Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ikuti Google, Apple Maps Ubah Nama Danau Ontario Sesuai Perintah Trump
Danau Ontario (NASA, Public Domain, via Wikimedia Commons)
  • Apple Maps mengubah label Danau Ontario menjadi "Lake America" untuk pengguna AS, mengikuti Google Maps setelah pembaruan sistem nama geografis federal dan perintah eksekutif Donald Trump.
  • Label berbeda menurut lokasi: pengguna Kanada tetap melihat "Lake Ontario", sedangkan pengguna negara lain melihat kedua nama. Perintah AS tidak berlaku atas Kanada atau standar hidrografi internasional.
  • Kanada dan pejabat New York menolak perubahan di tengah konflik dagang AS-Kanada. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan mayoritas warga AS juga menentang tarif baru dan penggantian nama danau.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Aplikasi pemetaan Apple Maps resmi mengubah nama Danau Ontario menjadi "Lake America" bagi para pengguna di Amerika Serikat pada Selasa (1/9/2026). Langkah tersebut mengikuti kebijakan serupa yang telah diterapkan oleh Alphabet (perusahaan induk Google) melalui Google Maps pada Sabtu (29/8/2026).

Perubahan label wilayah perairan ini dilakukan usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perintah eksekutif di tengah perselisihan perdagangan dengan Kanada. Donald Trump menyatakan pada Rabu (2/9/2026) waktu setempat bahwa penyesuaian nama danau tersebut kini telah selesai dan bersifat mengikat.

1. Penyesuaian label nama perairan pada aplikasi peta

USGS umumkan penggantian nama Danau Ontario menjadi "Lake America", 27 Agustus 2026. (U.S. Department of the Interior, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Dilansir CBC News, Apple mengonfirmasi bahwa pengguna di Amerika Serikat akan melihat label "Lake America" pada versi web Apple Maps. Penyesuaian tersebut dilakukan setelah nama perairan tersebut diperbarui dalam sistem informasi nama geografis Amerika Serikat (US Geographic Names Information System atau GNIS). Menteri Dalam Negeri Amerika Serikat Doug Burgum menyatakan kepada Fox Business pada Senin (31/8/2026) bahwa Trump "menghubungi Apple secara langsung" guna membicarakan perubahan nama itu.

Trump kemudian mengunggah pernyataan resmi terkait perubahan label tersebut melalui platform Truth Social. Dilansir The Times of India, Trump menulis, "Apple Maps baru saja mengumumkan bahwa mereka telah mengubah nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika." Ia menambahkan bahwa perubahan penting tersebut kini telah "selesai, diratifikasi, dan mengikat."

Meski demikian, penyesuaian nama tersebut tidak berlaku sama untuk seluruh pengguna di dunia. Pengguna di Kanada akan tetap melihat nama "Lake Ontario" pada aplikasi peta mereka. Sementara itu, pengguna di negara lain akan melihat kedua nama tersebut dengan "Lake America" berada di dalam tanda kurung setelah "Lake Ontario".

2. Penolakan dari pihak Kanada dan Pemerintah New York

bendera Kanada dan Amerika Serikat (unsplash.com/Walter Martin)

Perintah eksekutif yang ditandatangani oleh Trump hanya berlaku untuk penggunaan instansi federal Amerika Serikat. Perintah tersebut tidak memiliki wewenang hukum atas wilayah Kanada maupun standar hidrografi internasional. Danau Ontario sendiri merupakan salah satu dari lima Danau-Danau Besar (Great Lakes) di perbatasan yang tata kelolanya diatur bersama melalui Boundary Waters Treaty.

Penetapan nama baru tersebut memicu penolakan dari pihak Kanada serta pejabat lokal AS. Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan Gubernur New York (AS) Kathy Hochul dengan tegas menolak perubahan nama perairan yang telah berusia lebih dari 400 tahun tersebut. Sekitar 52 persen luas permukaan Danau Ontario berada di wilayah Kanada, sedangkan sisanya masuk dalam wilayah Negara Bagian New York.

Sebagai bentuk protes, Premier Ontario Doug Ford memasang papan tanda besar di sepanjang pantai Kanada. Papan bertuliskan bahasa Inggris dan Prancis tersebut memuat slogan "Lake Ontario. Now and Always" atau "Danau Ontario. Sekarang dan Selamanya".

3. Latar belakang konflik perdagangan dan respons publik

Presiden AS Donald Trump (Marc Nozell from Merrimack, New Hampshire, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Kebijakan pengubahan nama perairan ini muncul di tengah memanasnya ketegangan ekonomi dan politik antara kedua negara. Pemerintah Amerika Serikat memberlakukan tarif masuk sebesar 50 persen terhadap barang-barang ekspor Kanada bernilai sekitar 20 miliar dolar AS atau setara Rp354,56 triliun (kurs Rp17.728). Setelah negosiasi perdagangan mengalami kebuntuan, Trump mengaitkan alasan perubahan nama danau tersebut dengan kekecewaan dalam hubungan dagang.

Langkah Presiden Amerika Serikat ini mendapatkan tanggapan negatif dari masyarakat di negerinya sendiri. Berdasarkan jajak pendapat Reuters/Ipsos, sebagian besar warga Amerika Serikat menentang keputusan penentuan tarif impor baru maupun perintah pengubahan nama Danau Ontario. Dilansir CBC News, sejarawan Tim Naftali menilai keputusan tersebut sengaja dirancang untuk membangkitkan sentimen nasionalis di dalam negeri sekaligus memprovokasi Kanada.

Sejak awal 2025, Trump dilaporkan berulang kali menyindir Kanada untuk bergabung menjadi negara bagian ke-51 Amerika Serikat, gagasan yang ditolak mentah-mentah oleh para pemimpin Kanada. Trump sebelumnya juga pernah memerintahkan pengubahan nama Teluk Meksiko menjadi "Gulf of America" pada Januari 2025. Perusahaan teknologi seperti Google dan Apple kala itu juga memperbarui aplikasi peta mereka untuk mengakomodasi perintah tersebut bagi pengguna Amerika Serikat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article