Dorong Perdamaian, Iran Usul Jadi Mediator Arab Saudi dan Houthi

- Iran menawarkan diri menjadi mediator antara Arab Saudi dan Houthi untuk mendorong perdamaian, melalui pembicaraan Menlu Abbas Araghchi dengan Menlu Saudi Faisal bin Farhan.
- Teheran menilai dialog langsung dan solusi politik lebih efektif daripada pendekatan militer, karena perang berpotensi memperumit konflik serta memperburuk ketegangan Timur Tengah.
- Konflik memanas setelah serangan Houthi di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, yang menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran menawarkan diri untuk menjadi mediator antara Arab Saudi dan Houthi. Langkah ini bertujuan untuk mendorong perdamaian antara Riyadh dan milisi Yaman tersebut. Sebab, konflik di antara kedua pihak kini semakin memanas. Dalam beberapa hari terakhir, keduanya semakin sering adu serangan.
Tawaran tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, saat melakukan panggilan telepon dengan Menlu Arab Saudi, Faisal bin Farhan, pada Minggu (11/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, Araghchi juga menyampaikan kekhawatirannya terkait eskalasi konflik antara Arab Saudi dan Houthi.
1. Diplomasi jadi jalan terbaik untuk akhiri konflik Arab Saudi dan Houthi

ilustrasi upaya diplomasi (unsplash.com/Markus Winkler) Araghchi menjelaskan bahwa diplomasi adalah jalan terbaik untuk mengakhiri konflik antara Arab Saudi dan Houthi. Araghchi mengaku lebih memilih memfasilitasi dialog langsung antara Arab Saudi dan Houthi daripada melihat keduanya terus berperang. Sebab, menurutnya, perang hanya akan memperburuk masalah, bukan menyelesaikannya.
“Bersikeras pada pendekatan militer dan mengabaikan solusi politik hanya akan semakin memperumit situasi,” kata Araghchi kepada Faisal, seperti dilansir Al Jazeera.
2. Perang Arab Saudi dan Houthi bisa memperburuk situasi di Timur Tengah

peta negara-negara Timur Tengah (pexels.com/Lara Jameson) Senada dengan Araghchi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismaeil Baghaei, juga mendorong solusi diplomatik untuk meredakan ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi. Sebab, jika keduanya terus berperang, situasi di Kawasan Timur Tengah bisa semakin kacau. Terlebih, situasi di Timur Tengah kini juga belum kondusif karena perang antara Amerika Serikat dan Iran serta perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.
“Kami tidak ingin permusuhan berlanjut antara dua negara Muslim, terutama karena kawasan ini sudah menghadapi ketegangan yang disebabkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Kami secara konsisten menekankan bahwa rakyat Yaman berhak untuk hidup bermartabat, bebas dari tekanan, sanksi, dan blokade,” kata Baghaei.
3. Konflik Arab Saudi dan Houthi memanas usai serangan di Bandara King Khalid

potret Bandara Internasional King Khalid, Arab Saudi (panoramio.com/liton islam via commons.wikimedia.org/liton islam) Konflik antara Arab Saudi dan Houthi sendiri semakin memanas usai serangan di Bandara Internasional King Khalid yang terletak di Riyadh. Serangan itu dilakukan Houthi pada Sabtu (10/10/2026) pekan lalu. Serangan tersebut dikabarkan menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.
Houthi sudah mengakui bahwa pihaknya adalah dalang utama di balik serangan di Bandara King Khalid. Oleh karena itu, dalam pernyataannya pada Minggu, Houthi mendesak Arab Saudi untuk segera menghentikan serangan terhadap pasukannya. Jika tidak, Houthi mengancam hal yang lebih buru dari serangan di Bandara King Khalid akan segera menimpa Riyadh.
"Kecuali musuh (Arab) Saudi menghentikan agresi dan campur tangannya di Yaman, yang lebih buruk akan terjadi, Insya Allah," jelas Kementerian Luar Negeri Yaman yang kini dikuasai oleh Houthi dalam pernyataan yang disiarkan oleh stasiun televisi Al-Masirah, seperti dikutip Jerusalem Post.





















