Selama Gencatan Senjata AS-Iran, Kapal Dipunguti di Selat Hormuz

- AS dan Iran menyepakati gencatan senjata dua minggu yang mencakup rencana pungutan biaya transit kapal di Selat Hormuz, jalur penting bagi suplai minyak dunia.
- Presiden AS Donald Trump menangguhkan serangan ke Iran setelah mediasi Pakistan, memberi waktu dua minggu untuk merampungkan perjanjian pembukaan penuh Selat Hormuz.
- Iran dan Oman tengah menyusun protokol bersama terkait pemungutan biaya kapal, sementara perundingan lanjutan akan digelar di Islamabad membahas masa depan kawasan tersebut.
Jakarta, IDN Times – Amerika Serikat (AS) dan Iran telah menyepakati gencatan senjata berdurasi dua minggu yang memuat rencana pemberlakuan biaya transit bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz. Dalam skema ini, Iran bersama Oman diusulkan dapat menarik pungutan dari lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut.
Selat Hormuz berada di antara Iran dan Oman dengan lebar sekitar 34 kilometer pada titik tersempitnya. Jalur ini dilalui sekitar seperlima suplai minyak dunia serta berbagai komoditas penting lain, termasuk pupuk.
1. Konflik Selat Hormuz picu lonjakan harga minyak

Kesepakatan gencatan ini dirancang untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung selama 40 hari sejak pecah pada 28 Februari 2026. Selama periode tersebut, aktivitas di Selat Hormuz nyaris terhenti akibat serangan terhadap kapal yang mengganggu arus pelayaran dan memicu kenaikan harga minyak global.
Reuters melaporkan bahwa besaran biaya transit akan ditentukan berdasarkan jenis kapal, muatan, dan kondisi operasional. Dana yang diperoleh direncanakan Iran untuk memperbaiki infrastruktur pertahanan, administrasi, serta fasilitas sipil yang terdampak perang.
Dilansir Hindustan Times, Negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Qatar menolak usulan tersebut. Mereka menginginkan jalur pelayaran dibuka sepenuhnya terlebih dahulu sebelum membahas skema keuangan baru di kawasan itu.
2. Trump menangguhkan serangan ke Iran dua minggu

Presiden AS Donald Trump mengumumkan penghentian sementara serangan ke Iran selama dua minggu setelah adanya upaya diplomatik yang dipimpin Pakistan. Langkah ini disampaikan setelah sebelumnya ia mengancam akan menyerang infrastruktur penting Iran jika Selat Hormuz tak kembali dibuka.
“Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Field Marshal Asim Munir dari Pakistan, dan di mana mereka meminta agar saya menahan kekuatan destruktif yang dikirim malam ini ke Iran, dan tunduk pada kesepakatan Republik Islam Iran untuk PEMBUKAAN SELAT HORMUZ YANG LENGKAP, SEGERA, dan AMAN, saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran untuk periode dua minggu,” tulis Trump di Truth Social.
Trump menyatakan gencatan ini berlaku dua arah. Ia menilai AS telah melampaui target militernya dan melihat proposal 10 poin dari Iran sebagai dasar yang bisa digunakan dalam negosiasi lanjutan.
“Hampir semua berbagai poin perselisihan masa lalu telah disepakati antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, tetapi periode dua minggu akan memungkinkan Perjanjian untuk diselesaikan dan disempurnakan,” kata Trump, dikutip India Today.
3. Iran Oman susun protokol pemungutan biaya

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyebut Teheran sedang menyiapkan protokol bersama Oman terkait rencana pungutan tersebut. Ia menegaskan tujuan kebijakan itu untuk memperlancar arus kapal, bukan membatasi pergerakan.
Pembahasan lanjutan soal masa depan Selat Hormuz dan aspek penyelesaian jangka panjang akan dilakukan dalam perundingan antara AS dan Israel di Islamabad. Agenda ini menjadi bagian dari upaya diplomasi yang lebih luas terkait kawasan tersebut.
Sejak konflik dipicu serangan AS dan Israel terhadap kepemimpinan Iran, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami gangguan besar. Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) membatasi sebagian besar pergerakan kapal, sementara laporan yang belum terkonfirmasi menyebut ada kapal yang membayar hingga 2 juta dolar AS (setara Rp34 miliar) untuk melintas dengan aman.

















