yang melaporkan kasus dugaan pemerkosaan berkelompok di Universitas Cornell telah "gagal dilindungi" oleh pihak-pihak yang seharusnya melindunginya, termasuk polisi kampus dan jaksa wilayah.
Pernyataan itu disampaikan Hochul pada Jumat (2/10/2026), sehari setelah menunjuk Jaksa Agung New York Letitia James sebagai jaksa khusus untuk mengambil alih kasus tersebut. Ia mengatakan keputusan itu diambil setelah mengetahui adanya persoalan dalam penanganan laporan yang pertama kali diselidiki pada 2024.
1. Hochul kritik penanganan kasus pada 2024

potret Barton Hall Universitas Cornell (commons.wikimedia.org/eflon) Hochul mempertanyakan keputusan Jaksa Wilayah Tompkins County, Matthew Van Houten, yang menutup penyelidikan pada 2024 tanpa mewawancarai mahasiswi yang melaporkan kejadian tersebut maupun pihak lain yang terlibat serta tanpa meminta transkrip lengkap.
"Di dunia mana jaksa wilayah bahkan tidak mewawancarai dia, atau siapa pun yang terlibat, atau bahkan meminta transkrip lengkapnya?" kata Hochul.
"Perempuan ini, perempuan muda ini, telah mengalami sesuatu yang benar-benar tak terkatakan. Dan kemudian di setiap kesempatan, dia dikecewakan oleh orang-orang dan institusi yang punya kewajiban untuk melindunginya," lanjutnya.
Hochul juga mengkritik Departemen Kepolisian Universitas Cornell lantaran tidak menyampaikan seluruh keterangan perempuan tersebut kepada jaksa. Menurutnya, perempuan itu berbicara kepada polisi selama berjam-jam dan menyatakan dengan keyakinan penuh bahwa dirinya telah diperkosa, tetapi keterangan tersebut tidak tercantum dalam laporan yang diserahkan kepada jaksa.
Kasus kembali mencuat setelah perempuan yang diidentifikasi dengan nama samaran Jane Doe mengajukan gugatan perdata pada September 2026. Setelah itu, Van Houten membuka kembali penyelidikan terhadap kasus tersebut.
2. Letitia James ambil alih penyelidikan

Jaksa Agung New York Letitia James (commons.wikimedia.org/Alec Perkins from Hoboken, USA) James mengatakan penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh dan tidak akan terburu-buru. Kantornya akan meninjau fakta, mengumpulkan bukti, dan mewawancarai para saksi sebelum menentukan langkah berikutnya.
"Kami akan meninjau fakta, mengumpulkan bukti, mewawancarai saksi, dan jika diperlukan, mengajukan tuntutan," ujar James.
Penyelidikan awal ditutup tanpa dakwaan pada 2024. Van Houten sebelumnya membela keputusan untuk tidak mengajukan perkara dengan mengatakan pernyataan tertulis yang disiapkan polisi tidak memuat keterangan bahwa perempuan itu diberi obat tanpa persetujuan, dilumpuhkan hingga tidak mampu memberikan persetujuan, maupun dipaksa berhubungan seksual.
Mengutip The Guardian, Van Houten kemudian mengatakan kepada CBS News bahwa ia tidak pernah melihat keterangan rinci dari perempuan tersebut dan hanya mengandalkan pernyataan yang dibuat polisi kampus.
Hochul mengatakan James ditunjuk setelah dirinya kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan kantor jaksa wilayah menangani perkara tersebut.
James mengatakan prioritas pertamanya ialah penyelidikan kriminal atas dugaan pemerkosaan tersebut. "Saat ini kami tidak akan fokus pada tindakan jaksa wilayah," katanya.
3. Hochul dorong perubahan aturan persetujuan seksual

Gubernur New York Kathy Hochul (commons.wikimedia.org/Metropolitan Transportation Authority of the State of New York/Marc A. Hermann) Dilansir The Associated Press, Hochul juga mendukung perubahan aturan New York mengenai persetujuan seksual, khususnya terkait orang yang berada dalam kondisi mabuk secara sukarela.
"Jika seseorang terlalu mabuk untuk memberikan persetujuan, seharusnya tidak menjadi masalah apakah mereka memilih untuk menggunakan narkoba atau alkohol. Mabuk secara sukarela bukanlah izin untuk melakukan serangan seksual atau pemerkosaan berkelompok, titik," pungkas Hochul.
Menurut aturan yang berlaku, kasus pemerkosaan di New York pada umumnya membutuhkan adanya kekerasan atau penolakan yang jelas, kecuali korban berada dalam kondisi tidak berdaya secara fisik karena tidak sadar atau mengalami gangguan mental akibat diberi obat tanpa persetujuan.
Hochul mengatakan perubahan aturan diperlukan agar kondisi mabuk secara sukarela tidak menjadi penghalang dalam perkara serangan seksual. Sementara itu, Universitas Cornell telah menangguhkan organisasi Chi Phi tanpa batas waktu dan menyetujui penggunaan pengacara dari luar kampus untuk menyelidiki secara independen penanganan laporan tersebut.
Pengacara dua anggota Chi Phi membantah keterlibatan klien mereka dalam pemerkosaan tersebut. Salah satunya mengatakan kliennya tidak menyentuh Jane Doe.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



.jpg)















