Turki Resmi Jadi Dialogue Partner ASEAN

- Pertemuan ke-59 Menteri Luar Negeri ASEAN di Manila menetapkan Turki sebagai Dialogue Partner ke-12, sementara Jerman dan Qatar resmi menjadi Sectoral Dialogue Partner.
- ASEAN mengesahkan sejumlah dokumen penting, termasuk pernyataan bersama terkait situasi Timur Tengah dan pedoman baru kerja sama dengan negara pihak TAC.
- Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan pentingnya ASEAN menunjukkan hasil nyata bagi masyarakat serta menyelaraskan langkah menuju Visi Komunitas ASEAN 2045.
Jakarta, IDN Times - Pertemuan ke-59 Menteri Luar Negeri ASEAN (ASEAN Foreign Ministers’ Meeting/AMM) menyepakati sejumlah keputusan strategis untuk memperkuat hubungan eksternal organisasi, termasuk menerima Turki sebagai mitra wicara (Dialogue Partner) ke-12 ASEAN. Selain itu, Jerman dan Qatar resmi memperoleh status Sectoral Dialogue Partner.
Keputusan tersebut diumumkan Ketua AMM sekaligus Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa Lazaro usai sesi pleno di Philippine International Convention Center (PICC), Manila, Selasa (21/7/2026).
Menurut Lazaro, perluasan kemitraan itu menunjukkan meningkatnya kepercayaan komunitas internasional terhadap ASEAN sekaligus menjadi bagian dari implementasi Visi Komunitas ASEAN 2045.
Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan kredibilitas ASEAN ke depan tidak hanya ditentukan oleh luasnya jaringan kemitraan, tetapi juga kemampuan organisasi tersebut menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat kawasan.
“ASEAN telah membuktikan bahwa organisasi ini mampu berkembang. Sekarang pertanyaan yang lebih menantang adalah, apakah ASEAN mampu memenuhi janji-janjinya?” kata Sugiono dalam sesi pleno AMM ke-59.
1. Turki resmi jadi mitra wicara, Jerman dan Qatar naik status

Lazaro mengatakan para menteri luar negeri ASEAN menyetujui Turki sebagai Dialogue Partner ke-12 organisasi tersebut.
Sementara itu, Jerman dan Qatar diberikan status Sectoral Dialogue Partner. Menurut Lazaro, Jerman dinilai memiliki rekam jejak panjang dalam mendukung pembangunan komunitas ASEAN serta siap memperluas kerja sama di berbagai bidang.
Qatar juga memperoleh status yang sama karena dinilai semakin aktif menjalin kerja sama dengan ASEAN, mulai dari diplomasi, pembangunan, bantuan kemanusiaan, pendidikan, hingga konektivitas kawasan. Qatar juga telah bergabung dalam Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC).
Sugiono menyambut perkembangan tersebut. Menurutnya, penguatan hubungan eksternal ASEAN harus diarahkan pada kerja sama yang benar-benar menjawab kebutuhan kawasan.
“Kita harus membawa semangat yang sama dalam kemitraan dengan negara-negara mitra melalui kerja sama yang menjawab kebutuhan nyata, mulai dari respons krisis, ketahanan pangan, ketahanan energi, hingga penguatan rantai pasok,” ujar Sugiono.
2. ASEAN sepakati sejumlah dokumen penting

Selain memperluas kemitraan, para menteri luar negeri ASEAN juga mengesahkan sejumlah dokumen penting dalam pertemuan tersebut.
Salah satunya adalah ASEAN Foreign Ministers’ Statement on the Evolving Situation in the Middle East yang disepakati sebagai respons atas meningkatnya konflik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran.
Lazaro mengatakan pernyataan bersama itu diperlukan untuk memperkuat posisi kolektif ASEAN dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.
Selain itu, ASEAN juga mengesahkan Guidelines on the Modalities for Engagement of ASEAN with High Contracting Parties to the Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia, yang menjadi pedoman baru dalam memperkuat kerja sama politik, ekonomi, dan sosial budaya dengan negara-negara pihak TAC.
3. Indonesia minta ASEAN fokus pada hasil nyata

Dalam pidatonya, Sugiono mengingatkan, memasuki usia ke-60 ASEAN pada 2027, organisasi tersebut harus mampu menunjukkan manfaat konkret bagi masyarakat.
Indonesia juga mendukung penguatan mandat dan sumber daya ASEAN agar sejalan dengan target Visi Komunitas ASEAN 2045.
Selain itu, Indonesia menyambut diterimanya Turki sebagai Dialogue Partner ASEAN dan mendukung penyempurnaan arsitektur hubungan eksternal organisasi berdasarkan kriteria yang objektif.
“Dokumennya sudah lengkap. Pekerjaan sesungguhnya baru dimulai. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan seberapa jauh ASEAN telah melangkah, tetapi apakah masyarakat kita benar-benar dapat merasakan manfaatnya,” kata Sugiono.
Rangkaian AMM ke-59 masih akan berlanjut hingga 24 Juli dengan agenda pertemuan ASEAN bersama negara-negara mitra wicara, ASEAN Plus Three (APT), East Asia Summit (EAS), ASEAN Regional Forum (ARF), serta peringatan 50 tahun Treaty of Amity and Cooperation (TAC).
















