Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Netanyahu Dituding Dalang Pembajakan Pesawat Palsu demi Kompori AS
ilustrasi bendera Israel (pexels.com/Thắng-Nhật Trần)
  • Media Iran mengutip sumber anonim yang menuduh Benjamin Netanyahu merancang operasi false flag terhadap pesawat UEA untuk mendorong AS berperang melawan Iran, tanpa bukti independen.
  • Tuduhan itu mengaitkan dugaan rencana dengan tekanan politik Netanyahu menjelang pemilu Knesset serta upayanya memengaruhi Presiden Donald Trump dan Gedung Putih.
  • Pesawat Flydubai FZ1073 mendarat darurat di Tabuk setelah perselisihan di kokpit melukai dua pilot; 174 penumpang selamat dan otoritas Saudi membuka investigasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dituding merencanakan operasi pembajakan bendera palsu (false flag) terhadap pesawat komersial Uni Emirat Arab demi menyeret Amerika Serikat ke perang baru melawan Iran. Tuduhan tersebut mengemuka seiring penyelidikan otoritas Arab Saudi terhadap insiden perselisihan di ruang kemudi pesawat Flydubai rute Dubai menuju Tel Aviv.

Laporan media penyiaran Iran, Press TV, mengutip sumber regional tanpa nama yang mengklaim skenario tersebut dibahas saat kunjungan Netanyahu ke Uni Emirat Arab pada Minggu (27/9/2026). Rencana itu diklaim bertujuan mendorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil langkah militer terhadap Teheran.

1. Klaim pertemuan rahasia Netanyahu di Uni Emirat Arab

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (UK Government, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Sumber regional yang dikutip media penyiaran tersebut menyatakan bahwa Netanyahu mengunjungi Uni Emirat Arab tiga hari sebelum insiden penerbangan Flydubai berlangsung. Dalam kunjungan itu, Netanyahu disebut didampingi oleh beberapa pejabat senior militer serta intelijen Israel. Pertemuan yang melibatkan pejabat dari sejumlah negara Arab itu diklaim merancang operasi yang nantinya akan dialihkan tuduhannya kepada pihak Iran.

Dilansir Anadolu Agency, laporan tersebut bersumber dari pihak anonim tanpa menyertakan bukti apa pun untuk memperkuat klaimnya. Sampai saat ini, belum ada tanggapan resmi yang diberikan oleh pihak Israel, Uni Emirat Arab, maupun Amerika Serikat mengenai tuduhan itu. Di lain pihak, Kementerian Luar Negeri Iran secara terpisah menyatakan bahwa kehadiran Netanyahu di kawasan mengancam perdamaian dan keamanan kolektif.

Pejabat keamanan Iran Mohsen Rezaei turut memperingatkan pemerintah Abu Dhabi pada Rabu (30/9/2026) terkait penerimaan kunjungan yang mempertemukan Netanyahu dengan Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Rezaei mendesak Uni Emirat Arab agar "belajar dari perang terakhir, berhentilah menyulut peperangan". Sumber tersebut juga menambahkan bahwa Iran kini memantau pergerakan Amerika Serikat dan Israel guna bersiap menghadapi potensi permusuhan baru.

2. Tuduhan motif pemilu parlemen dan pengaruh ke Gedung Putih

ilustrasi pemilu (unsplash.com/Element5 Digital)

Sumber regional tersebut mengaitkan dugaan rencana pembajakan dengan kekhawatiran domestik Netanyahu menjelang pemilihan umum parlemen Knesset. Koalisi pemerintahannya diklaim berisiko gagal mengamankan kursi mayoritas yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan baru. Hal tersebut dinilai menjadi motif di balik upaya memicu ketegangan eksternal.

Kekalahan politik tersebut dipandang akan membawa konsekuensi hukum langsung bagi masa depan sang perdana menteri. "Dalam kasus itu, setelah disingkirkan dari jabatan perdana menteri, dia harus menghabiskan sisa kehidupan politiknya di balik jeruji besi," ujar sumber itu kepada Press TV. Klaim itu menyebut Netanyahu berharap memakai pengaruhnya terhadap Presiden Trump dan Gedung Putih guna memicu perang skala penuh melawan Iran.

Laporan tersebut menuduh Netanyahu berniat memanfaatkan persenjataan, ekonomi, serta merosotnya kredibilitas Amerika Serikat demi memulihkan posisi politik pribadinya yang sedang tertekan. Skenario itu ditudingkan untuk melibatkan Washington dalam aksi militer lanjutan melawan Teheran. Kendati demikian, seluruh narasi mengenai rencana tersebut sepenuhnya bertumpu pada pernyataan sumber tunggal tanpa verifikasi independen.

3. Fakta penyelidikan perselisihan di ruang kemudi Flydubai

ilustrasi ruang kemudi pesawat (unsplash.com/Jan Huber)

Tuduhan mengenai operasi provokasi ini mencuat sehari setelah pesawat Flydubai dengan nomor penerbangan FZ1073 melakukan pendaratan darurat di Arab Saudi pada Rabu (30/9/2026). Pesawat komersial yang mengangkut 174 penumpang dari Dubai menuju Tel Aviv tersebut terpaksa mendarat di Bandara Internasional Pangeran Sultan bin Abdulaziz di Tabuk. Insiden penerbangan itu sempat dilaporkan oleh media lokal Israel sebagai peringatan kemungkinan adanya pembajakan.

Pihak maskapai Flydubai mengonfirmasi bahwa "sebuah perselisihan terjadi di ruang kemudi" (flight deck) sebelum awak pesawat mengamankan situasi dan mengalihkan penerbangan. Otoritas bandara Arab Saudi melaporkan bahwa kapten pilot dan first officer mengalami luka-luka sehingga harus segera dilarikan ke rumah sakit. Meski demikian, seluruh penumpang beserta awak pesawat lainnya dilaporkan dalam kondisi selamat.

Pusat Keselamatan Transportasi Nasional Arab Saudi kemudian membuka investigasi resmi untuk menyelidiki rentetan peristiwa di dalam pesawat serta situasi yang menyebabkan pengalihan penerbangan tersebut. Flydubai juga mengumumkan penghentian sementara operasional penerbangan menuju dan dari Israel selama proses pemeriksaan berlangsung. Kebijakan itu diambil agar pihak berwenang dapat "mengungkap semua fakta seputar insiden tersebut".

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article