Pemerintah Inggris memperluas upaya pertahanan terhadap intervensi asing ke sektor pendidikan tinggi, yang kini dianggap sebagai aset strategis nasional yang rentan terhadap pencurian intelektual dan pengaruh ideologis. MI5 mendeteksi bahwa agen asing, khususnya dari China, aktif menggunakan situs jejaring profesional seperti LinkedIn untuk mendekati staf akademik dan mahasiswa melalui tawaran finansial guna mengarahkan mereka pada tindakan spionase atau penyensoran riset. Menteri Keterampilan, Baroness Jacqui Smith, memperingatkan bahwa reputasi global universitas Inggris menjadikannya target utama aktor musuh.
"Reputasi universitas kita yang berkelas dunia menjadikan mereka target utama bagi negara asing dan aktor musuh yang berusaha merusak reputasi tersebut dengan membentuk atau menyensor penelitian dan pengajaran," ujar Smith.
Sebagai langkah konkret, pemerintah meluncurkan Rute Pelaporan Gangguan Akademik yang didukung investasi sebesar 3 juta poundsterling (Rp68,8 miliar) untuk memfasilitasi pelaporan aktivitas mencurigakan secara langsung kepada dinas keamanan. Inisiatif ini juga mencakup layanan konsultasi dari Departemen Pendidikan guna membantu institusi mengenali metode canggih dalam manipulasi konten akademik atau pencurian hasil riset teknologi tinggi.
Menteri Keamanan Dan Jarvis menekankan bahwa sinergi antara sektor pendidikan dan intelijen sangat krusial dalam menjaga kedaulatan nasional.
"Kita harus memiliki pandangan yang jernih bahwa universitas-universitas kelas dunia dan proses demokrasi kita sedang ditargetkan oleh negara-negara yang ingin merusak cara hidup kita. Itulah sebabnya kami meluncurkan alat baru untuk membantu universitas mendapatkan dukungan dari pakar keamanan serta memastikan orang-orang di jantung demokrasi kita tahu cara melaporkan campur tangan asing," ujar Jarvis, dilansir The Straits Times.
Melalui langkah ini, pemerintah Inggris berkomitmen untuk melindungi integritas akademik dari segala bentuk sabotase eksternal.