Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BGN Setop Sementara SPPG Jayapura Usai Ratusan Warga Alami Keracunan

BGN Setop Sementara SPPG Jayapura Usai Ratusan Warga Alami Keracunan
Bupati Jayapura, Yunus Wonda, ketika menengok warga yang jadi korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua. (Dokumentasi Istimewa)
Intinya Sih
Gini Kak
  • BGN menghentikan sementara SPPG Yayasan Kasih Iman Samuel Papua di Jayapura setelah 527 warga, terutama anak-anak dan lansia, mengalami gejala keracunan usai menerima makanan MBG.
  • BGN mengirim tim investigasi, memeriksa sampel makanan bersama dinas kesehatan, serta mencopot kepala dapur; pelanggaran berulang dapat berujung usulan pemecatan status P3K.
  • Penelusuran awal menemukan makanan dimasak terlalu dini sebelum distribusi, dengan tempe bacem diduga menurun kualitasnya; sebagian paket juga dikonsumsi siswa berjam-jam setelah waktu penyajian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Gizi Nasional (BGN) menyetop sementara Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Yayasan Kasih Iman Samuel Papua yang memasok makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi warga di Kabupaten Jayapura, Papua. Keputusan itu diambil usai makanan yang dipasok menyebabkan ratusan warga mengalami keracunan.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua, total korban yang mengalami keracunan mencapai 527 orang. Korban didominasi anak-anak dan orang tua. Gejala yang dialami meliputi sakit perut, mual, muntah, diare, demam, hingga badan lemas.

Kepala BGN, Sudaryono, mengakui peristiwa keracunan penerima MBG yang masih terjadi tak sejalan dengan tekadnya yang ingin menihilkan tragedi keracunan. Pucuk pimpinan badan yang juga politikus Partai Gerindra itu menyebut, insiden SPPG di Papua tengah ditelusuri oleh Wakil Kepala BGN, Mayjen TNI (Purn) Trenggono.

"Saat ini Wakil Kepala BGN, Bapak (Purn) Mayjen Trenggono sedang berada di Jayapura. Beliau ke sana didampingi Ibu Wakil Menteri Dalam Negeri (Ribka Haluk)," ungkap Sudaryono ketika memberikan keterangan di kantor BGN, Jumat (7/8/2026).

Kedatangan Trenggono dan Ribka Haluk ke Bumi Cendrawasih untuk menengok dan memastikan kondisi korban yang dirawat akibat keracunan MBG. Sudaryono menggarisbawahi akan ada sanksi yang tegas bagi SPPG yang menyebabkan tragedi keracunan berulang.

"Pasti dapurnya kami suspend, kemudian kami kirim tim untuk investigasi. Lalu, kami cek apa masalahnya. Sampel (makanan) akan dicek oleh dinas kesehatan. Kepala dapurnya pun kami copot untuk kami evaluasi," tutur dia.

1. Kepala dapur SPPG yang sebabkan keracunan ikut dicopot

Sudaryono, BGN
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono (kiri) dan Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari (kanan). (IDN Times/Santi Dewi)

Lebih lanjut, selain dapur atau SPPG ditutup sementara, BGN turut mencopot kepala dapur. Bahkan, bila ditemukan fakta ini bukan kali pertama dapur menyebabkan keracunan, maka akan diusulkan untuk dipecat.

"Bila ada kasus keracunan sebelumnya dan berulang, maka itu menjadi kondite yang buruk untuk kemudian kami usulkan dilakukan pemecatan dari statusnya P3K (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) di Badan Kepegawaian Negara (BKN). Atau ketika status P3K-nya dievaluasi, maka tidak akan kami pertimbangkan untuk dilanjutkan," tutur dia.

Ia menambahkan, untuk mencegah berulangnya insiden keracunan menu MBG, maka BGN telah mengadakan pertemuan di kantor Kementerian Kesehatan dengan para ahli serta koki. Di sana, BGN, kata Sudaryono mendapat masukan terkait kandungan gizi, keamanan pangan dan skema yang dapat dilakukan untuk mengakhiri insiden keracunan.

Selain di Jayapura, insiden keracunan yang jadi sorotan luas juga terjadi di SMKN 6 Semarang. Sudaryono langsung mendatangi rumah sakit tempat korban dirawat untuk melihat kondisi mereka.

2. BGN klaim tren korban yang mengalami keracunan menurun

MBG, BGN
Tren korban keracunan menu MBG yang dipaparkan oleh Badan Gizi Nasional sepanjang 2025-2026. (IDN Times/Santi Dewi)

Di forum itu, Sudaryono turut memaparkan klaimnya bahwa tren insiden keracunan MBG sepanjang 2025 hingga Agustus 2026terus menurun sejak BGN beroperasi pada Januari 2025.

BGN mencatat, pada Agustus 2026 ada 4 peristiwa keracunan. Angka itu turun dibandingkan Juli 2026 yang menunjukkan terdapat 28 peristiwa keracunan.

Dari data itu pula, jumlah korban sementara akibat keracunan pada Agustus 2026 mencapai lebih dari 300 jiwa. Sedangkan pada Juli 2026, jumlah korban keracunan mencapai 3.355 jiwa. Bila diakumulasi pada periode Januari hingga Agustus 2026, maka ada sekitar 22.672 orang yang menjadi korban keracunan MBG.

"Bukan berarti ini tujuan kita (untuk menurunkan tren keracunan), tujuan kami adalah nol keracunan untuk seluruh dapur SPPG dan MBG di seluruh Indonesia," tutur dia.

3. Masak terlalu dini dan tempe bacem rusak jadi penyebab keracunan

Ilustrasi peta Papua. (IDN Times/Sukma Shakti)
Ilustrasi peta Papua. (IDN Times/Sukma Shakti)

Berdasarkan penelusuran log operasional dapur, menunjukkan adanya proses pengolahan makanan yang menyalahi jadwal. Makanan dimasak terlalu cepat dari jam penyajian sehingga kondisi hidangan mengalami penurunan kualitas sebelum disantap.

"Kalau di Papua, kami lihat dari log dapurnya, kan kami ada sistem log-nya, kapan persiapan, kapan masak. Jadi memang memulai masaknya kecepatan, kalau gak salah jam 07.00 atau 07.30 malam di hari sebelumnya untuk dikirimkan di hari berikutnya di jam 11.00," ungkap Sudaryono.

Penelusuran awal BGN mengarah pada dugaan penurunan kualitas menu tempe bacem. Makanan yang diolah belasan jam sebelum dibagikan membuat masakan dalam kondisi rusak saat sampai ke tangan siswa.

Selain pengolahan yang terlalu dini dari pihak dapur, BGN memvalidasi temuan bahwa sejumlah siswa membawa pulang paket MBG dan baru mengonsumsinya pada sore hari.

"Kami validasi lagi adalah ada anak yang membawa pulang MBG-nya. Nah jadi dia harusnya kan disantap misalnya jam 11 itu harus dimakan, dia dibawa pulang dimakan jam 3 jam 4 (sore), jadi sudah rusak," tutur dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More