Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

PM Inggris Minta Maaf karena Tunjuk Dubes yang Dekat dengan Epstein

PM Inggris Keir Starmer dan mantan Duta Besar Inggris untuk AS, Lord Peter Mandelson
PM Inggris Keir Starmer dan mantan Duta Besar Inggris untuk AS, Lord Peter Mandelson (Number 10, OGL 3 <http://www.nationalarchives.gov.uk/doc/open-government-licence/version/3>, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Starmer mengaku telah ditipu Mandelson
    • Kontroversi bermula saat Starmer menunjuk Mandelson sebagai Dubes AS pada Desember 2024.
    • Fakta baru terungkap melalui dokumen Departemen Kehakiman AS yang membuktikan Mandelson pernah menginap di kediaman mewah Epstein di Manhattan pada 2009.
    • Starmer menyadari kegagalannya dalam mendeteksi kebohongan Mandelson telah melukai perasaan para penyintas.
    • PM Starmer didesak untuk mundur
      • Skandal ini mengguncang stabilitas pemerintahan Partai Buruh yang baru berjalan 18 bulan, dengan jajak pendapat men
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Inggris, Keir Starmer, menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada para korban kejahatan seksual Jeffrey Epstein pada Kamis (5/2/2026). Pernyataan tersebut disampaikan menyusul terungkapnya skandal penunjukan Lord Peter Mandelson sebagai Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat (AS).

Dalam pidatonya, Starmer mengakui kesalahannya yang telah mempercayai Mandelson selama proses seleksi pejabat publik. Ia mengaku tidak tahu kedalaman hubungan sang diplomat dengan mendiang Epstein, yang ternyata jauh lebih kelam dari pengakuan awal yang diterima pemerintah.

1. Starmer mengaku telah ditipu Mandelson

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. (Arlington National Cemetery, Public domain, via Wikimedia Commons)
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. (Arlington National Cemetery, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kontroversi bermula saat Starmer menunjuk Mandelson sebagai Dubes AS pada Desember 2024. Kala itu, Starmer mengklaim telah menanyakan langsung perihal hubungan Mandelson dengan Epstein. Namun, Mandelson mengklaim relasi mereka sangat dangkal dan tidak signifikan.

Fakta baru terungkap melalui dokumen Departemen Kehakiman AS yang dirilis belakangan ini. Berkas tersebut membuktikan Mandelson pernah menginap di kediaman mewah Epstein di Manhattan pada 2009, ketika Epstein mendekam di penjara. Selain bukti kunjungan, dokumen memperlihatkan korespondensi email yang mengindikasikan adanya aliran pembayaran ribuan poundsterling dari Epstein kepada Mandelson. Bukti-bukti ini meruntuhkan klaim yang selama ini dipertahankan Mandelson di hadapan publik maupun otoritas seleksi.

Starmer menyadari kegagalannya dalam mendeteksi kebohongan Mandelson telah melukai perasaan para penyintas. Ia merasa bersalah karena korban harus kembali menyaksikan trauma masa lalu mereka menjadi konsumsi publik akibat kesalahan penilaian politiknya.

"Saya minta maaf karena telah mempercayai kebohongan Mandelson dan menunjuknya. Saya minta maaf karena bahkan sekarang Anda dipaksa untuk melihat kisah ini terungkap lagi di depan umum," ujar Starmer, dilansir The Guardian.

2. PM Starmer didesak untuk mundur

ilustrasi bendera Inggris.
ilustrasi bendera Inggris. (unsplash.com/simon frederick)

Skandal ini mengguncang stabilitas pemerintahan Partai Buruh yang baru berjalan 18 bulan, dengan jajak pendapat menunjukkan anjloknya kepercayaan publik. Pemimpin oposisi Partai Konservatif, Kemi Badenoch, menilai posisi Starmer saat ini sudah tidak dapat dipertahankan.

Ketegangan politik juga menjalar hingga ke internal Partai Buruh. Sejumlah anggota parlemen secara terbuka mengkritik kepemimpinan Starmer dan mendesak pertanggungjawaban atas penunjukan Mandelson.

Mantan direktur politik Starmer, Luke Sullivan, menyebut situasi yang dihadapi mantan bosnya itu sangat kritis. Starmer kini dianggap sedang bertarung mati-matian untuk menyelamatkan jabatannya dari ancaman mosi tidak percaya atau pemberontakan internal partai.

"Saya rasa Anda tidak bisa meremehkan betapa seriusnya situasi dan bahaya yang dihadapi perdana menteri saat ini," kata Sullivan, dilansir BBC.

3. Mandelson diduga bocorkan informasi pasar ke Epstein

Mantan Presiden AS Bill Clinton,  Jeffrey Epstein dan Ghislaine Maxwell
Mantan Presiden AS Bill Clinton, Jeffrey Epstein dan Ghislaine Maxwell (Ralph Alswang, White House photographer, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kasus ini telah merambah ke ranah pidana setelah Kepolisian Inggris membuka penyelidikan dugaan pelanggaran jabatan publik. Mandelson dicurigai membocorkan informasi pasar yang sensitif kepada Epstein saat ia menjabat sebagai menteri bisnis pada 2009, di tengah krisis keuangan global.

Pemerintah awalnya berniat menahan sejumlah dokumen sensitif terkait proses penunjukan Mandelson. Namun, desakan dari parlemen memaksa pemerintah menyerahkan dokumen-dokumen tersebut kepada Komite Intelijen dan Keamanan Parlemen (ISC) untuk ditinjau.

Meski Starmer berjanji akan membuka berkas pembuktian kebohongan Mandelson, proses ini terhambat oleh intervensi kepolisian. Pihak berwenang meminta penundaan perilisan dokumen agar tidak mengganggu pengumpulan bukti dalam penyidikan kriminal yang sedang berjalan, dilansir NYT.

Mandelson sendiri telah dipecat dari posisinya pada September lalu setelah gelombang bukti awal muncul ke permukaan. Hingga kini, ia menyangkal telah melakukan tindakan kriminal atau termotivasi oleh keuntungan finansial.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in News

See More

Gibran Tinjau Bencana Tegal, Pastikan Korban di Pengungsian Tertangani

06 Feb 2026, 15:31 WIBNews