Jakarta, IDN Times - Rencana Teheran mengenakan pajak terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz guna mengumpulkan dana rekonstruksi mulai menuai penolakan.
Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, menjadi sorotan global sejak Israel dan Amerika Serikat memulai perang terhadap Iran pada Februari 2026.
Sebelum konflik dimulai, jalur sempit yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia dari negara-negara Teluk dalam kondisi damai ini, bebas biaya dan aman bagi kapal. Selat ini dimiliki bersama oleh Iran dan Oman serta tidak termasuk kategori perairan internasional.
Setelah AS dan Israel melancarkan serangan, Iran membalas dengan menyerang kapal dagang yang dianggap sebagai ‘musuh’ di selat tersebut, yang secara efektif menghentikan seluruh lalu lintas, membuat kapal-kapal terjebak, dan memicu salah satu krisis distribusi energi global terburuk.
Dilansir dari Al Jazeera pada Jumat (10/4/2026), Teheran tetap menolak membuka kembali selat tersebut untuk semua kapal pada awal pekan ini, meskipun Presiden AS Donald Trump mengancam akan membombardir pembangkit listrik dan jembatan Iran jika tidak membuka akses. Trump kemudian menarik ancaman itu pada Selasa malam setelah gencatan senjata dua minggu yang dimediasi Pakistan diumumkan.
Kesepakatan itu menyusul proposal perdamaian 10 poin dari Iran yang disebut Trump sebagai dasar yang bisa diterapkan untuk negosiasi mengakhiri konflik secara permanen.
Sebagai bagian dari gencatan senjata, Teheran kini mengeluarkan syarat resmi yang akan menjadi pedoman pengendalian Selat Hormuz ke depan. Amerika Serikat belum secara langsung menanggapi syarat tersebut menjelang perundingan di Islamabad pada Jumat. Namun, para analis menilai kendali Iran yang berkelanjutan tidak akan disukai Washington maupun negara lain.
Selama krisis, hanya beberapa kapal dari negara yang dianggap bersahabat dengan Iran serta kapal yang membayar biaya yang diizinkan melintas dengan aman. Setidaknya dua pembayaran diketahui dilakukan dalam yuan China, yang diduga menjadi strategi untuk melemahkan dolar AS sekaligus menghindari sanksi. China sendiri membeli sekitar 80 persen minyak Iran dan telah lama membayar dengan yuan.
Berikut yang diketahui sejauh ini mengenai mekanisme pengiriman ke depan:
