Kenapa Trump Minta Ubah Nama Danau Ontario Jadi Danau Amerika?

- Donald Trump memerintahkan Danau Ontario diganti menjadi Danau Amerika dalam dokumen federal AS, di tengah kebuntuan negosiasi dagang dan memburuknya hubungan Washington-Ottawa.
- Trump juga membuka peluang mengganti nama Samudra Atlantik atau Pasifik. Namun, perubahan nama perairan oleh Washington tidak otomatis berlaku internasional karena tak ada otoritas universal.
- Kanada, New York, dan sejumlah pihak menolak perubahan tersebut. Trump menuduh Kanada merugikan AS lewat perdagangan, meski data membantah sebagian klaim tarif pertaniannya.
Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menandatangani perintah eksekutif yang memerintahkan perubahan nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika pada Kamis (27/8/2026). Trump juga menginstruksikan lembaga federal AS untuk menggunakan nama baru tersebut dalam peta, dokumen, dan basis data pemerintah.
Dilansir The Guardian, keputusan Trump muncul setelah negosiasi perdagangan antara Washington dan Ottawa kembali menemui jalan buntu. Situasi tersebut telah memicu penerapan tarif balasan baru dan memburuknya hubungan kedua negara dengan cepat.
Trump mengatakan perubahan nama tersebut sebenarnya telah lama dipertimbangkannya. Seorang pejabat pemerintah AS mengklaim bahwa sebagian besar volume serta titik terdalam Danau Ontario berada di wilayah Negeri Paman Sam.
1. Trump buka kemungkinan ubah nama Samudra Atlantik dan Pasifik

Presiden AS, Donald Trump. (The White House from Washington, DC, Public domain, via Wikimedia Commons) Saat menandatangani perintah eksekutif di Oval Office, Trump juga membuka kemungkinan untuk mengubah nama Samudra Atlantik, Pasifik, atau keduanya. Trump mengatakan bahwa AS sudah memiliki teluk dan kini memiliki danau, sehingga hanya membutuhkan sebuah samudra.
Perintah terbaru Trump pada Kamis menjadi kali kedua pemimpin Negeri Paman Sam itu mengubah nama perairan internasional untuk mencantumkan identitas AS. Pada hari pertama masa jabatan keduanya, Trump menandatangani perintah untuk mengganti nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika, yang memicu kecaman internasional.
Tidak ada satu lembaga internasional yang memiliki kewenangan universal untuk menetapkan nama perairan internasional. Perubahan nama yang ditetapkan Washington tidak otomatis berlaku secara internasional, sehingga negara lain tidak berkewajiban mengikuti perubahan nama tersebut.
2. Pejabat AS-Kanada menolak perubahan nama yang diperintahkan Trump

ilustrasi bendera Kanada (unsplash.com/Jason Hafso) Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menolak perubahan nama yang diperintahkan oleh Trump. Carney mengatakan bahwa negaranya akan tetap menggunakan nama Danau Ontario. Dia menjelaskan bahwa nama tersebut berasal dari bahasa masyarakat adat Wendat dan telah digunakan jauh sebelum terbentuknya Konfederasi Kanada maupun Deklarasi Kemerdekaan AS.
Penolakan juga datang dari sejumlah gubernur AS di kawasan Great Lakes. Gubernur New York dari Partai Demokrat, Kathy Hochul, yang wilayahnya berbatasan langsung dengan danau tersebut, mengatakan negaranya tidak akan menggunakan nama yang diperintahkan oleh Trump.
Sejumlah kritikus Trump dari Partai Demokrat bahkan mengejek keputusan tersebut. Gubernur Illinois, JB Pritzker, secara satir mengatakan bahwa Trump Tower di Chicago seharusnya juga diganti namanya menjadi Natalie Tower, merujuk pada kontroversi yang melibatkan ajudan kepresidenan, Natalie Harp.
Menurut Center for Great Lakes Literacy, nama Ontario yang telah digunakan selama berabad-abad berasal dari kata Iroquoian "oniatarí", yang berarti danau dengan air yang berkilauan. Danau Ontario merupakan salah satu dari lima Great Lakes yang terletak paling timur dan merupakan bagian dari sistem air tawar terbesar di dunia, mengutip CNBC.
3. Trump sebut AS telah lama dirugikan oleh Kanada

Trump menunjukkan rincian tarif timbal balik AS. (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons) Trump mengatakan bahwa keputusannya pada Kamis bukan ditujukan sebagai pesan langsung kepada Kanada. Namun, Trump kembali menuduh negara tetangganya itu telah merugikan AS dalam hubungan perdagangan selama bertahun-tahun, dilaporkan oleh BBC.
Trump menyoroti defisit perdagangan AS dengan Kanada yang disebut mencapai sekitar 60 miliar dolar AS (setara Rp1.061 triliun). Para ekonom mencatat sebagian besar defisit tersebut berasal dari impor minyak Ottawa. Jika transaksi minyak tersebut tidak diperhitungkan, Washington justru mencatat surplus perdagangan yang cukup besar terhadap negara tetangganya di utara tersebut.
Trump juga mengklaim petani AS dikenai tarif hingga 400 persen ketika menjual produk ke Kanada. Namun, faktanya sekitar 97 persen ekspor produk pertanian AS ke Kanada sebenarnya masuk tanpa tarif berdasarkan perjanjian dagang AS-Kanada-Meksiko (USMCA). Ottawa hanya menerapkan tarif untuk sejumlah produk yang melewati kuota, termasuk telur, susu, dan produk olahan.



















