Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Iran Hentikan Dialog dengan AS, Gimana Nasib Selat Hormuz?
Ilustrasi Peta tentara dan bendera Iran,Amerika Serikat dan israel
  • Iran menghentikan komunikasi tidak langsung dengan AS dan mengancam menutup Selat Hormuz serta Bab al-Mandeb sebagai tekanan terhadap Israel dan sekutunya.
  • Gencatan senjata antara Iran, AS, dan Israel semakin rapuh setelah serangan berbalas di Lebanon dan Gaza, memperburuk situasi diplomatik yang belum menemukan titik temu.
  • Ancaman penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak global lebih dari 7 persen karena kekhawatiran terganggunya pasokan energi dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Iran marah dan berhenti bicara sama Amerika. Mereka bilang mau tutup jalan laut yang namanya Selat Hormuz. Israel juga lagi perang di Lebanon, dan banyak orang takut minyak jadi susah dikirim. Harga minyak naik tinggi sekali. Sekarang semua orang di dunia cemas karena takut perang makin besar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, artikel ini menunjukkan bahwa setiap pihak masih menempatkan diplomasi sebagai kemungkinan terbuka. Meskipun Iran menghentikan dialog sementara, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran “ingin membuat kesepakatan” memperlihatkan adanya ruang bagi penyelesaian damai. Situasi ini menandakan bahwa komunikasi dan negosiasi tetap menjadi jalur yang diakui kedua belah pihak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Iran disebut tengah menyiapkan langkah besar sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata yang masih berlangsung. Kantor berita Tasnim, media yang berafiliasi dengan negara Iran, melaporkan bahwa Teheran akan menghentikan pertukaran pesan dengan Amerika Serikat melalui perantara dan bergerak untuk menutup sepenuhnya Selat Hormuz.

Laporan yang dipublikasikan melalui kanal Telegram Tasnim pada Senin itu berfokus pada operasi militer Israel di Lebanon terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Dalam laporan tersebut, Iran dan kelompok-kelompok yang disebut sebagai “front perlawanan” diklaim telah mengambil keputusan untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel dan para pendukungnya.

Tasnim menyebut tidak akan ada komunikasi lebih lanjut hingga Israel menarik diri sepenuhnya dari wilayah yang didudukinya di Lebanon serta menghentikan seluruh serangan di Lebanon dan Gaza. Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di berbagai front kawasan Timur Tengah.

Perkembangan tersebut langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak melonjak lebih dari 7 persen setelah laporan Tasnim beredar, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan yang lebih besar terhadap pasokan energi dunia.

1. Iran hentikan dialog dan ancam blokade jalur pelayaran strategis

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/MODIS Land Rapid Response Team)

Dalam laporannya, Tasnim menegaskan bahwa proses komunikasi dengan Amerika Serikat akan dihentikan sementara. Media itu mengutip posisi Iran yang menyatakan, “Tidak akan ada dialog sampai Israel memenuhi sejumlah tuntutan yang diajukan Teheran.”

Menurut laporan tersebut, tuntutan itu mencakup penarikan penuh Israel dari wilayah pendudukan di Lebanon serta penghentian seluruh operasi militer di Lebanon dan Jalur Gaza. Iran memandang perkembangan di berbagai wilayah konflik tersebut sebagai bagian dari satu kesatuan situasi keamanan.

Tasnim juga melaporkan bahwa Iran dan sekutunya telah mengambil keputusan untuk memperluas tekanan di jalur pelayaran internasional. “Selain itu, front perlawanan dan Iran telah memutuskan untuk sepenuhnya memblokir Selat Hormuz dan mengaktifkan front lain termasuk Selat Bab al-Mandeb, untuk menghukum Zionis dan pendukung mereka,” kata laporan media tersebut, dilansir dari CNBC, Selasa (2/6/2026).

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global, sementara Selat Bab al-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Kedua titik tersebut selama ini menjadi jalur penting bagi lalu lintas kapal dagang internasional.

2. Gencatan senjata kian rapuh

kapal AS membersihkan ranjau di Selat Hormuz (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons)

Laporan Tasnim muncul ketika upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik menghadapi hambatan baru. Menurut artikel tersebut, Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan akan menentukan sikap terkait kemungkinan kesepakatan dengan Iran dalam sebuah pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih.

Namun, pertemuan itu disebut berakhir tanpa keputusan akhir. Dalam beberapa hari setelahnya, Iran dan Amerika Serikat dilaporkan kembali melancarkan serangan satu sama lain, memperburuk kondisi gencatan senjata yang sebelumnya telah beberapa kali dilanggar.

Di saat yang sama, Israel juga meningkatkan operasi militernya di Lebanon. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan terhadap wilayah pinggiran Beirut yang berada di bawah pengaruh Hizbullah.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi turut menegaskan posisi Teheran melalui unggahan di platform X. Ia menulis, “Gencatan senjata antara Iran dan AS secara tegas merupakan gencatan senjata di semua lini, termasuk di Lebanon.”

Araghchi juga memperingatkan bahwa pelanggaran di satu wilayah konflik akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap keseluruhan kesepakatan. “Pelanggaran di satu front merupakan pelanggaran gencatan senjata di semua front. AS dan Israel bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap pelanggaran,” ujar Araghchi.

3. Ancaman di Selat Hormuz picu kekhawatiran dunia lebih dalam

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/OpenStreetMap)

Ancaman penutupan Selat Hormuz kembali menimbulkan kekhawatiran mengenai stabilitas pasokan energi global. Jalur laut tersebut selama ini menjadi salah satu rute paling penting bagi pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia ke pasar internasional.

Menurut artikel tersebut, ekspor minyak melalui Hormuz telah turun tajam dibandingkan periode sebelum perang akibat blokade yang dilakukan Iran. Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat tersebut.

Meski harga minyak sempat melemah dalam beberapa pekan terakhir karena optimisme terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan yang dapat membuka kembali jalur pelayaran, sentimen itu berubah setelah laporan terbaru dari Tasnim. Investor kembali mencermati risiko gangguan pasokan yang berkepanjangan.

Lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga dilaporkan masih jauh di bawah kondisi normal. Jika sebelumnya lebih dari 100 kapal dapat melintasi jalur tersebut setiap hari, kini hanya sebagian kecil kapal yang mampu melintas di tengah ancaman Iran dan langkah balasan dari Amerika Serikat.

Kekhawatiran lain yang muncul adalah kemungkinan Iran menerapkan sistem pungutan terhadap kapal yang melintas. Meski demikian, belum ada konfirmasi resmi terkait kebijakan tersebut.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Trump melalui unggahan di Truth Social menyatakan bahwa Iran masih ingin mencapai kesepakatan.“Iran benar-benar ingin membuat kesepakatan. Duduk santai saja, semuanya akan berjalan baik pada akhirnya, selalu begitu!” seru Trump.

Editorial Team

Related Article