Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hasil Kolaborasi RI-Australia di NTB: Deteksi Risiko Kehamilan via AI
Pemerintah provinsi dan daerah di NTB turut mendukung pengembangan AI untuk kesehatan. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Kolaborasi riset Indonesia-Australia di Lombok Barat mengubah data manual Buku KIA menjadi sistem digital berbasis AI untuk mendeteksi risiko kehamilan lebih cepat dan akurat.
  • Proyek AI in Healthcare didukung KONEKSI, melibatkan SID, CSIRO, BRIN, dan Universitas Mataram guna mengintegrasikan teknologi OCR serta dashboard digital bagi tenaga kesehatan di lapangan.
  • Pemerintah NTB mendorong perluasan program hingga Pulau Sumbawa karena teknologi ini dinilai mampu mempercepat pendataan, meningkatkan layanan kesehatan ibu-anak, dan mendukung kebijakan berbasis data.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lombok, IDN Times - Sebuah buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang selama ini dibawa ibu hamil ke posyandu dan puskesmas ternyata menyimpan banyak informasi penting. Data yang selama ini ditulis tangan itu kini mulai diubah menjadi sistem digital dan dianalisis menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Inovasi tersebut tengah diuji coba di sejumlah fasilitas kesehatan di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), melalui riset kolaborasi Indonesia dan Australia. Tujuannya bukan menggantikan tenaga kesehatan, melainkan membantu mereka mengenali faktor risiko kehamilan lebih cepat sehingga intervensi bisa dilakukan lebih dini.

Program ini merupakan bagian dari proyek penelitian AI in Healthcare yang didukung KONEKSI (Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia). Penelitian dijalankan oleh Summit Institute for Development (SID) bersama Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) Australia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Universitas Mataram (Unram).

Teknologi tersebut diperkenalkan di Posyandu Cempaka 2, Desa Mekarsari, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, Kamis (11/6/2026). Ini menjadi salah satu contoh bagaimana kolaborasi riset Indonesia-Australia mencoba menjawab tantangan kesehatan ibu dan anak hingga tingkat desa.

1. Dari buku KIA menjadi data digital dan prediksi risiko

Kolaborasi RI-Australia buat AI untuk deteksi risiko kehamilan pada ibu hamil di Lombok, NTB. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Peneliti Utama sekaligus CEO Summit Institute for Development, Yuni Dwi Setiyawati, menjelaskan penelitian tersebut berangkat dari kebutuhan memanfaatkan data kesehatan yang selama ini tersimpan dalam berbagai pencatatan manual di posyandu dan puskesmas.

“Yang kami lakukan adalah melihat peluang bagaimana pencatatan yang ada di layanan masyarakat itu bisa menjadi informasi dan diprediksi menggunakan AI,” kata Yuni kepada awak media.

Dalam penelitian ini, tim memanfaatkan sekitar 12.000 data ibu hamil dari Lombok Barat dan Garut. Data tersebut berasal dari Buku KIA, pencatatan posyandu, hingga puskesmas yang kemudian diintegrasikan ke dalam sistem digital.

Salah satu teknologi yang digunakan adalah Optical Character Recognition (OCR). Teknologi ini memungkinkan tulisan atau data yang ada di formulir kesehatan dan Buku KIA dipindai lalu diubah menjadi data digital secara otomatis.

Dengan cara tersebut, proses input data yang biasanya dilakukan secara manual oleh bidan atau kader kesehatan menjadi lebih cepat. Setelah data masuk ke sistem, AI akan membantu menganalisis berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi kesehatan ibu dan anak.

Menurut Yuni, penggunaan data lokal menjadi bagian penting dalam penelitian tersebut.

“Kenapa data itu diperlukan? Agar profil dari ibu-ibu ini lokal, bukan kita ambil dari data-data internasional. Karena profil kesehatan masyarakat lokal berbeda dengan profil internasional,” ujarnya.

Selain memprediksi faktor risiko, sistem juga mampu mengirimkan pesan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing ibu hamil melalui WhatsApp. Pesan tersebut berisi pengingat terkait layanan kesehatan yang perlu dilakukan, seperti pemeriksaan kehamilan (antenatal care), pengecekan tekanan darah, konsumsi suplemen, hingga jadwal USG.

“Kemudian kami mencoba melihat apa saja peluang penggunaan dari sistem yang kita bangun bersama, yaitu AI in Healthcare, judul penelitiannya,” kata Yuni.

Penelitian yang telah berjalan hampir dua tahun tersebut memperoleh pendanaan sebesar 700 ribu dolar Australia atau sekitar Rp7,4 miliar. “Kami mendapatkan yang tertinggi karena dari proposal kami tidak hanya membuat proof of concept(PoC). Kami melaksanakan penelitian untuk diterapkan dengan implementasi riil,” ungkapnya.

2. KONEKSI dan kolaborasi Indonesia-Australia yang terus berkembang

Bidan di Desa Mekarsari, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, perlihatkan bagaimana AI membantu ibu hamil dalam mencatat riwayat kesehatan untuk cegah risiko kehamilan. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Program ini menjadi bagian dari KONEKSI, platform kemitraan pengetahuan antara Indonesia dan Australia yang mendukung penelitian kolaboratif untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan. Melalui skema tersebut, lembaga riset, universitas, pemerintah, dan mitra internasional didorong bekerja bersama menghasilkan solusi berbasis bukti yang dapat diterapkan langsung di masyarakat.

Dalam proyek AI in Healthcare, CSIRO Australia berkontribusi dalam pengembangan teknologi dan analisis kecerdasan buatan, sementara SID, BRIN, dan Universitas Mataram memimpin implementasi riset di lapangan serta integrasi dengan sistem kesehatan lokal.

First Secretary Governance and Human Development Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Kedutaan Besar Australia, Elise Cole Andrews, menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi yang mempertemukan peneliti, akademisi, dan pemerintah untuk mencari solusi atas tantangan kesehatan masyarakat.

Kolaborasi tersebut tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga memastikan teknologi dapat digunakan oleh tenaga kesehatan di lapangan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Di Posyandu Cempaka 2, para tamu yang hadir melihat langsung bagaimana bidan desa memindai data kesehatan menggunakan teknologi OCR. Proses yang sebelumnya membutuhkan pencatatan berulang kini dapat dilakukan lebih cepat dan terintegrasi.

Kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi Puskesmas Narmada untuk melihat pemanfaatan dashboard digital yang menampilkan data kesehatan ibu dan anak secara lebih terstruktur.

Melalui dashboard tersebut, tenaga kesehatan dapat memantau kelompok berisiko dan menentukan tindak lanjut yang diperlukan berdasarkan data yang tersedia.

3. Pemprov NTB dorong perluasan program hingga Pulau Sumbawa

Kunjungan ke Puskesmas Narmada untuk melihat pemanfaatan dashboard digital yang menampilkan data kesehatan ibu dan anak secara lebih terstruktur. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, menilai pemanfaatan teknologi AI berpotensi membantu pekerjaan kader kesehatan yang selama ini menghabiskan banyak waktu untuk proses pendataan.

“Para kader selama ini mengemban tugas yang sangat besar dalam mengumpulkan dan menginput data kesehatan masyarakat. Melalui pemanfaatan teknologi AI, kami berharap proses pendataan menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan menghasilkan data yang lebih akurat,” ujarnya.

Menurut Sinta, teknologi tersebut tidak boleh berhenti sebagai alat administrasi semata, tetapi harus mampu membantu peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.

“Kami berharap teknologi ini dapat membantu mengidentifikasi ibu hamil yang berisiko sejak dini sehingga penanganan dan pendampingan dapat dilakukan lebih cepat dan lebih tepat,” katanya.

Ia juga berharap hasil penelitian yang saat ini diterapkan di Lombok Barat dapat diperluas ke wilayah lain di NTB. “Dengan adanya teknologi ini, proses pendataan menjadi lebih mudah. Harapannya, program seperti ini tidak hanya diterapkan di Pulau Lombok, tetapi juga bisa menjangkau Pulau Sumbawa,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Lombok Barat, Nurul Adha, mengatakan digitalisasi kesehatan menjadi kebutuhan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.

“Digitalisasi kesehatan akan membantu kita memperoleh data yang lebih baik, terutama terkait kesehatan ibu hamil dan anak. Data yang akurat menjadi fondasi penting dalam merumuskan kebijakan dan intervensi yang tepat sasaran,” kata Nurul.

Menurut dia, deteksi dini terhadap kehamilan berisiko dapat membantu menurunkan angka kematian ibu dan anak serta mendukung upaya pencegahan stunting.

Di tingkat layanan kesehatan, manfaat tersebut mulai dirasakan.

Penanggung Jawab Klaster Ibu dan Anak Puskesmas Narmada, Rita Susilowati, mengatakan sistem tersebut membantu tenaga kesehatan melakukan pencegahan lebih awal. “Ini adalah alat bantu deteksi dini guna dapat memberikan intervensi lebih awal dan menjadi salah satu peluang bagi kami untuk mencegah kemungkinan kondisi yang lebih buruk pada ibu hamil,” ungkap Rita.

Melalui uji coba yang masih berlangsung, para peneliti berharap teknologi berbasis AI tersebut dapat menjadi bagian dari penguatan layanan kesehatan primer di Indonesia. Tidak hanya mempercepat digitalisasi data, tetapi juga membantu tenaga kesehatan mengambil keputusan lebih cepat dan tepat demi meningkatkan kesehatan ibu dan anak.

Editorial Team

Related Article